Ini keunikan Kirab Boyongan Replika Saka Sipanji

prosesi kirab boyongan sipanjiBanyumasNews.com, BANYUMAS – Hari Jadi Banyumas tahun 2016 ini ingin merefleksikan perpindahan ibukota kabupaten dari Banyumas ke Purwokerto. Sebuah kegiatan bertajuk Kirab Boyongan Replika Saka Sipanji pun digelar, dengan prosesi dimulai dari Pendopo Kecamatan Banyumas menuju Pendopo Sipanji Purwokerto, yang berlangsung pada Kamis (18/2/16).

Baca : Kirab Boyongan Replika Sipanji, pertama diadakan tahun ini

Event ini benar-benar berlangsung menarik. Keunikan pertama, semua peraga memakai pakaian adat Jawa Banyumasan, dari subamanggala, bregada pembawa saka dan peraga lain termasuk Bupati Banyumas beserta istri.

Keunikan kedua, adalah terlibatnya puluhan mobil antik yang dikoordinir Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Korwil Banyumas. Penggunaan mobil kuno ini seolah-olah terinspirasi saat pemindahan yang terjadi pada tahun 1937, yang dalam foto dokumentasi Sugeng Wiyana memperlihatkan jenis mobil yang dipakai saat itu yang untuk ukuran sekarang tentu saja sudah menjadi ‘mobil kuno’.

Prosesi pelepasan dilaksanakan di halaman Pendopo Kantor Kecamatan Banyumas, oleh Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein. Sebelumnya subamanggala yang diperankan oleh AKP Isfa Indarto, Waka Kabagops Polres Banyumas, melaporkan kesiapan memberangkatan boyongan. Bupati berpesan agar boyongan saka pendapa, salah satu saka “Sipanji” dilarang melalui Sungai Serayu dan setelah selesai pendirian pendapa agar segera ditanggapkan lengger.

Bregada memikul tiga saka dalam Boyongan Replika Sipanji
Bregada memikul tiga saka dalam Boyongan Replika Sipanji

Keunikan lainnya adalah pemberangkatan tiga saka yang dipikul oleh bregada, sedangkan saka sebenarnya ada empat. Mengapa hanya tiga saka yang dipikul para bregada?

Ternyata, diilustrasikan bahwa saka “Sipanji” sudah berangkat duluan tidak menyebrangi sungai serayu, sehingga saka yang dibawa dari Banyumas hanya tiga saka. Selain pembawa bregada juga ada gadis pembawa klasa (tikar) dan bantal, serta pembawa lampu teplok dan sapu lidi sebagai syarat pindahan tradisi orang Jawa.

Sesampainya di alun-alun dan pendopo Purwokerto, “saka sipanji” bertemu dan dipasang sebagai saka guru yang bertempat di posisi barat daya Pendopo Sipanji Purwokerto sekarang. Prosesi pemasangan saka guru, diawali laporan subamanggala bahwasanya bregada pembawa saka, semua telah tiba, selanjutnya dilaksanakan prosesi pemasangan.

Usai pemasangan, Istri Bupati Ny Erna Husein menerima tikar, bantal serta lampu yang selanjutnya digelar ditengah-tengah pendopo, untuk tempat selamatan/tumpengan.

Menggunakan Mobil Antik

Mobil antik (kuno) ikut memeriahkan kirab boyongan replika Sipanji
Mobil antik (kuno) ikut memeriahkan kirab boyongan replika Sipanji

Keunikan dan kemeriahnya prosesi boyongan terlihat dengan hadirnya mobil antik dan kuno yang dinaiki oleh Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan anggota Forkompinda lainya.

Sugoto Ketua PPMKI Korwil Banyumas, mengatakan hampir 40 mobil kuno dikerahkan. “Ada mobil buatan tahun 1938 yang ikut, untuk mobil pembawa manggalayuda yang berada paling depan adalah Ford buatan tahun 1948. Sedangkan mobil yang dinaiki oleh Bupati Banyumas Ir Achmad Husein beserta Istri adalah Mobil Impala buatan Tahun 1962 milik Teguh Warga Karangjambu Purwokerto Utara.

“Demikian halnya mobil yang dinaiki Wakil Bupati dr Budhi Setiawan beserta istri, sama-sama buatan tahun 1962 tetapi merknya Ford Galaxy” jelas Sugoto. (BNC/ist/Parsito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.