Ahmad Sofia Robbani, Aktifis yang Tetap Bisa Berprestasi

Aktif dalam kegiatan organisasi, namun tetap berprestasi. Itulah Ahmad Sofia Robbani.

Aktif dalam organisasi seringkali menjadi kegiatan selingan yang dilakukan para mahasiswa. Namun itu tidak berlaku bagi Ahmad Sofia Robbani Mereka. Ia sadar, bekal untuk tujuan ke dunia kerja bukan hanya bermoral akademik, tapi juga keterampilan berorganisasi.

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto (PBSI UMP) yang baru diwisuda ini aktif di berbagai organisasi. Bahkan ia masih aktif berorganisasi, meskipun sedang mengerjakan tugas akhir dan magang di Humas UMP.

“Di organisasi kita belajar bekerjasama dengan berbagai karakter manusia, dan kesempatan mengembangkan kemampuan berbicara saat di depan publik. Khusus belajar berbicara di depan publik, yang kemudian memberikan saya dua kali kesempatan untuk ikut lomba pidato tingkat provinsi mewakili UMP,” ungkap pria kelahiran Sirampog, Brebes, yang aktif berorganisasi sejak semester satu.

Berorganisasi baginya adalah tentang belajar banyak hal yang tidak sempat didapatkan di ruang kuliah. “Saya memiliki moto menjadi penting itu baik, tetapi menjadi baik jauh lebih penting. Sejak semester satu sudah ikut aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dari tingkat UKM, BEM, DEMA, HMPS,” ucapnya.

Pada tahun 2015, melalui sebuah pemilu raya ia mendapatkan amanah menjadi ketua umum Himpunan Mahasiswa Program Studi PBSI UMP. Mengelola lembaga eksekutif tingkat prodi dengan jumlah mahasiswa mencapai 300 lebih.

“Itu menjadi satu momentum yang sulit untuk dilupakan karena jujur tidak pernah ada pikiran untuk menjadi ketua umum. Bismillah, dengan modal itu dan sedikit pengalaman periode sebelumnya saya bersama teman-teman belajar menyatukan mimpi, dan merumuskan program kebermanfaatan,” ungkapnya.

Perjalanan selama memimpin HMPS PBSI tidak begitu saja dilewati dengan mudah, banyak rintang dan kendala yang ia dapatkan. “Tentu selama menjalankan amanah kadang dihadapkan pada masalah, tetapi berusaha selalu kembali mengingat tujuan cita-cita ketika awal pelantikan dulu,” ujarnya.

Keaktifannya di organisasi tidak membuat laki-laki itu melupakan tanggung jawab kuliah. Baginya, kesibukan di organisasi tidak boleh mempengaruhi kualitas perkuliahan. Keduanya bisa berjalan dengan beriringan tanpa saling mematikan satu sama lain.

“Dengan berorganisasi kita belajar manajemen waktu, selain itu aktivitas di organisasi memiliki andil dalam proses perkuliahan. Belajar untuk pandai menempatkan diri dalam mengoptimalkan waktu. Waktunya belajar kita harus konsisten belajar, waktunya berorganisasi punya komitmen dengan organisasi,” paparnya.

Menurutnya, dari sekian banyak anak muda di Indonesia, tidak semua mampu merasakan pendidikan hingga perguruan tinggi. “Ini merupakan karunia yang Allah berikan kepada kita, memiliki kesempatan mengenyam pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Maka saya mencoba menggunakan kesempatan ini dengan baik,” kata Bani, sapaanya.

Di UMP, lanjut Bani, mendapatkan ruang untuk berekspresi, belajar berkontribusi. Ini pula yang pada akhirnya membuat Bani belajar memahami bahwa rencana Allah itu jauh lebih baik.

“Pada perjalanan, akhirnya saya sadar ketika takdir ini mengantarkan saya untuk kuliah di UMP, Allah telah menyiapkan skenarionya. Ada ruang interaksi, penumbuhan yang mungkin saja tidak didapatkan ketika saya memaksa di tempat lain,” pungkasnya. [BNC/tgr]

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.