Satu Milyar Rupiah | Cerpen oleh Puji Ambarwati

KIDIN berkali kali mengerutkan dahinya. Matanya sesekali menerawang ke atas dan kemudian jarinya tampak seperti menghitung-hitung. Beberapa kali temannya yang tengah asyik main gaple memanggil, tak didengarnya.

Kidin seperti asyik menghitung-hitung. Sesekali tersenyum, tetapi juga terkadang serius. Tangannya kembali memainkan jari. Sekilas dari jauh, orang mengira Kidin tengah bertasbih.
“Yang terpenting hutang-hutang dilunasi semua. Biar ayem dan hidup tidak dikejar-kejar rentenir dan depkolektor,” Kidin tersenyum puas.

“Setelah itu baru dipikirkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari… eh anu beli rumah dan mobil dulu apa yah. Tapi nanti orang jadi curiga kalau saya mendadak jadi orang kaya,” Kidin mengerutkan dahi, seperti berpikir keras.

Tubuhnya beranjak dari gardu yang berada di sisi pangkalan ojek, Kidin bolak balik sembari jari telunjuknya menempel di jidat. Dua temannya yang tengah asyik main gaple membiarkan lelaki berusia sekitar 45 tahun itu dengan keganjilannya.

Kidin memang berpikir keras bagaimana memakai uang sebanyak itu. Satu Milyar Rupiah bukanlah uang sedikit. Uang itu harus dipakai dan diatur sebaik mungkin. Terutama untuk melunasi utang-utang seperti kredit motor yang tak kunjung lunas.

“Akan saya buat depkolektor motor itu pingsan dengan kulunasi semua cicilan yang tinggal sebelas bulan itu. Breg…nih uang kulunasi semua,” teriak Kidin saat membayangkan depkolektor itu berada di depannya.

Paling-paling untuk melunasui cicilan motor 500 ribu kali 11 bulan, kehitung cuma 5 juta 500 ribu rupiah. Itu baru sepersekian dari Satu Milyar Rupiah.
“Untuk melunasi cicilan rumah, pinjaman sama rentenir pasar, hutang di warung Yu Evi, hutang ke Marnoto paling habis sekian. Saya masih punya sekitar 800 juta rupiah. Uang ini akan aku gunakan beli mobil, tapi nanti nunggu agak lama biar tetangga tidak curiga”.

Kidin juga berencana membeli sawah dan kebun yang berada di desa, biar murah. Ada juga rencana membeli toko yang berada di komplek terminal. Paling 200 juta juga sudah dapet yang bagus. Uang masih 600 juta.

“Ah ya berarti uang masih tersisa sekitar 300 jutaan. Sisanya nanti rencana buat beli motor baru kedua anakku”.

Kidin kembali berpikir, ”Gimana kalau aku punya istri lagi yah”. Kidin tersenyum sendiri sembari memandang ke langit yang malam itu tanpa sinar bulan. Ah jangan, kasihan, istrinya Kidin tergolong wanita yang sangat setia.

Kidin kembali menghitung jari. Jika digunakan semua, berarti uang tinggal sekitar 100 jutaan. Saat tengah berpikir keras, seorang pria bersorban menegurnya.

“Assalamualaikum mas-mas,” ujar Ustad Mukorobin yang saat itu lewat di gardu ronda.

Kidin seperti tersentak dan langsung mendekati ustad tersebut.

“Eeh Pak Ustad saya mau tanya, kalau nyumbang untuk panti asuhan atau anak yatim piatu harus berapa juta ya pak,”

“Waduh terima kasih mas Kidin, Alhamdulillah punya niat membantu panti asuhan kami. Seikhlasnya saja mas,” jawab ustad.

Kidin menunduk menghitung-hitung jari. “Saya juga harus menabung untuk persiapan biaya sekolah dan keadaan darurat.” Kidin berpikir. Kalau dihitung hitung sisa uang tinggal 50 jutaan.

Melihat lelaki di depannya terdiam, ustad kemudian meminta Kidin mengantarkannya ke masjid. Sekalian bisa melihat panti asuhan yang berada di samping masjid.

“Ayo mas Kidin, sekalian lihat panti asuhan kami”.

