Batu Klawing Purbalingga sudah diteliti sejak 2009 oleh ahli ITB, kini warga memanen berkahnya

batu klawingBanyumasNews.com – Jauh sebelum batu akik atau batu mulia dari Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah, terkenal seperti sekarang, ternyata penelitian oleh para ahli tentang batu Sungai Klawing sudah dimulai sejak tahun 2009 yang lalu, ketika Purbalingga masih dipimpin oleh Bupati Triono Budi Sasongko (2000 – 2010). Ketika itu, pada bulan Juli 2009, sejumlah dosen / ahli dari Fakultas Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) kembali melakukan penelitian artefak batu bersejarah di sepanjang Sungai Klawing. Tim terdiri 12 orang tersebut melakukan pada 10 hingga 11 Juli 2009. Dan riset-riset berikutnya. Selayaknya dunia akik Purbalingga berterima kasih kepada mereka (Bupati Triono BS, Tim Ahli Geologi ITB dan KRCB), sehingga batu akik Purbalingga menjadi terkenal.

(Baca: http://banyumasnews.com/443/itb-dan-krcb-bandung-ungkap-misteri-artefak-batu-klawing/ dan http://banyumasnews.com/497/situs-bersejarah-bertebaran-di-purbalingga/)

Tim ITB dan KRCB awlanya berusaha mengungkap misteri temuan artefak batu prasejarah dan batu mulia jenis ‘Le Sang Du Christ’ yang ditemukan di sepanjang Sungai Klawing. Batu yang di luar negeri (Perancis) dinamakan ‘les sang du Christ’ (darah Kristus), yang saat ini (kemudian) dikenal sebagai batu nogo sui.

Tim riset batu Nogo Sui ketika itu terdiri dari Dr Ir Budi Brahmantyo, M.Sc (Kepala Pusat pengembangan Pariwisata/P2PR ITB), Dr Ir A Tjipto Rahardjo (ahli fosil/dosen ITB), Dr Ir Johan Arif (ahli Prasejarah/dosen ITB), Drs T Bachtiar (dosen Uninus/penulis), Dr Ir RR Dhian Damajani (dosen Arsitektur ITB/desain grafis), Ir Iwan Darmasetiawan (ITB/praktisi arsitektur), Ir Andi S.S Mubandi Dipl, Eng (dosen Geologi Terapan ITB), Dr Ir Yunus Kusumahbrata (Kepala Museum Geologi Bandung/kurator), Ir Bandono MSc (dosen Geologi Terapan ITB), Mika Rizki Puspaningrum MT (Biologi ITB), Ir Ina Koswara MT (P2PAR ITB), dan Ir H Sujatmiko Dipl Ing (dosen tamu ITB dan dosen luar biasa Unsoed).

Sujatmiko - Gemologist
Sujatmiko – Gemologist

Awal riset itu bermula ketika Sujatmiko bersama mahasiswa Geologi Unsoed sebelumnya menemukan temuan artefak batu prasejarah dan batu mulia jenis ‘Le Sang Du Christ’, dan batuan Panca Warna. Batuan ini merupakan batu mulia yang memiliki kualitas tinggi dan banyak diburu oleh penggemar batu.

Batuan Panca Warna, jelas Sujatmiko ketika itu, pada bagian luar dari bongkahan batu yang dipotret termasuk dalam jenis jasper hijau Klawing. Masuk sedikit ke dalam, tampak bercak-bercak seperti tetesan atau cipratan darah. Lebih ke dalam lagi, bercak-bercaknya menyatu bagaikan awan kumulus dengan corak memikat dan warna beragam antara lain coklat, kuning, merah, hijau, biru, dan putih.

“Batu Panca Warna ini memiliki keistimewaan pada kualitas polesnya yang bagaikan cermin. Ciri polesan ini merupakan ciri dari batu mulia high quality ,” kata Sujatmiko ketika itu yang dimuat BanyumasNews.com.

Refraksi Batu Klawing sama dengan Chrysoprase

Lebih lanjut Sujatmiko mengatakan batu hijau Klawing tampak dilengkapi dengan hiasan mineral berwarna putih kehijauan yang memancar begitu indahnya bagaikan sinar mentari. Mineral yang memancar ini ternyata sangat reaktif dengan HCl sehingga susunan kimianya dari keluarga besar karbonat. Selain itu, jelas Sujatmiko, mineral ini tergores oleh mineral fluorit yang kekerasannya hanya empat skala Mohs.

krcb bandungSujatmiko ketika itu memprediksi bahwa mineral berstruktur radial tersebut adalah mineral keluarga karbonat jenis Aragonite. Mineral Aragonite semacam ini pernah ditemukan oleh KRCB di Singajaya, Garut, dalam urat-urat jasper berwarna merah dan hijau.

Dari hasil uji gemologi terhadap mineral berwarna hijau yang menyelimuti mineral radial Aragonite menurut Sujatmiko, ternyata bukan jenis jasper hijau melainkan kalsedon hijau. Hal ini dibuktikan oleh sifat tembus cahayanya dimana potongan setebal 2 mm yang kemudian dibuat batu permata berbentuk kabocon ternyata tembus cahaya alias translusen.

“Batu mulia jenis jasper prinsipnya tidak tembus cahaya. Jika diuji dengan alat refraktometer, hasilnya sungguh menggembirakan karena nilai indek refraksinya sama dengan yang dimiliki Chrysoprase atau Krisopras yaitu sekitar 1,530-1,534. Dengan demikian maka nilai komersialnya tentu lebih tinggi dari sekedar jasper,” jelas Sujatmiko ketika itu.

Dari fakta bahwa Batu Akik atau Batu Mulia Klawing sudah diteliti sejak tahun 2009 dengan melibatkan para ahli yang kompeten di bidangnya dari ITB dan kelompok riset cekungan, maka sangat wajar apabila Batu Klawing termasuk batu akik yang merajai pasar batu di Indonesia. Para penambang, perajin dan pedagang batu akik di Purbalingga pun ikut merasakan berkah dari riset yang dilakukan lima tahun lalu itu hingga kini.

Pemkab lain yang sedang berusaha menemukan ikon batu dari daerahnya, seharusnya meniru Kabupaten Purbalingga mendatangkan para ahli untuk meneliti kandungan dan jenis batu akik atau batu mulia yang ada di daerahnya. Dengan begitu kualitas batu lebih teruji dan berdasarkan informasi dari pihak yang kompeten.

akik berkembangPurbalingga memang all out dalam optimalisasi batu akik ini, misalnya dengan kewajiban memakai batu akik bagi PNS, bantuan modal bagi UKM di bidang perbatuakikan, dan kampanye lainnya seperti dukungan pada pameran dan pembukaan sentra batu Klawing di Jakarta. (BNC/ist)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.