Setelah ‘Kerudung Halal’, lalu ‘Baju Koko Halal’?

kerudung halalProdusen kerudung hijab Zoya memposting klaim kerudung bersertifikasi halal dari MUI via instagram. Netizen pun heboh. Juga para produsen hijab rumahan. Ada apalagi ini? Strategi dagang atau kebutuhan konsumen?

Atau memang ada sesuatu yang kita pakai terbuat dari bahan haram? Bagaimana dengan pakaian selain kerudung/hijab? Celana dan baju kita? Baju koko, sarung, peci, kaos kaki, sandal sepatu, saputangan, dan tetek bengek lainnya? Meja kursi dan produk furniture nanti jangan-jangan ada pula yang bersertifikat HALAL? Seribet itukah hidup ini? He3…

Haruskah semua itu ada sertifikasi halal dari MUI? Lalu mengapa harus MUI?

Demikianlah segudang pertanyaan yang muncul dari sertifikasi halal Zoya ini. Pihak MUI sendiri mengatakan sertifikasi bukan keharusan, dan sertifikasi diterbitkan atas permintaan.

Salah satu posting di Facebook yang mengkritisi sertifikasi halal kerudung
Salah satu posting di Facebook yang mengkritisi sertifikasi halal kerudung oleh MUI

Pertanyaannya, kalau memang tidak merupakan keharusan, mengapa tetap diberikan? Bagaimana dengan efek yang ditimbulkan di masyarakat, dengan promosi produk HALAL bersertifikasi MUI, bisa muncul stigma produk merk lain TIDAK DIJAMIN kehalalannya? Lalu konsumen pindah dari merk produk yang selama ini dia pakai?

Pengusaha kerudung non-sertifikat bisa bangkrut. Apakah MUI mempertimbangkan sampai hal ini? Bagaimana dengan komersialisasi sertifikasi Halal MUI ini? Ini bisa seperti menggunakan ayat-ayat dalam kampanye politik. Memanfaatkan agama untuk kepentingan sesaat. Kepentingan dagang dan kekuasaan. Seperti itukah?

Agama jadi terkesan ribet, semua di hadapan kita yang selama ini kita memakai dengan nyaman, lalu terstigma: jangan-jangan ini haram (‘kan berlum ada sertifikasi Halal?), jangan-jangan ini kaos kaki yang saya pakai ada bahan lemak babinya… #eh.

Jangan-jangan, ya jangan-jangan…, kita memasuki tahap lebay atau berlebihan dalam beragama. Sedangkan sikap ‘berlebihan’ itu sendiri tidak baik. ‘Sesuatu yang keterlaluan dan berlebihan pastilah tidak normal’. Betul gak? (BNC/phd)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.