Kenapa disebut ada ‘darah AFP’ dalam kasus Bali Nine?

bali nine memberBanyumasNews.Com – Sembilan penyelundup barang terlarang narkoba yang ditangkap pada 17 April 2005 di Bali, mendapat julukan Bali Nine oleh media massa. Ke-sembilan orang Australia itu ditangkap dalam usaha menyelundupkan heroin seberat 8,2 kg dari Indonesia ke Australia.

Kesembilan orang tersebut adalah Andrew Chan – disebut pihak kepolisian sebagai “godfather” kelompok ini, Myuran Sukumaran, Si Yi Chen, Michael Czugaj, Renae Lawrence, Tach Duc Thanh Nguyen, Matthew Norman, Scott Rush, dan Martin Stephens.

Dengan alasan penyelundupan obat-obatan itu mereke mendapat vonis hukuman. Lawrence divonis hukuman 20 tahun penjara; Chen, Czugaj, Nguyen, Norman, Rush dan Stephens dihukum penjara seumur hidup; sedangkan Chan dan Sukumaran divonis hukuman mati.

Hukuman mati untuk Chan dan Sukumaran yang disebut duo Bali Nine inilah yang akhir-akhir menjadi kehebohan hubungan Indonesia – Australia mengingat pelaksanaan eksekusi yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.

Penangkapan Bali Nine
Empat dari sembilan orang tersebut, Czugaj, Rush, Stephens, dan Lawrence ditangkap di Bandara Ngurah Rai saat sedang menaiki pesawat tujuan Australia. Keempatnya ditemukan membawa heroin yang dipasang di tubuh. Andrew Chan ditangkap di sebuah pesawat yang terpisah saat hendak berangkat, namun pada dirinya tidak ditemukan obat terlarang.

Empat orang lainnya, Nguyen, Sukumaran, Chen dan Norman ditangkap di Hotel Melasti di Kuta karena menyimpan heroin sejumlah 350g dan barang-barang lainnya yang mengindikasikan keterlibatan mereka dalam usaha penyelundupan tersebut.

Polisi Australia (ilutrasi)
Polisi Australia (ilutrasi)

Tuduhan pada AFP (Australian Federal Police)
Orang tua Rush dan Lawrence kemudian mengkritik pihak kepolisian Australia yang ternyata telah mengetahui rencana penyelundupan ini dan memilih untuk mengabari Polri daripada menangkap mereka di Australia, di mana tidak ada hukuman mati sehingga kesembilan orang tersebut dapat menghindari ancaman tersebut.

Kritik pada polisis Asutralia muncul kembali pada Jum’at pekan lalu. Seorang pengacara asal Brisbane, Robert Myers menuding pihak Polisi Federal Australia atau AFP turut bertanggungjawab sebagai penyebab pelaksanaan eksekusi mati duo ‘Bali Nine’ Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. Semuanya bermula ketika Myers memperoleh informasi soal adanya rencana penyelundupan heroin dari Bali ke Australia, dari ayah salah satu anggota gembong tersebut, Lee Rush.

Lee menduga putranya, Scott Rush, telah direkrut menjadi kurir narkoba dan hendak berangkat ke Bali. “Seharusnya, saya hanya mengatakan ke Lee: ‘kawan, segera kamu berangkat ke sana dan bawa kembali putramu ke Australia’,” ujar Myers kepada Radio Triple M.

AFP, ujar Myers turut menanggung darah dari anggota Bali Nine sebab mereka bisa mencegat kedelapan pemuda itu ketika masih berada di Australia. “Mereka memiliki bukti yang cukup untuk menangkap mereka dengan tuduhan konspirasi untuk mengimpor narkoba ke Australia,” terangnya.

Seperti dilansir harian Sydney Morning Herald (SMH), Jumat pekan lalu (6/03/15), pengacara itu lalu menghubungi salah satu kenalannya di AFP yang mengatakan Scott akan dihentikan sebelum bisa meninggalkan Bali. Namun, menurut pengakuan Myers, alih-alih menangkap sendiri, AFP malah membagi informasi rencana penyelundupan narkoba itu ke Polisi Indonesia.

“Jika ka Chan dan Sukumaran akhirnya dieksekusi, AFP dianggap turut menanggung konsekuensinya. Ada darah keduanya di tangan AFP,” tegas Myers.

Meski demikian, pernyatan Myers langsung dibantah oleh Komisioner AFP, Andrew Colvin. “Apakah ada darah (Bali Nine-red) di tangan kami? Tidak. Informasi yang selama ini beredar di publik, termasuk klaim Myers, tidak mencerminkan peranan dan kinerja AFP di tahun 2005 lalu secara akurat,” ujar Colvin.

Dia pun turut membantah institusi yang dipimpinnya turut terlibat dalam sebuah konspirasi kerjasama besar seperti yang salam ini dibaca di berbagai media. “Tidak ada hal yang dapat saya katakan hari ini. Hal tersebut telah dicatat di pengadilan di Australia. Dalam pengadilan federal, kami telah ditanya mengenai peranan kami,” papar Colvin.

“Kini, saya ingin menyuarakan kembali pengampunan yang disampaikan oleh Pemerintah Australia,” imbuh dia. (BNC/*)

1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.