Lelaki Air Mata Ikan | Cerpen Nanang Anna Noor

WARNA air mata itu perlahan berubah merah membalut onggokan tubuh yang sudah tak berdaya. Akhirnya kami kembali terkapar mati dalam lautan darah. Kamu sang penjagal, berhentilah membunuhi kami. Suara itu terus menteror telinga Parmin, hingga tubuhnya bergetar, terhuyung-huyung lalu jatuh setelah kakinya terpeleset gumpalan lendir yang menelikung kakinya. Sorot matanya seperti ketakutan melihat pemandangan itu. Parmin berusaha bangkit ingin segera menjauh dari tempat itu.

Lelaki setengah baya itu menutup telinganya rapat-rapat sembari terus merangkak. Suara jerit kesakitan dan meminta tolong terdengar jelas di telinganya. Tak kuat melihat mayat yang bergelimpangan di depannya, Parmin berusaha menutup matanya dengan kedua piring yang sejak tadi berada di atas meja.

Tetapi piring kaca berwarna gelap itu bukannya menghalangi pemandangan itu, tetapi justru menjelma menjadi kaca pembesar. Hingga mayat-mayat itu seperti hidup kembali. Mereka bergerak-gerak disertai suara jeritan dan raungan yang menyayat dan memekakan telinga. Parmin tak kuat, nafasnya tersengal, Tubuhnya kembali terhuyung dan jatuh tepat didepan pintu.  Hingga akhirnya sepasang tangan menanting dan menuntunya kembali ke kamar.

Sudah tak terhitung lelaki itu terjatuh. Sudah berapa kali pula sepasang tangan mulus dengan lengan penuh gelang emas itu terus berusaha menolongnya. Wanita itulah yang dianggap Parmin telah menjadi Dewi Penolong saat peristiwa-peristiwa tragis itu terjadi. Neni, wanita itu, masih setia mendampingi Parmin meski tubuh suaminya itu terus melemah.

“Kang, rika kudu tetep urip. Cepet sembuh terus kerja maning, Usaha kita lagi murub kang. Lagi  menuju kesuksesan”, suara Neni memberi semangat suaminya yang terbaring di kasur.

Parmin tak menjawab, sorot matanya masih kosong. Meski tak bisa mengungkapkan, Parmin mengerti hampir genap sebulan ini istrinya cemas. Wanita yang mendampinginya delapan belas tahun lalu ini sangat bersemangat agar dia bisa segera sembuh. Neni yang usianya jauh terpaut dengan Parmin tampak sangat setia.

Wanita yang telah memberinya satu anak lelaki yang kini duduk di SMA itu berjuang bersama sejak masa pacaran hingga menikah. Parmin yang banyak duit itu menemukan Neni di lokasi karaoke. Seorang gadis pemandu lagu yang sedikit binal. Orang tua dan teman dekat Parmin sempat melarang berpacaran dengan gadis itu.

Kabarnya Neni tak sekedar pemandu lagu, tetapi juga kerap dibawa lelaki berduit. Neni diramalkan gak bakal mau menemani Parmin berjualan ikan di pasar. Wanita itu sepertinya lebih menyukai berada di ruang-ruang gemerlap dan ber-AC.

Ternyata tidak. Neni malah sangat setia menemani Parmin di pasar. Bahkan wanita cantik berkulit kuning langsat itu sepertinya tak canggung membantu menangkapi ikan-ikan lele yang licin itu. Saat sedang banyak pembeli, Neni bahkan ikut mematikan ikan itu dengan cara memukul-mukul kepala lele.

Di samping kolam kecil di dalam los pojok pasar, tangan Parmin dan istrinya sangat akrab dengan alat pemukul terbuat dari batu yang kerap digunakan untuk memukul kepala ikan. Setelah ikan itu pingsan, kemudian ditimbang dan dimasukkan ke dalam kantong kresek. Para pembelipun cukup mengikat kresek kuat-kuat agar ikan lele yang belum mati itu tak bisa keluar.

Begitulah seharian, suami istri ini mencari nafkah. Mereka boleh dibilang sukses. Salah satu yang tampak di mata adalah gelang, kalung dan cincin yang terlihat mencolok, apalagi jika sinar matahari tepat memantulkannya.  Para pelangganpun begitu kagum melihat pasangan suami istri itu sangat kompak saat melayani para pembeli.

