Mengenal kiprah dakwah Ustadz Hasan A Makarim, sang pendamping terpidana mati

hasan a makarimHari-hari ini kesibukan Ustadz Drs. Hasan A Makarim bertambah padat dan berat, seiring makin dekatnya pelaksanaan eksekusi terpidana mati di Nusakambangan. Siapa sosok ulama yang mulai dikenal luas oleh publik sebagai rohaniawan ‘sang pendamping’ narapidana yang beragama Islam, selama dalam isolasi menjelang eksekusi hukuman mati di Lapas Nusakambangan itu? Dan bagaimana dia selama ini menghadapai ‘warga binaan’ Nusakambangan yang dikenal angker, selama puluhan tahun ‘berdakwah’ di Nusakambangan?

Bagaimana sosok Ustadz Hasan A Makarim, yang juga salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cilacap ini, berikut sekilas tentang Ustadz Hasan A Makarim disarikan dari berbagai sumber dan beberapa kali pertemuan dengan beliau.

Namanya mulai dikenal luas ketika menjadi pendamping terpidana mati Amrozi CS, karena dialah satu-satunya rohaniawan atau dai yang diterima Amrozi CS karena statusnya yang bukan seorang PNS. Pria kelahiran Bogor, 15 Januari 1959 ini, sejak tahun 1991 sudah bolak-balik dakwah di Lapas Nusakambangan.

Di Nusakambangan terdapat 6 Lapas, yaitu Lapas Batu, Lapas Terbuka, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning, Lapas Narkoba, dan Lapas Permisan. Ke-6 lapas itu ia kunjungi secara bergantian dari Senin sampai Kamis, dan sudah menjadi jadwal tetapnya untuk berdakwah ke Nusakambangan.

Metode hadapi napi

Ustadz Hasan memiliki metode yang khas menghadapi para napi, dan bisa menjadi tips tersendiri bagi siapa saja dalam berkomunikasi dengan mereka. Dalam menghadapi para napi ia menggunakan metoda konseling dalam melakukan pembinaan. Konseling diawali dengan tausiyah dari Ustadz Hasan, kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Warga binaan terdiri dari para napi, di dalamnya termasuk warga binaan kelas berat yang hukumannya di atas 10 tahun hingga hukuman mati.

Ada yang tersangkut kasus perampokan, pembunuhan, dan pengedar ganja. “Sekarang ini saya lebih mengedepankan metode konseling untuk melakukan pendekatan kepada warga binaan. Dengan cara ini, alhamdulillah, hasilnya lebih signifikan,” kata Ustadz Hasan, seperti dikutip Suara Hidayatullah.

Tidak jarang pada saat konseling warga binaan menyampaikan curahan hatinya. Baik masalah keluarga atau hukuman. Namun, Ustadz Hasan selalu menghadapinya dengan penuh empati. Menurut Hasan, inilah salah satu kunci sukses dakwah di dalam Lapas.

“Sikap empati harus selalu ditampilkan, berusaha menyatu dengan mereka, serta membangun komunikasi yang persuasif,” saran Hasan. Makanya, ia tak segan-segan mengucapkan salam dan bertanya kabar kepada warga binaan yang ditemui di dalam Lapas. Bagi warga binaan, sikap itu sangat berkesan. Sehingga tak jarang dengan cara ini warga binaan yang masih malas-malas ke masjid, berhasil ia tarik untuk shalat atau ikut pengajian di masjid.

Lapas Permisan Nusakambangan
Lapas Permisan Nusakambangan

Awal terjun dakwah ke Nusakambangan

Ustadz Hasan sudah selama 25 tahun berdakwah di dalam Lapas Nusakambangan dan berbagai aktivitas dakwah di Cilacap. Awalnya terlibat dalam aktifitas dakwah di Nusakambangan adalah ketika di tahun 1985 dia diajak oleh seorang dai senior ke Cilacap. Dai senior itu menyampaikan tentang tantangan dakwah di Nusakambangan, yang banyak dikesankan sebagai pulau angker dan penghuninya yang mengerikan.

