Eksekusi mati: Dibalik nama palsu Raheem dan permintaan terakhirnya

raheem agbaje salamiBanyumasNews.Com – Salah satu dari 10 terpidana mati  yang dalam beberapa hari ke depan akan menjalani eksekusi di Nusakambangan, diketahui bernama Raheem Agbaje Salami, diberitakan berkewargaan Spanyol. Namun jati diri sebenarnya dari Raheem Agbaje Salami disampaikan oleh kuasa hukumnya, Utomo Karim, yang menyatakan nama asli kliennya itu bukanlah Raheem Agbaje Salami.

Lho, siapa dia sebenarnya? Menurut Utomo Karim hari ini di Cilacap (05/03/15), nama asli kliennya itu adalah Jamio Owolabi Abashin, dengan nama baptis Stephanus, dan kewarganegaraan yang sebenarnya adalah Nigeria.

Adanya anggapan Raheem alias Jamio Owolabi Abashin berasal dari Spanyol karena paspor yang bersangkutan dibuat di Cordova yang berada di Afrika, bukan Cordoba yang berada di Spanyol.

Saat ini menurut Utomo Karim, data asli kliennya masih berada di Nigeria.

Utomo menceritakan awal bagaimana si Raheem atau Jamio ini tertangkap, berdasarkan cerita dari kliennya itu. Peristiwa tertangkapnya dia berawal dari keinginannya untuk bermigrasi ke Kanada. ”Saat itu, sebelum pergi ke Kanada, dia sempat singgal di Malaysia, karena dia dijanjikan seseorang di negara itu yang akan membawanya langsung ke Kanada,” kata Utomo.

Di Malaysia Raheem tertangkap aparat imigrasi setempat, karena overstay selama lebih dari dua tahun. Dia kemudian dideportasi dan paspor aslinya ditahan. Masalah timbul karena dia tidak dideportasi ke negara Nigeria melainkan hanya sampai di Bangkok, Thailand. Dia kota ini, dia sempat terlunta-lunta sampai kemudian bertemu seseorang yang berjanji bisa membuatkan paspor baru. Namun untuk itu, dia harus mau mengirim sesuatu ke Surabaya. Nah, saat mengantar heorin inilah, di Bandara Juanda Surabaya Raheem tertangkap.

Raheem sebelum dibawa ke Nusakambangan, mendekam di penjara Madiun.

Apa permintaan terkahir Raheem? Dilansir Tempo.co Terpidana mati ini punya 3 permintaan terahir, yaitu (1) Ingin jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Serayu, Kota Madiun, secara Katholik. (2) Raheem ingin mendonorkan kornea dan ginjalnya kepada orang yang membutuhkan, dan (3) Bisa menelepon keluarganya yang berada di Nigeria.

Permohonan terakhir Raheem itu disampaikan tertulis pada 2 Maret 2015 dan ditujukan kepada jaksa pelaksana eksekusi di Nusakambangan, dengan tembusan kepada Kejaksaan Tinggi Jawa Timur; Kejaksaan Negeri Madiun; Kedutaan Besar Nigeria di Jakarta; kuasa hukumnya, Utomo Karim; dan arsip. (BNC/ist*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.