Tasdi, sosok ‘anak gunung’ yang akan memimpin Purbalingga

tasdi dan isteriKetika Tasdi pada bulan Mei 2014 lalu dilantik menjadi Wakil Bupati Purbalingga mendampingi Bupati Sukento Rido Marhaendrianto, sudah diprediksi kalau karir politik Tasdi akan panjang. Kini mulai terbukti, baru sekitar setahun menjadi orang nomor dua di pemerintahan kabupaten Purbalingga, dia harus melepas jabatan itu mengikuti pertaruhan menjadi orang nomor 1 di Purbalingga: nyalon Bupati dalam Pilkada Purbalingga 2015.

Ia berpasangan dengan Dyah Hayuning Pratiwi (Tiiwi), menurut perhitungan suara sementara dan real count tim pemenangan unggul atas calon lainnya Sugeng-Cipto.

Anak Gunung
Namanya singkat, Tasdi. Ia lahir di Purbalingga ‘atas’ alias Purbalingga utara yang merupakan pegunungan di timur lereng gunung Slamet. Makanya ia mengaku sendiri sebagai ‘anak gunung’. Ia lahir di Karangreja Purbalingga 11 April 1968. Karangreja, kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Pemalang, harus ditempuh dari Purbalingga kuranglebih satu jam, melewati Bobotsari. Kalau malam Karangreja sering berkabut.

Namun kabut seolah tidak pernah menyelimuti karir seorang Tasdi.

Tasdi mulai mengenal dunia politik pada tahun 1987. Sebagai Komdes Tlahab Lor, ia memilih Partai Demokrasi Indonesia (PDI) karena cocok dengan ideology PDI yang ingin memperjuangkan wong cilik. Megawati saat itu sudah dilambangkan sebagai simbol yang memperjuangkan wong cilik. Pada Pemilu 1992, Tasdi tidak begitu aktif dalam partai karena ia berkonsentrai pada usaha.

Tasdi aktif di PDI kembali mulai tahun 1996 yang saat itu Megawati terpilih sebagai ketua umum. Pada tahun yang sama, Tasdi menjadi ketua Pengurus Anak cabang (PAC) PDIP Karangreja. Dan tanpa diduga sama sekali, ia terpilih sebagai anggota DPRD periode 1999 – 2004 dari PDI Perjuangan bersama 17 orang lainnya. Pada Pemilu pasca reformasi 1998 itu PDIP memang merajai perolehan suara.

Ketika dilantik sebagai anggota DPRD periode 2004 – 2009, ia menyebutnya seperti mimpi. “Ibaratnya seperti mimpi. Hampir tak pernah terbayangkan. Begitu dilantik, saya langsung mencari ruangan dan tempat duduk yang pernah saya duduki pada tahun 1997 ketika melakukan aksi demo ke DPRD,” kenangnya.

Selama satu periode menjadi anggota DPRD periode 1999 – 2004, nama Tasdi tidak begitu menonjol. Di lembaga wakil rakyat itu, anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Suhardi dan Rusyati itu ditempatkan di Komisi E. Komisi yang disebut-sebut ‘tidak bergengsi’ karena hanya mengurusi bidang kesra. Kemajuan yang diraihnya, yakni rotasi ke Komisi D (bidang pembangunan) pada pertengahan periode. Satu periode DPRD itu dilewati Tasdi tanpa prestasi yang signifikan.

Pada Pemilu 4 April 2004, Tasdi terpilih kembali menjadi anggota DPRD Purbalingga periode 2004 – 2009. Di partainya, Tasdi merupakan satu-satunya caleg terpilih yang berhasil mengumpulkan suara terbanyak dengan perolehan suara 5.221. Ia mengaku semakin mantap menapakan kaki untuk membawa aspirasi masyarakat dari wilayah Dapil V (Karangreja, Karangjambu, Bobotsari dan Mrebet).

Sejak itulah, nama Tasdi semakin berkibar. Ia terpilih sebagai Ketua DPRD periode 2004 – 2009 dan pada Pemilu 2009 kembali mendapat kepercayaan rakyat dan menghantarnya menjadi ketua DPRD periode 2009-2014. Tasdi juga menduduki jabatan ketua DPC PDI Perjuangan Purbalingga periode 2005-2010 dan periode 2010-2015. Pada Pemilu 9 April 2014, Tasdi juga terpilih kembali sebagai wakil rakyat periode 2014 – 2019 dengan perolehan suara 6.527 di Dapil Purbalingga V.

Meski sudah ditetapkan oleh KPU sebagai caleg terpilih, Tasdi harus meninggalkan kursi itu, karena diangkat menjadi Wakil Bupati Purbalingga mendampingi Sukento. Ia menjadi wakil bupati, setelah Sukento yang semula wakil bupati secara aturan harus menjadi bupati karena Heru Sujatmiko, Bupati Purbalingga ketika itu terpilih sebagai Wakil Gubernur Jawa Tengah mendampingi Ganjar Pranowo.

Kini, Tasdi akan menapaki karir baru dalam perjalanan politiknya: Menjadi Bupati Purbalingga.

Wong Ndesa
Dari semula hanya wong ndesa yang tidak dikenal publik, Tasdi kini berkembang menjadi ikon politik di Purbalingga. Sebagai ketua partai politik, Tasdi sukses memenangkan pasangan calon bupati dan wakil bupati Drs Triyono Budi Sasongko MSi – Drs Heru Sudjatmoko MSi pada pemilihan bupati (pilbup) Purbalingga 2005. Sukses serupa pada pilbup 2010 yang mengantar pasangan Heru Sudjatmoko – Drs Sukento Ridho Marhaendrianto MM. Belum terhitung pemilihan gubernur (pilgub) 2008 yang memenangkan pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih dan pilgub 2013 dengan calonnya Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko.

“Saya memang wong ndesa. Desa saya, Karangreja berada di kaki gunung Slamet. Ayah saya petani yang cuma punya sawah satu bahu (sekitar 7.000 meter persegi). Namun, saya ingin menunjukkan bahwa orang dari desa pun bisa memimpin Purbalingga,” tuturnya.

Berkesan
Pengalaman politik yang paling berkesan dan sampai saat ini menjadi kepuasan tersendiri adalah ketikamenge-gol-kan Triyono Budi Sasongko sebagai bupati Purbalingga periode 2000 – 2005. Triyono BS saat itu berpasangan dengan Soetarto Rachmat. Tasdi mengaku ingat betul pada saat-saat akan mencalonkan Triyono BS. Begitu pula setelah Triyono BS terpilih sebagai bupati dan dilantik pada 22 Maret 2000.

“Pengalaman ini sungguh tidak akan saya lupakan. Karena bersama anggota PDI Perjuangan lainnya bisa mengegolkan Triyono BS sebagai bupati. Dulu ada rasa ketakutan, apakah setelah bupati terpilih, Purbalingga bisa maju atau tidak. Ternyata ketakutan itu sudah hilang,” kesan bapak dua orang anak masing-masing Sena Akbar Kartika dan Mega Putri Yusiantika Dewanti, hasil perkawinannya dengan Erny Widyawati.

Bersama Tiwi, putri dari Triyono BS yang dia ‘menangkan’ dulu ketika terpilih menjadi bupati Purbalingga dua periode, Tasdi giliran kini yang akan memimpin Purbalingga. (BNC/ist)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.