***
Tetapi kenapa Parmin tiba-tiba meminta berhenti menjadi penjagal ikan lele. Neni terkejut mengetahui keputusan yang mendadak itu. Parmin tiba tiba menjadi aneh dan menolak berjualan ikan lagi.

“Kang usaha kita ini lagi murub, lagi sukses, kenapa mandek kang,” pertanyaan Neni itu sudah dilontarkan puluhan kali, tetapi Parmin tetap pada keputusannya.

Tak mendapat jawaban dari suaiminya, Neni berusaha mencari tahu di luar. Hingga akhirnya Neni tahu penyebab suaminya tidak mau bekerja lagi. Parmin pernah bercerita kepada temannya di Mushola yang tak jauh dari pasar, bahwa belakangan lelaki itu tiba-tiba merasa berdosa setiap usai menenjagal ikan-ikan lele itu.

Perasaan berdosa dan bersalah itu terus menghantui hingga kerap terbawa mimpi. Parmin sengaja menyembunyikan perasaan itu dari istrinya. Mungkin belum tepat waktunya untuk memberi tahu kepada Neni.

“Oh jadi itu Kang yang membuat kamu ‘gak mau jualan ikan lagi? Kang, rika kiye kudu takon maring ustade. Justru kematian ikan-ikan itu lebih baik dengan cara seperti itu,“ Neni mencoba manasehati, meskipun kalimat itu dikutipnya dari seorang teman di pasar.

“Ya Nen, bener, aku sudah tanya pada ustad,…..tapi”,  kalimat Parmin terputus karena tiba-tiba  tangannya bergetar.

Parmin kembali membentur-benturkan tangan itu ke tembok. Neni tak bisa berbuat banyak. Tangan suaminya kembali diikatkan ke tiang ranjang.

***

Meski sudah berangsur sembuh, namun hampir enam bulan Parmin tak mau bekerja. Neni terpaksa berangkat sendiri ke pasar. Namun belakangan wanita itu mulai jarang berjualan. Warga pasar justru sering melihat wanita muda beranak tiga itu duduk-duduk di salon tak jauh dari los pasar ikan. Bahkan tersiar kabar lagi, bahwa Neni kerap dibawa seorang pria muda.

Kabar inilah yang kemudian sampai ke telinga Parmin. Dada pria bertubuh gempal ini bergejolak. Muka lelaki itu tak bisa menyembunyikan kecemburuannya. Kepalan tangannya gemeretak, matanya merah.

Saat Neni pulang, Parmin menahan diri berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya. Parmin mulai menyelidik. Pria yang sempat kecewa karena saat menikah Neni sudah tidak perawan lagi itu terkejut. Gelang di tangan dan kalung yang dibelikannya sudah tak terlihat lagi.

“Sudah aku jual Kang, maklum kita sudah bukan orang kaya lagi. Kita butuh uang untuk makan setiap hari,“ Neni dengan cepat membaca maksud pikiran suaminya yang sejak tadi memperhatikan lengan dan lehernya.

Parmin melihat perubahan yang cukup banyak pada istrinya. Bahkan wanita itu mulai berani menghardik, saat Parmin berusaha meminta penjelasan. Kali ini, Parmin terpancing. Mukanya merah seperti ingin menerkam istrinya.

“Dan kamu melampiaskan kekecewaanmu dengan berselingkuh. Bercinta dengan lelaki yang sepantaran dengan anakmu,” Parmin tak bisa menahan diri dan menelanjangi semua rahasia istrinya.

Diam-diam Parmin berhasil mengorek kisah-kasih istrinya dengan seorang pria yang lebih pantas disebut anaknya. Tetapi pemuda itu terlihat seperti anak orang kaya, dengan mobil sedan dan sesekali sepeda motor besar yang kerap membawa Neni melayang dalam pergumulan terlarang.

“Dasar PL, pelacur, perempuan materialistis“.

Parmin mengumpat dengan kata-kata yang sama sekali tak pernah keluar dari mulutnya. Tetapi kalimat itu tak pernah didengar Neni yang setiap pagi bergegas pergi. Parmin tahu persis, istrinya bukan pergi ke pasar ikan.

