‘Kalau Koruptor Meninggal Dunia, Tidak Usah Takziah’ | Tabligh Akbar dan Bedah Buku Jihad Melawan Korupsi

 

BanyumasNews.com, PURWOKERTO – Jika ada orang meninggal dunia dan diketahui orang tersebut adalah koruptor, tidak usah melayat atau takziah. Biarkan keluarganya yang mengurus jenazahnya, karena ini hanya fardhu kifayah.

Demikian salah satu closing statement DR. Abdullah Hehamahua, mantan penasehat KPK 2005-2009, saat menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar dan Bedah Buku “Jihad Melawan Korupsi” yang diadakan oleh Panitia Amaliyah Ramadhan (PAR) Masjid Agung Baitussalam, Purwokerto, Minggu (21/05/2017) pagi.

Mantan pengurus PB HMI periode 1979-1981 itu juga mengatakan, masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan korupsi dengan menanamkan budaya anti korupsi serta berpartisipasi aktif, misalnya dengan pelaporan jika ada perbuatan korupsi. Di sisi lain masyarakat juga harus menanamkan suatu nilai “kalau bukan haknya, jangan diambil walau hanya satu rupiah’.

Peran masyarakat lainya, menurutnya, bisa memulai dari diri sendiri dan keluarga untuk bersikap anti korupsi. “Misalnya anak Anda diketahui pacaran dengan anak koruptor, jangan mau. Suruh mereka putus”, katanya di depan ratusan hadirin yang memadati Masjid Baitussalam.

Sebelumnya, dalam tablig akbar dengan format diskusi dengan moderator Ir. A. Nuskhi Zetka, Msi itu, Abdullah Hehamahua bahwa korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Dikatakan sebagai kejahatan luar biasa karena ia bersifat trans nasional, pembuktian yang sukar, sebagai bisnis yang menjanjikan, dan dampak yang luar biasa.

Dipaparkan, korupsi menjadi bisnis yang menjanjikan karena jika pejabat korupsi 50 milyar, ia simpan 25 milyar di luar negeri dan 25 milyar disimpan di bank dengan dipecah-pecah menjadi 5 nama masing-masing 5 milyar.

“Atas nama dia, isterinya, isteri kedua, isteri ketiga, atau siapapun. Ketika tertangkap hanya 5 milyar yang terbukti. Maka hukumannya 2 sampai 5 tahun. Di penjara dia tiba-tiba menjadi orang baik, pakai baju koko, rajin sholat, suka bagi-bagi seperti sinterklas. Karena ia baik maka tiap tahun dapat potongan hukuman. Belum selesai masa hukuman yang sebenarnya, ia sudah bisa keluar. Dan simpannya masih banyak. Itulah mengapa korupsi menjadi bisnis yang menjanjikan”, papar tokoh kelahiran Saparua tahun 1947 itu.

“Tapi di akherat ia akan jadi asfalassafilin, berada di kerak neraka paling bawah”, tegasnya.

Tabligh akbar menjadi salah satu kegiatan yang mengawali agenda Panitia Amaliyah Ramadhan (PAR) Masjid Agung Baitussalam Purwokerto, yang tahun ini diketuai oleh Ir. Nusky Zetka. (BNC/puh)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.