Awas! Peredaran uang palsu jelang Pilkada serentak

UANG-PALSUBanyumasNews.com – Kepala Kantor Bank Indonesia (BI) Kanwil V Jateng-DIY Iskandar Simorangkir mengatakan jumlah peredaran uang palsu di Jawa Tengah pada triwulan III tahun 2015 melonjak hingga 36,28 persen dibandingkan triwulan II. Menurut data BI yang disampaikan pada Rabu (18/11/15), pada triwulan II jumlah uang palsu yang beredar sebanyak 4.688 lembar, pada triwulan III mencapai 6.389 lembar.

Rincian pecahan uang palsu yang beredar di triwulan III ini, 54,5 persen dari total uang beredar merupakan pecahan Rp 100 ribu, 42,3 persen pecahan Rp 50 ribu, dan selebihnya pecahan-pecahan lain.

Iskandar Simorangkir tidak bisa memastikan penyebab peningkatan peredaran jumlah uang palsu tersebut. “Kalau dikaitkan dengan mendekatinya momentum pilkada, kami belum meneliti sejauh itu, tetapi memang ada kecenderungannya,” katanya.

Iskandar tidak ingin menyimpulkan setiap pelaksanaan pilkada pasti ada peningkatan temuan uang palsu. Iskandar menyatakan total uang palsu tersebut hanya di kisaran 0,000001 persen dari total uang beredar di masyarakat.

Sementara itu dilansir Metronews uang palsu beredar di Kabupaten Temanggung dan Cilacap, Jawa Tengah. Modus peredaran uang palsu itu dengan cara membelanjakan di warung-warung. Di Cilacap, perempuan berinisial Mgt, ditangkap aparat Polres Cilacap setelah kedapatan membelanjakan uang palsu di salah satu toko sembako.

“Penangkapan terhadap tersangka Mgt, warga Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Selatan, dilakukan berkat laporan dari masyarakat yang mencurigai adanya peredaran uang palsu di wilayah itu,” kata Kepala Polres Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Ulung Sampurna Jaya di Cilacap, Rabu lalu (11/11/15).

Dari penggerebekan, polisi menyita 20 lembar uang pecahan Rp 50 ribu yang diduga palsu. Menurut tersangka, uang palsu didapatkan dari seseorang yang mengaku bernama Rahmat.

Ulung mengatakan tersangka sempat membeli uang palsu Rp 50 ribu sebanyak 30 lembar atau senilai Rp 1.500.000 dengan harga Rp 500.000. Tak itu saja, tersangka juga membeli uang palsu pecahan Rp 50 ribu sebanyak 20 lembar atau senilai Rp 1.000.000 dengan harga Rp 300 ribu.

Sementara, Kepolisian Resor Temanggung, Jawa Tengah, menangkap dua pengedar uang palsu, yakni NH dan Mslk, warga Desa Kembangsari, Kandangan.

Wakapolres Temanggung Kompol Vincent Asmoro mengatakan modus pelaku mengedarkan uang palsu dengan cara membeli rokok di warung.

“Pelaku tertangkap karena pemilik warung bernama Kiryono merasa curiga dan setelah dicek dengan alat ultra violet ternyata uang dari pelaku palsu,” kata dia.

Kiryono dan warga mengejar pelaku. Akhirnya, pelaku tertangkap warga saat tengah membelanjakan uang palsu di warung lain milik Pranti. Polisi yang menerima tersangka dari warga, menggerebek rumah Mslk. (BNC/ist)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.