Bagaimana Cara Memperoleh Ilmu Ilhami? | Dari Kopdar Ngaji Ihya di Purwokerto

Ada dua jenis ilmu: ilmu taklimi dan ilmu ilhami. 

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Kopdar Ngaji Ihya bareng Ulil Abshar Abdalla yang diadakan di Purwokerto, Sabtu (9/9/2017) malam, antara lain membahas tentang pembagian ilmu menurut Imam Al Ghazali.

Hal tersebut berkaitan dengan pengertian qalbu menurut Al Ghazali. Qalbu manusia punya keajaiban-keajaiban yang luar biasa. “Qolbu dalam bahasa kita biasa dimaknai hati (isyarat hati ke dada). Tapi yang dimaksudkan oleh Al Ghazali adalah dua sekaligus, yakni hari dan pikiran”, kata Ulil.

Keajaiban qolbu itu menunjuk pada kemampuannya sebagai alat untuk menangkap ilmu pengetahuan.

Ulil menguraikan ada dua jenis ilmu. Pertama, ilmu taklimi yang dipelajari secara biasa. Ilmu ini diperoleh dengan mendengarkan guru, mempelajari kitab, ada kelas, sekolah, fakultas atau program studi di universitas, dan seterusnya.

Yang kedua ilmu ilhami. Ilmu ini diraih dengan cara mujahadah, dengan berkhalwat, dzikir, meditasi, dan menahan hawa nafsu (jalan menjauhi segala yang berhubungan dengan keduniaan). Dalam bahasa pesantren laku itu disebut ‘njungkung’.

Ilmu Ilhami ini diturunkan dan berasal dari Lauhul Mahfudz. Dikatakan, ada sekat (pembatas) yang menghalangi antara manusia dengan lauhul mahfudz. “Nah dengan cara mengurangi hubungan-hubungan dengan segala sesuatu selain Allah, dengan cara ‘njungkung’ tadi, maka sekat dengan lauhul mahfudz itu akan tidak lagi membatasi”, lanjutnya.

Tidak adanya pembatas ini, bagi mereka yang memperoleh ilmu ilhami, akan mengabarkan kepada manusia lain ilmu-ilmu yang diperolehnya. Sementara Allah sendiri yang ‘mewartakan’ kepada ‘langit’ (malaikat) orang-orang yang memperoleh ilmu ilhami.

Lauhul mahfudz secara harfiah berarti papan yang terjaga, diibaratkan Ulil sebagai “gudang penyimpanan ilmu”. Ibarat data-data yang tersimpan di cloud di era internet sekarang ini, kalau mau mendapatkan data itu harus dengan cara men-download.

“Bagaiamana men-download ilmu dari lauhul mahfudz itu, maka sinyalnya harus kuat. Untuk mendapat sinyal yang kuat, ialah dengan cara ‘njungkung’ itu tadi, sehingga tidak ada lagi sekat”, lanjutnya.

Ngaji Ihya bareng Gus Ulil di Padepokan KH Abbas Muin itu juga dihadiri Kang Tohari, budayawan Banyumas yang datang atas ‘request’ Ulil. Isteri Ulil, Ienas Tsuroiya, juga setia menemani Ulil.

Ienas lah yang mengusulkan kepada suaminya agar pengajian Ihya yang semula didedikasikan untuk dokumen pribadi itu disiarkan secara live di facebook agar memberi kesempatan kepada yang ingin menyimak. Di luar dugaan, kata Ienas, ngaji Ihya yang dimulai pada Ramadhan lalu itu banyak diminati, sehingga berlanjut hingga sekarang. (BNC/puh)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.