Jejak langkah Ki Sugino Siswocarito, dalang kondang wayang kulit gagrak Banyumasan

dalang gino2Berbicara kebudayaan atau kesenian di Banyumas, kita harus menyebut tokoh dalang Ki Sugino Soswocarito, dalang kondang wayang kulit gagrak Banyumasan yang namanya kerap disejajarkan dengan dalang kodang dari tlatah Solo dan Jogja. Para pencitanya membentuk sebuah komunitas untuk mengenang jasa beliau. Komunitas ini ada baik di dunia maya maupun di dunia nyata: Komunitas Sugino Siswocarito (KSCC). Banyak generasi muda tidak tahu siapa dalang Gino. Tulian ini merangkum berbagai sumber mengenai beliau.

Dalang Gino (Ki Sugino Siswocarito) lahir hari Selasa Wage, 9 Jumadilakir 1356 H bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1937 (versi lain menyebut tanggal lahirnya 14 Mei 1937) di desa Sawangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Ia bukan keturunan dalang. Ayahnya, Siswomiharjo, seorang kepala sekolah. Ibunya bernama Dasirah. Kehidupan orang tuanya yang juga pernah menjadi kepala desa, boleh dibilang cukup. Namun Gino tidak tertarik ketika ditawari untuk menggantikan kedudukan sang ayah sebagai kepala desa.

Ki Dalang Sugino Siswocarito wafat setelah 40 hari mengalami sakit di RS Panti Rapih Yogyakarta, pada Ahad 20 Januari 2013 sekitar pukuk 23.25 WIB. ”Sebelum meninggal, beliau mengalami sakit komplikasi berupa gagal ginjal dan tumor kandung kemih,” kata Nurnaini, puteri kedua almarhum menceritakan sakit sang tokoh wayang Banyumas saat itu.

Ia dimakamkan di pemakaman umum tanah kelahirannya Desa Sawangan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Memilih sebagai dalang

Ia memilih menjadi dalang. Bagi masyarakat Banyumas, nama dalang Gino sudah tidak asing lagi. Ia begitu populer. Setiap pentas,penontonnya membludak. Penggemarnya mulai dari Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Brebes, Tegal, sampai Pekalongan. Ia juga sering manggung di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta.

Di Jakarta atau Bandung, panitia menjual tiket Rp. 5 – 200 ribu dan penonton tak keberatan. Penggemar Gino mulai dari pekerja kasar, pedagang, pengusaha, anggota TNI/Polri, karyawan sampai pejabat tinggi. Setiap kali manggung, tempat pertunjukan seperti Istora Senayan yang cukup luas, tak ada kursi yang kosong.

Tidak Keluar Pakem

dalang ginoSering orang menyebut Gino sebagai “dalang rame”. Ia memang sering membawakan lakon-lakon yang ramai dan disukai anak muda, seperti Antasena Gugat, Petruk Dadi Ratu, Petruk Nagih Janji, Gareng Urile Ilang, Laire Wisanggeni, dan lain-lain. Ia sering berimprovisasi dan membuat jalan cerita dengan variasi yang berbeda, sehingga sering dituding merusak atau keluar dari pakem. Menghadapi para pengkritik, Gino punya jawaban. “Pakem itu kan buatan manusia. Zaman sudah berubah. Ini memaksa saya untuk menyuguhkan apa yang dikehendaki penonton”, katanya.

Sekarang ini yang digemari adalah lakon-lakon dengan tokoh muda wayang sebagai pahlawannya, seperti Antasena dan Wisanggeni muncul, penonton senang. Kedua tokoh muda wayang itu digemari mungkin karena berani, jujur, cablaka (terus terang, tidak tedeng aling-aling), demokratis dan sakti. Keduanya juga selalu berbahasa ngoko (bahasa sehari-hari) terhadap siapa saja- ciri khas generasi muda yang ingin “memberontak” dan anti kemapanan.