***
Entah kenapa, Parmin tiba-tiba ingin kembali berjualan ikan. Rasa dendamnya telah melumat habis rasa dosa yang pernah dirasakannya. Wajahnya tegang, tangannya kembali memainkan golok yang baru diasahnya. Parmin kembali menjadi penjagal para ikan-ikan itu.

Sejumlah pedagang memandangi Parmin yang terlihat aneh. Tak biasanya lelaki itu datang tanpa basa-basi dengan sesama penjual ikan. Seperti tak memperdulikan orang di sekitarnya, Parmin kembali menangkapi ikan dan memukuli kepala binatang itu. Kali ini tak hanya pingsan, tetapi kepala ikan itu remuk hingga mati.

Sejumlah pedagang di los pasar itu lagi-lagi dibuat heran. Parmin terus memukuli kepala-kepala ikan itu tanpa berhenti. Sudah seratus lebih ikan itu mati dengan kepala pecah penuh darah. Beberapa pembeli tak dihiraukannya, Parmin terus menangkap dan menjagal hingga kolam tersebut airnya berubah merah.

Bahkan, seorang pemuda berseragam abu-abu putih yang berada di depannya tak dihiraukan. Pemuda yang tak lain si Bagus, anak satu-satunya itu terdiam melihat ulah ayahnya. Bagus tahu persis apa yang sedang dialami bapaknya. Ibunya telah berselingkuh dengan laki-laki se- usianya. Bahkan Bagus tahu persis lelaki yang telah merebut ibu dari ayahnya itu. Lelaki yang lebih muda dari ibunya. Lelaki berseragam penarik restribusi pasar.

Setelah terdiam sejenak, Bagus kemudian bergegas meloncat ke atas motor dan memutar keras-keras gas hingga suaranya meraung-raung, sama kerasnya dengan suara gemeretak giginya. Motor Bagus meluncur cepat meuju sebuah kantor yang berada di sudut pasar.

***
Di los pasar ikan, mata Parmin tertuju pada ikan lele muda yang berada di sampingnya. Tangan kekar lelaki itu langsung mencengkramnya. Kepala ikan itu dipukul dan ditandaskan di talenan yang sejak tadi tidak dipakainya. Kepala ikan itu pecah. Darahnya kembali muncrat mengenai mata Parmin. Parmin tak perduli, meski didengarnya suara ikan lele muda itu menjerit kesakitan. Ikan ini berkali-kali memohon kepada Parmin agar tak membunuhnya, namun suara itu tak digubris lelaki yang seperti tengah kesetanan tersebut.

Parmin tetap seperti tak mendengar suara apapun. “Modar…  ko… modar,” geram Parmin sembari memukuli kepala ikan hingga darahnya muncrat ke mukanya.

Lelaki ini matanya berubah merah. Ikan yang tergelepar itu kemudian dibanting berkali-kali hingga tubuh ikan terlempar ke aspal di jalan raya. Parmin memburu ikan lele muda yang sudah tak berdaya itu. Mencengkram dan kemudian memukulnya dengan batu yang ditandaskan ke aspal. Bersamaan dengan itu tubuh Parmin terlempar. Sebuah truk menabrak bokongnya. Parmin sempat melihat kepala ikan muda itu berdarah-darah.

Dua orang perawat terburu-buru mendorong kereta ranjang yang membawa Parmin ke ruang IGD. Berkali-kali pria yang baru saja melampiaskan kekesalannya itu mengusap mata. Parmin melihat dua ranjang di sebelahnya yang berisi dua mayat. Pakaian kedua mayat ini seperti bekas sayatan benda tajam. Mungkin keduanya usai berkelahi. Dilihatnya dengan jelas seorang lelaki berseragam pegawai pasar dan pemuda berseragam abu-abu putih. Kepala keduanya berlumuran darah. Parmin menjerit memanggil nama anaknya. Tak terasa air matanya mengucur deras dan kali ini berlendir serta terasa sangat asin.***

Nanang Anna Noor, tinggal di Ajibarang Kulon, Ajibarang Banyumas. Selain menulis cerpen, adalah penyair dan pesinetron. Email nanangnews@yahoo.com. #nanangannanuran

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.