Dieng Culture Festival 2015 resmi dibuka, Ganjar Pranowo: Dieng perlu ditata kembali

ganjar pranowo buka DCF 2015Festival Budaya Dieng yang ke-6 atau dikenal sebagai Dieng Culture Festival (DCF) 2015 Jum’at siang (31/7/15) resmi dimulai, yang ditandai dengan pembukaan secara resmi oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan pemukulan gong dan pemotongan tumpeng. Sebelum pembukaan resmi DCF 2015, diadakan pengajian umum di lokasi festival.

Dua Bupati dari daerah yang membawahi wilayah Dieng, yakni Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo dan Bupati Wonosobo Abdul Kholiq Arif hadir dalam event budaya di Dieng Plateau Banjarnegara itu. Event ini makin menjadi perhatian dengan datangnya pengunjung dari daerah lain. Acara-acara yang digelar pun menarik, salah satunya Jazz Atas Awan atau Jazz Kemulan Sarung karena diadakan di kawasan yang dingin sehingga harus kemulan (berselimut) sarung.

jazz kemulan sarung DCF 2015

Sudjiwo Tedjo tampil di Jazz Atas Awan DCF 2015
Sudjiwo Tedjo tampil di Jazz Atas Awan DCF 2015

Dalam sambutannya Gubernur Ganjar Pranowo mengatakan Banjarnegara dan Wonosobo tidak usah berebut kawasan Dieng. “Event ini saya harapkan terus berjalan. Apakah di Banjarnegara atau Wonosobo. Tak usah rebutan tiket. Jadikan satu. Jadi wisatawan hanya kena satu pukulan,” katanya.

Ganjar Pranowo menyatakan ingin menata kembali kawasan Dataran Tinggi Dieng yang meliputi Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, dan Pekalongan. “Dieng ingin saya tata kembali, dihijaukan kembali. Mungkin butuh dana Rp100 miliar,” katanya.

Ganjar menyambut positif kegiatan DCF 2015 yang telah memasuki tahun keenam itu. Kegiatan yang ditujukan untuk melestarikan budaya asli Dieng itu, termasuk minuman purwaceng yang dikenal sebagai ginseng asli Dieng, sangat bagus diperkenalkan kepada masyarakat dan bisa dijual ke wisatawan mancanegara.

Karenanya Gubernur menegaskan perlunya pembenahan infrastruktur Dieng. Ia mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jateng akan menyiapkan beberapa jalan tembus agar masyarakat lebih mudah untuk mengakses Dieng. Selama ini akses yang paling mudah ke Dieng adalah melalui Wonosobo sehingga masyarakat sering beranggapan jika Dataran Tinggi Dieng berada di Wonosobo. Padahal kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng berada kedua wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo.

DCF 2015 akan berlangsung hingga 2 Agustus 2015 denga run down sbb :

rundown DCF 2015Ruwat rambut gembel

Acara euwat rambut gembel menjadi tradisi yang ditunggu-tunggu. Di Dieng, beberapa anak memiliki rambut gimbal asli yang dilatarbelakangi keyakinan dan mitos warga setempat. Pada puncak acara DFC, rambut anak-anak yang gimbal secara alami tersebut akan dipotong kemudian diupacarakan untuk dilarung ke sungai. Rambut gimbal tersebut haruslah dipotong, konon katanya bila rambut gimbal dibiarkan, masyakat Dieng percaya anak itu beserta keluarganya akan terancam musibah.

ruwat anak gimbalAnak-anak tersebut memiliki rambut normal saat lahir namun suatu waktu mereka tiba-tiba akan mengalami kejadian-kejadian tertentu yang diyakini sebagai awal mula tumbuhnya rambut gimbal, yaitu suhu badan meninggi diikuti dengan tumbuhnya bintik kecil di kepala. Lama kelamaan, bintik itu membesar dan rambutnya akan menggimbal, saat itu pula orang tua sudah tahu bahwa anaknya merupakan keturunan Tumenggung Kolo Dete, pertapa berambut gimbal dari Majapahit.

Sebelum upacara pemotongan rambut akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah: Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng. (BNC/ist/foto: twitter)

 

 

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.