Menurut Gino, “Saya tetap berpegang pada pakem”. Improvisasi yang dilakukan, semata agar penonton merasa puas. ” Boleh menuduh saya menyimpang dari pakem, kalau misalnya saya mainkan Gatutkaca sebagai anaknya Arjuna, Wisanggeni anaknya Kresna atau Adipati Karno matinya oleh Bima.” katanya.

Gino tampaknya sadar bahwa wayang kulit adalah tontonan . Karena itu, penonton harus dipikat dan dipuaskan. Itu dilakukan dengan tata lampu yang menarik, cara membuka cerita dan sabetan. Tata lampu yang dipadukan dengan hentakan suara gendang atau gending, membuat pagelaran terasa gayeng, lebih hidup dan menarik. Melesatnya anak panah yang dibarengi suara berdesing dan kilatan lampu, membuat penonton seolah tidak berkedip dan betah sampai pagi.

Ki Gino berkeyakinan, wayang tetap akan digandrungi penonton, selama dalang mampu membuktikan bahwa wayang ternyata menarik dan bisa memuaskan penonton. Jadi, katanya, “Tergantung bagaimana dalang membawakannya.” Kelebihan Gino yang lain adalah karena ia mampu memanag tim yang terdiri dari nayaga dan pesinden.

Seabagai trend setter, Gino akhirnya diakui. Banyak dalang muda Banyumas yang mengikuti jejaknya. Ketika tampil di gedung Sasana Hinggil Kraton Yogyakarta, ia diminta tampil dengan gayanya yang khas. Padahal, ia juga menguasai gagrag Yogyakarta atau Surakarta.

Tapa Kungkum

karya dalang gino2Gino meniti karir dari bawah. Sebelum menjadi dalang, ia pernah mengalami masa pahit, pedih, dan sengsara. Beranjak dewasa, ia menjadi pemain kethoprak dan wayang orang. Setelah itu menganggur dan tak punya mata pencaharian. Kebolehannya memainkan siter ia manfaatkan. Dengan siternya itu ia ngamen, njajah desa milang kori”. Ia bertualang dari kota ke kota, sepanjang Cirebon hingga Gunung Kawi. “Saat nyiter itu saya mirip gelandangan,” kenangnya. Ia sering tidur di makam-makam keramat, di setiap kota yang dilaluinya dengan berjalan kaki.

Setelah menikah, ia mencoba mengubah nasib dengan menjadi penderes kelapa. Rupanya, menjadi pembuat gula merah tidaklah semanis gulanya. Gino sering laku batin. Ia, sesuai petunjuk gurunya, menjalani tapa kungkum (berendam). Sebelum pentas perdana, setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon ia tapa mengambang di Sungai Trenggulun yang arusnya tenang tapi rawan dan bermuara di Sungai Serayu. Pada hari-hari yang ditentukan, ia berangkat ke hulu sungai di perbukitan Cilongok. Dengan bantuan batang pohon pisang dan tongkat kayu, ia menghanyutkan diri sepanjang kurang lebih 10 Km.

Sekitar 7 bulan kemudian, pada 1959, ia mulai pentas wayang di rumahnya sendiri. Sejak itu ia dikenal sebagai dalang. Ia terus memperdalam seni pewayangan,melalui buku maupun belajar kepada dalang-dalang senior di berbagai daerah. Semakin hari, namanya semakin luas dikenal.

Mendalang di Segara Anakan

Tahun 1972, Gino punya pengalaman unik. Ketika itu ia diundang ke kawasan Segara Anakan Cilacap. Dari pelabuhan Sleko, ia beserta rombongan naik perahu yang disediakan pihak pengundang. Di belakang perahu, ada perahu lain yang menuju ke arah yang sama. Tiba-tiba perahu yang ditumpangi Gino dan rombongan tersedot pusaran air dan tenggelam. Berita musibah itu cepat tersebar. Warga Desa Notog geger, keluarga sedih dan tetangga ikut berdukacita. RRI Purwokerto kabarnya sempat menyiarkan hilangnya perahu rombongan dalang Gino.

