Beda kretek, beda siong: Jejak industri rokok siong di Gombong

karyawan indutri rokok di gombong (selarasindo.com)Di lingkup internasional ada Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati setiap tahun pada tanggal 31 Mei, termasuk di Indonesia tentunya. Gerakan ini menyerukan para perokok agar berpuasa tidak merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia. Peringatan bertujuan untuk menarik perhatian dunia mengenai menyebarluasnya kebiasaan merokok dan dampak buruknya terhadap kesehatan. Wikipedia menulis kebiasaan merokok setiap tahunnya menyebabkan kematian sebanyak 5,4 juta jiwa.

Ada hari tanpa tembakau sedunia, namun ada pula Hari Kretek Nasional, yang diperingati di Indonesia oleh sebagian perokok penggemar kretek tiap tanggal 3 Oktober. Dipilihnya tanggal 3 Oktober merujuk pada pendirian Museum Kretek di Kudus pada tanggal 3 Oktober 1986, di era Gubernur Jawa Tengah dijabat oleh putra Banyumas Soepardjo Roestam.

Gagasan pendirian museum kretek bermula sewaktu Soepardjo Roestam berkunjung ke Kudus menyaksikan potensi usaha kretek dalam menggerakkan perekonomian daerah. Museum itu didirikan untuk menyimpan dokumentasi perkembangan kretek di Kudus dan tanah air.

Selain Kudus, ada 3 kota lain yang disebut-sebut sebagai pusat industry rokok kretek dan rokok pada umumnya di tanah air: Kediri, Surabaya, dan Malang. Namun bukan berarti diluar empat kota itu tidak ada indutri rokok, sekalipun dalam skala yang lebih kecil. Di tlatah Banyumas, negeri kaum ngapak, industri rokok berkembang di Gombong, Kabupaten Kebumen, dan Klampok, Kabupaten Banjarnegara.

Rokok siong masih eksis di Gombong

Gombong terkenal dengan rokok siong, rokok klembak menyan, tembakau yang ‘berbumbu’ menyan, dengan lintingan kertas papier. Asap yang tebal keluar ketika dihembuskan setelah dihisap. Rokok siong berbeda dengan rokok kretek yang berbumbu cengkih. Tentang industri rokok siong ini, sebuah liputan dibuat Selarasindo, yang bertutur paanjang tentang sejarah industri rokok di Gombong, yang ternyata masih bertahan alias eksis hingga saat ini. Ditulis di sini kembali bertepatan dengan hari kretek 3 Oktober, sebagai sebuah bagian sejarah.

mesin potong tembakau
Mesin rajang tembakau

Produksi rokok siong di Gombong dimulai sejak tahun 1950, dengan merk Sintren, Bangjo dan Togog. Perintisnya pasangan suami istri The Tjoan (Agus Subianto) dan Tjo Goe Nio (Setiawati).

Agus Subianto awalnya memproduksi rokok klembak dengan merek Sintren. Dalam perkembangannya ia juga mengibarkan merek baru yakni Bangjo dan Togog. Pemasarannya bukan hanya sebatas di pulau Jawa namun merambah ke Sumatera khususnya propinsi Jambi. Produk yang dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang. Bungkusnya pun masih sederhana dengan kertas tipis tembus pandang. Orang-orang tua era 70-an dan 80-an yang merokok, di Banyumas dan sekitarnya, pasti mengenal merk-merk Bangjo, Sintren dan Togog ini.

Pada masa jayanya, perusahaan Agus Subianto amat populer dan sempat menyerap 1000 karyawan. Namun seiring dengan perkembangan jaman, dimana produk rokok mengalami pergeseran dari klembak menyan berkembang ke kretek (cengkeh) hingga rokok mentol, produksi rokok siong pun mengalami penurunan.

Popularitas rokok siong ini pupus sejak tahun 1985. Banyak perokok yang mulai beralih ke kretek dan menthol. Produk rokok klembak menyan pun semakin menurun. Namun produksi rokok Siong di Gombong masih dipertahankan hingga saat ini.

Menurut Budi Santoso (66) anak sulung Agus Subianto, komsumen rokok siong hingga saat ini masih ada meski jumlahnya tidak seperti dulu lagi. Masih ada pelanggan rokok merk Sintren di daerah Kebumen, Kroya, Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok cap Togog meliputi wilayah utara yakni Purbalingga, Magelang hingga Wonosobo.

rokok sintren biruUntuk Bangjo antara lain Purwokerto, Sidareja, Majenang dan Ajibarang. Sedang untuk luar Jawa ke propinsi Jambi yang tetap bertahan hingga kini. Selain dihisap, rokok siong juga untuk kebutuhan sesaji (sajen) bagi kalangan tertentu terutama di daerah pedesaan.

Rokok siong: rokok sajen

Meski sudah diterjang berbagai jenis rokok baru dengan kemasan modern, namun ketiga rokok siong ini masih bertahan, tentu dengan tingkat produksi yang jauh menurun dibanding masa jayanya. Ketiganya menyerap sekitar 150 karyawan. Sintren 80 karyawan, Bangjo 50 karyawan dan sekitar Togog 20 karyawan. Karyawan pabrik rokok siong ini umumnya terdiri dari para pekerja lanjut usia antara 65-85 tahun.

Soal penghasilan para pekerja ini bekerja dengan sistem borongan. Untuk bekerja setengah hari mereka bisa melinting sekitar 800 batang. Dengan begitu bisa mendapatkan sekitar Rp 16.000,- Rp. 20.000,- tergantung banyaknya rokok yang dilinting.

klembak menjan togogRokok Sintren, Bangjo dan Togog ini tergolong unik karena tetap bertahan disaat harga bahan baku dan kebutuhan hidup terus melonjak naik. Untuk satu bungkusnya dijual sesuai dengan harga bandrol yakni Rp 2100,- (dua ribu seratus rupiah) dengan isi 10 batang.

Sebagai pewaris usaha orang tua, Budi Santoso tetap optimis rokok siong ini masih diminati masyarakat terutama di daerah pelosok pedesaan. Selain itu, rokok siong ini juga masih dibutuhkan oleh masyarakat tertentu untuk keperluan sesaji (sajen) dalam upacara pengiriman doa seperti selamatan maupun perayaan hari besar seperti sedekah bumi maupun sedekah laut.

Penggunaan rokok siong untuk sesaji atau sajen ini yang sering menjadi joke di kalangan anak muda, kalau merokok siong katanya bisa mengundang roh halus. Hehe.. apa iya sih?

(BNC/ist/foto: selarasindo)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.