Ulama atau pemburu? – kisah inspiratif jelang Ramadhan

sepasang merpati (kiputu.wordpress)

Ramadhan segera tiba. Bulan berkah penuh ampunan itu suasananya sudah mulai terasa. Di bulan itu spiritualitas (rohaniah) kita diasah, diperdalam, agar benar-benar kembali ke fitrah, seiring dengan puasanya raga kita dari kebutuhan jasmaniah (makan dan minum) sejak mulai fajar hingga matahari terbenam.

Salah satu hikmah puasa adalah melatih pribadi muslim untuk selalu jujur, konsisten, dan satunya kata dan perbuatan. Apa yang tampak dari luar bahwa kita sedang puasa, hendaknya juga terjadi di sisi dalam diri kita, sehingga puasa tidak hanya ‘merasakan haus dan lapar’ di sisi jasmani, tetapi juga ‘lapar akan selalu berbuat kebaikan’ di sisi ruhani.

Sebuah kisah inspiratif tentang kedalaman ruhani dan spiritulitas bisa kita ambil dari cerita di bawah ini, sebagai inspirasi bagi kita menyambut bulan suci Ramadhan.

Suatu hari sepasang merpati sedang bertengger pada cabang pohon. Ketika itu mereka melihat seorang alim datang dengan sebuah buku yang dikepit pada salah satu tangannya dan tongkat pada tangan yang lain.

Seekor merpati berkata kepada yang lain, “Mari kita terbang jauh! Ada seorang pria yang datang. Dia bisa membunuh kita”.

Pasangannya menjawab, “Dia bukan pemburu. Dia seorang ulama dan tidak akan membahayakan kita”.

Syahdan sang ulama melihat sepasang merpati itu dan dengan tongkatnya memukul merpati yang betina. Dia kemudian mengeluarkan pisaunya dan menyembelihnya sehingga daging merpati itu menjadi halal.

Pasangan merpati itu (si jantan) datang mengeluh kepada Nabi Sulaiman as yang dikaruniai pengetahuan untuk memahami bahasa burung dan binatang.

Sang ulama itu pun dipanggil ke istana.

“Kejahatan mana yang saya lakukan?” kata sang ulama. “Daging merpati adalah halal”, lanjutnya.

Merpati yang jantan menjawab, “Saya tahu bahwa itu halal bagimu tetapi jika datang untuk berburu, engkau semestinya mengenakan pakaian seorang pemburu. Engkau curang dan datang sebagai seorang ulama”.

Demikianlah. Sisi luar diri kita haruslah sesuai dengan sisi dalam diri kita.

(sumber: Cerita-cerita Favorit – penerbit Al-Huda, foto ilustrasi: kiputu.wordpress.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.