Tanpa menjawab, Kidin langsung menstater motornya mengantar ustad tersebut ke masjid. Kidin masih terdiam, pikirannya seperti menerawang sembari melihat bangunan panti asuhan milik Ustad Mukorobin. Lamunan itu membuat Kidin tak menyadari tangan ustad saat menyodorkan uang lima ribuan kepadanya.

“Ini ongkos ojeknya mas Kidin,” ujar Ustad.

“Oh jangan-jangan Pak Ustad, saya ikhlas mengantar kok,” Kidin menolak pemberian Ustad.

“Kalau 50 juta cukup ‘ndak Pak saya menyumbang panti asuhan ini”.

Ustad terkejut sambil memandangi Kidin agak lama. Buru-buru, tokoh agama di desa itu menjawabnya, “Ndak apa–apa, itu lebih dari cukup mas. Ee… kapan mas Kidin rencananya mau menyerahkan uang itu. Nanti biar kami rapatkan dengan pengurus panti asuhan,” ujar Ustad nampak gembira.

Namun kegembiraan ustad mendadak berubah saat Kidin tiba-tiba meminta maaf. “Setelah saya pikir-pikir maaf Pak Ustad bukan maksudnya saya mengecewakan. Untuk menyumbang panti asuhan saya tunda dulu. Masih banyak kebutuhan yang belum terpenuhi“, ujar Kidin agak sedikit malu.

Melihat lelaki di depannya menunduk, Ustad memegang pundak Kidin dan berusaha menenangkan.

“Tidak apa-apa kok. Mas Kidin sudah punya niat membantu saja itu sudah merupakan niat yang mulia. Mungkin suatu hari nanti niat itu bisa kesampaian,” tutur Ustad.

Kidin tak mau berlama-lama dan langsung menstater motornya pergi dari tempat tersebut. Dalam perjalanan pulang Kidin merasa tubuhnya sangat ringan. Seperti ada yang hilang. Kidin berusaha mencari tetapi sungguh sulit mendapatkanya kembali. Seperti menangkap kapas.

“Uang Satu Milyar itu mana?”. Kidin setengah berteriak. Tangan Kidin menggapai-gapai angin. Keringatnya mengucur deras dan terus memburu sesuatu yang hilang.

Kidin terjatuh dari motor. Seingatnya, dia berada di sebuah tempat seperti rumah sakit. Di sekeliling ranjangya tampak istri dan empat anaknya serta beberapa anak dengan kepala berkopyah dan seorang Ustad yang tak lain Ustad Mukorobin.

“Anak-anak panti ini yang menolong mas Kidin saat terjatuh dari motor,” Ustad Mukorobin mengelus salah satu kepala anak-anak tersebut.

Melihat suaminya sudah tersadar, istri Kidin tiba-tiba menyeruak dan langsung bertanya kepada Kidin.

“Mas memang kamu dapat uang dari mana sebanyak itu dan katanya mau menyumbang panti asuhannya Ustad Mukorobin,” istrinya heran.

Boro-boro menyumbang panti asuhan, hidup keluarga Kidin saja kembang kempis. Kidin hanya seorang tukang ojek dengan motor kreditan. Sementara istrinya hanya seorang babu. Istri Kidin sudah menceritakan semua kondisi keluarganya kepada ustad tersebut.

“Tapi punya niat baik itu ‘khan lebih mulia daripada sama sekali tidak punya niat ya Pak Ustad,” suara Kidin terdengar lirih.

“Lalu uang dari mana”, istrinya bertanya lagi.

Dari mulut Kidin meskipun lirih tapi jelas suaranya terdengar. “Saya sejak kemarin membayangkan jika saya dapat uang Satu Milyar Rupiah, Bu,” ujar Kidin.

Ustad memandangi Kidin dengan tersenyum. Sementara istrinya terlihat malu. Istri Kidin sangat tahu persis kebiasaan suaminya setiap hari, yaitu melamunkan ‘jika mendapat uang Satu Milyar Rupiah’. *******

Keterangan: Depkolektor = debt collector; foto ilustrasi yang dari google plus.

Puji Ambarwati, Guru Bahasa Indonesia di SMK N Purwojati, Kabupaten Banyumas, Jateng.

Puji Ambarwati

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.