Kesedihan berganti menjadi keheranan , ketika Ki Gino dan rombongan keesokan harinya kembali ke Desa Notog dalam keadaan segar bugar. Gino sendiri heran, ketika mendalang tidak ada yang menonton, padahal biasanya penontonnya membludak. Yang aneh, ia sendiri tidak tahu berada di mana malam itu. Yang ia ingat, ” Waktu mendalang turun hujan lebat,” katanya.

Setelah istri pertama meninggal, ia menikah dengan Suwarti tahun 1987. Dengan istri pertama dikaruniai 3 orang putera. Ketika Yayasan Senawangi Jakarta mengadakan pemilihan dalang Favorit, Ki Gino Siswotjarito menduduki rangking III. Disamping manggung, dalang kondang ini telah merekam 40-an cerita wayang. Setiap cerita rata-rata 8 kaset.

Ki Gino membuktikan bahwa kehidupan dalang masih menjanjikan. Buktinya, ia mampu membiayai sekolah anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Rumah besar, perabotannya serba lux dan di garasi ada kendaraan roda empat lebih dari satu.

Maestro dalang gagrak Banyumasan

karya dalang ginoSemasa hidupnya, beliau merupakan salah satu maestro dalang gagrak Banyumasan. Bersama Ki Dalang Sugito Purbocarito, kedua tokoh dalang ini merupakan duo dalang Banyumasan yang sejak tahun 60-an sudah mulai mendalang. Gino sudah mendalang sejak masih anak-anak.

Kiprah Ki Sugino dapat disejajarkan dengan beberapa tokoh dalang besar lainnya di Indonesia. Bila untuk wayang kulit gaya Solo-an dikenal dalang Narthosabdo, gaya Yogya ada Ki Timbul Hadi Prayitno, maka untuk wayang kulit gaya Banyumasan identik dengan dalang Ki Sugino Siswocarito.

Dalam karir mendalangnya, sudah tak terhitung karya cerita wayang yang telah diciptakan almarhum. Khususnya mengenai lakon cerita carangan.

Semasa hidupnya sebagai dalang, beliau memang lebih senang memainkan lakon cerita Carangan. Yakni, lakon cerita yang lepas dari pakem. Sangat jarang almarhum memainkan lakon cerita pakem yang bersumber dari kisah Mahabarata atau Ramayana.

Melalui lakon carangan tersebut, Dalang Gino lebih leluasa memainkan dan membuat cerita tanpa harus terikat dengan lakon-lakon pakem. Tokoh-tokoh wayang yang ditampilkan dalam lakon yang sering dimainkan Dalang Gino, adalah tokoh anak-anak Pandawa seperti Gatotkaca, Antasena, Antareja, Abimanyu dan Wisanggeni.

”Tokoh-tokoh wayang, seperti Antasena dan Wisanggeni, identik sebagai tokoh wayang Banyumas. Dalam cerita wayang gaya Solo atau Yogya, tidak dikenal adanya tokoh kedua wayang tersebut,” kata Ajen Sisworo, putera pertama almarhum dikutip Republika.

Selain mendalang, Dalang Ki Sugino Siswocarito, juga telah menghasilkan ratusan karya gending Banyumasan. Gending gamelan gaya Banyumasan ini, juga memiliki nuansa berbeda dari gending gaya Surakarta atau Yogyakarta. Irama dari gending Banyumasan ini, lebih rancak dan ceria daripada gending gaya Surakarta atau Yogya.

Sumber: KSSC, Buku Wong Banyumasan, Kiprah dan Karyanya, karangan M. Koderi. Penerbit Purbadi Publisher (2006), republika online.

1 Comment

  1. Gurunya Dalang Gino adalah Dalang Ki Suyono yg terkenal pada era Orde Lama, sebagai dalang Situmang, bapanya dalang Taram. Dalang Suyono adalah dalang Banyumas kesayangan Bung Karno, sering ditanggap di Istana Negara. Sayang dalang Ki Suyono dilupakan Wong Banyumas, khususnya generasi mudanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.