Lakon Molek Ngglatek Ketemu Dewek Juara 2 FK Metra Jateng

BanyumasNews.com, SEMARANG – Lakon Molek Ngglatek Ketemu Dewek yang dibawakan Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) Purbalingga binaan Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga, berhasil meraih juara II tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Lomba yang diikuti 9 finalis FK Metra se-Jateng digelar di panggung budaya Pusat Rekreasi dan Promosi Pembangunan (PRPP) di Semarang, Minggu (20/8/2017) malam. Sebelumnya, pada babak penyisihan yang digelar di Kabupaten Brebes, FK Metra Purbalingga  berhasil meraih juara I.

Dalam babak final tersebut, juara I diraih Kabupaten Karanganyar, sedang juara III diraih perwakilan FK Metra Kabupaten Rembang. Juara Harapan I – III  masing-masing diraih Kabupaten Pekalongan, Grobogan, dan Kabupaten Magelang.

Jangan Korupsi

Lakon ‘Molek Ngglatek Ketemu Dewek’ menyesuaikan dengan tema yang diminta oleh panitia dari Dinkominfo Jateng ‘Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi’.

Sutradara pementasan Sutarko Gareng mengungkapkan, lakon ‘Molek Ngglatek Ketemu Dewek’ menyiratkan makna jika seseorang pejabat atau pelayan masyarakat yang memiliki wewenang dan menyalahgunakannya, serta bersikap koruptif, akhirnya akan menanggung akibatnya sendiri.

Tim FK METRA Purbalingga

Mereka harus menghadapi tuntutan tindak pidana dan harus menanggung akibat untuk dipenjara. “Lakon itu kami sesuaikan dengan tema seleksi final FK Metra tingkat Provinsi Jawa Tengah,” kata Sutarko yang juga Kepala SDN 1 Sidareja, Kecamatan Kaligondang.

Cerita itu mengisahkan seorang istri seorang Kepala Urusan (Kaur) Kelurahan, yang mengeluhkan kondisinya yang dirasa kurang sejahtera dan tidak membahagiakan. Padahal, saat menikah dengan pejabat kelurahan, dia membayangkan bakal hidup berlebih.

Namun apa daya, semua itu tidak terwujud, karena penghasilan yang diterima suaminya tak cukup untuk membeli barang yang diinginkannya. Seperti kalung dan gelang emas, serta handphone canggih.

Tak betah berlama-lama menderita, dia menuntut suaminya agar bisa membelikan benda yang diinginkannya. Permintaan itu pun didukung anak perempuannya yang sudah remaja.

“Pokokke kepriwe carane sore iki inyong kudhu nduwe,” ujar si istri dengan logat ngapak Banyumasan yang khas.

Gerah dengan tuntutan istrinya, Pak Kaur pun goyah. Dia yang semula tak mau menerima uang tambahan dari warganya, mulai mempersulit pengurusan administrasi di kampungnya. Mereka yang memberikan uang pelicin akan mendapat pelayanan lebih dengan percepatan pengurusan administrasi.

Hingga suatu saat, warga melapor pada Lurah, dan Kaur pun mendapat teguran keras karena telah melakukan pungutan liar (pungli). Warga yang memberikan uang pun memeroleh teguran yang sama karena membuka peluang korupsi.

Melalui lakon itu, lanjut Sutarko, ia ingin mengajak kepada para pejabat untuk mematuhi aturan agar tidak melanggar tindakan korupsi, seperti yang tertuang pada Undang-undang nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah dirubah dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

“Yang menerima suap dan yang menyuap juga sama-sama harus menanggung akibat hukum, oleh karenanya masyarakat juga jangan sampai melakukan perbuatan yang melanggar undang-undang,” ujar Sutarko. (BNC/PI-6)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.