Jubir Kejagung: Eksekusi mati tidak dilakukan akhir pekan ini

ilustrasi-hukuman-matiBanyumasNews.Com – Juru Bicara Kejaksaan Agung Tony Spontana mengatakan eksekusi bisa dipastikan tidak akan dilakukan akhir pekan ini. Kepada wartawan di Jakarta ia mengatakan, pelaksanaan eksekusi terpidana mati gelombang dua masih menunggu proses teknis dan perkembangan proses hukum, antara lain Pengajuan Kembali (PK) yang diajukan terpidana asal Filipina, Mary Jane Viesta Veloso.

“Ya, salah satunya, kita menunggu hasil PK (yang diajukan terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Viesta Veloso), dan dia juga masih di Yogyakarta.”, katanya dilansir BBC Indonesia.

Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta, menyatakan telah mengirimkan hasil sidang PK warga Filipina itu ke Mahkamah Agung yang kemudian akan mengumumkannya.

Peninjauan Kembali diajukan Mary Jane Veloso, dengan menyampaikan novum atau bukti baru, bahwa perempuan berusia 30 tahun itu tak berbahasa Inggris dan Indonesia secara memadai, dan di seluruh persidangan dahulu, ia tak disediakan penerjemah bahasa Tagalog. Dalam sidang yang menjadi penerjemah masih bestatus mahasiswa.

Selain Mary Jane Veloso, sembilan teridana mati lainnya yang dijadwalkan untuk dieksekusi, sudah berada di Nusakambangan, namun belum masuk ruang isolasi. Termasuk dua warga Australia yang dikenal sebagai duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, yang pembatalan eksekusinya terus diupayakan dengan segala cara oleh pemerintah Australia, termasuk tawaran pertukaran narapidana –yang langsung ditolak pemerintah Indonesia.

Jubir kejaksaan, Tony Spontana juga mengatakan, terkait kasus terpidana mati warga Brasil Rodrigo Gularte, kejaksaan masih menunggu hasil opini kedua –second opinion– dari dokter jiwa tentang kesehatan jiwa sang terpidana mati.

Hasil pemeriksaan dokter jiwa RSUD Cilacap, 11 Februari lalu menunjukkan, Dularte adalah penderita gangguan kejiwaan. Dokumen medis lain dari Paraguay dan Brasil menunjukkan, Dularte sudah menderita gangguan jiwa sejak tahun 1996.

Sementara itu hari Jumat (06/03/15) siang, sekelompok aktivis pembela hak kaum disabilitas mendatangi Kejaksaan Agung untuk menyampaikan petisi yang menuntut eksekusi dan vonis terhadap Dularte dibatalkan karena menurut perundangan Indonesia, seorang penyandang gangguan jiwa tak bisa dipidana dan justru harus diobati. Selain mendatangi Kejaksaan Agung mereka sebelumnya mendatangi Komnas HAM Kamis (05/03) untuk mengadukan persoalan Rodrigo Gularte ini.

Sedangkan sekelompok aktifis GRANAT (Gerakan Anti Narkotika dan Psikotropika) Cabang Cilacap, Jawa Tengah, meminta Pemerintah Indonesia menolak tawaran pertukaran tahanan dari Pemerintah Australia. Aktifis juga meminta eksekusi mati dipercepat.

(BNC/ist/BBC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.