Dari cerita itu dia merasa penasaran ingin mengunjungi pulau itu. Lantas oleh dai senior itu dia datang ke Nusakambangan dan dikenalkan Pak Mirza, yang saat ini menjadi kordinator Lapas Nusakambangan. Singkat cerita sejak 1991 Ustadz Hasan mengikrarkan diri untuk total berdakwah di Nusakambangan.

Lapas Super Maximum Security Nusakambangan
Lapas Super Maximum Security Nusakambangan

Diceritakan, saat pertama kali dia datang, penghuninya (para napi) terlihat sangat seram, hal yang berbeda dengan kondisi sekarang. Dulu Nusakambangan masih menggunakan pendekatan seperti penjara. Ada jarak dengan para napi, kewaspadaan harus sangat diperhatikan betul. Makanya, dulu waktu berdakwah dia dikawal oleh petugas yang bersenjata api dan pentungan. “Tapi situasi itu saya anggap sebagai romantika dalam dakwah yang harus dinikmati”, katanya.

Menurut Ustadz Hasan, kepada warga binaan harus dihindari berbicara tentang masalah dan masa lalu mereka. Topik pembicaraan hanya tentang perbaikan-perbaikan ke depan. Ibadah, kemudian sosialisasi hablumminannas. Menurut nya mereka sangat sensitif, dan jika ada masalah bisa meninggalkan masjid.

Ustadz Hasan memerlukan waktu sekitar 2-3 tahun untuk bisa menyesuaikan diri dengan situasi Lapas. Cukup lama karena dulu di awal-awal dia terjun ke Nusakambaangan intensitasnya datang ke Nusakambangan tidak begitu sering. Kendalanya adalah fasilitas jalan yang rusak dan logistic yang terbatas. “Jarak yang sebenarnya dekat, tapi karena fasilitas jalan yang sangat rusak, harus mempunyai energi yang cukup. Bahkan dulu jika ke sana, saya harus bawa perbekalan logistik, sebab tidak ada warung-warung seperti sekarang”, kenangnya.

Bagaimana pendekatan pada warga binaan baru yang memerlukan bimbingan? Untuk warga baru ini sesuai peraturan di Lapas, penghuni baru harus melalui proses isolasi. Setelah mereka selesai proses itu baru bisa dilibatkan pada kegiatan ceramah di masjid/mushalla. Yang kita harus antisipasi sebagai Pembina adalah pengaruh warga binaan baru kepada warga binaan yang sudah cukup lama. Ada masa transisi agar mereka bisa bersatu dengan yang penghuni lama.

Tentang mengapa harus dengan metode konseling ia mengatakan program ceramah umum yang dilakukan selama ini meski ada hasilnya, tapi kurang efektif. Dengan individual conseling, hasilnya lebih nyata dan signifikan. Biasanya diikuti oleh 3 -4 orang. Ada warga binaan yang hukuman mati belum aktif ke masjid, begitu ikut konseling, dia jadi aktif ke masjid. Kedekatan saat konseling membuat rasa persaudaraan meningkat, serta mendorong mereka untuk giat beribadah. Bahkan mereka menjadi rindu dengan kehadiran kita. Mereka lebih leluasa bertanya keagamaan, mereka haus dengan ilmu agama.

Para napi biasanya, dalam sesi konseling itu, mereka berkisah tentang masa lalu masing-masing. Lalu mereka bertanya tentang taubat mereka. Bagaimana sikap Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap dosa-dosa manusia? Selain itu, mereka banyak yang meminta buku-buku agama, seperti buku Hadits, tafsir, buku tentang taubat, juga buku-buku doa. Kita kurang sekali buku-buku keislaman.

Ia juga menyampaikan perlunya penambahan dai untuk membina para napi. Pertama, paling diperlukan, di setiap Lapas harus ada pegawai lulusan IAIN atau sekolah agama, setingkat S1 sebagai koordinator pembinaan. Kedua, diharapkan lembaga dakwah yang ada bisa mengirimkan dainya ke Nusakambangan. Sehingga dakwah di dalam Lapas bisa lebih gencar lagi. Misalnya dengan pembinaan keislaman pada malam hari, dengan shalat malam, pencerahan, dan konseling. Insya Allah, hasilnya lebih maksimal. Mungkin nanti alasannya keamanan, makanya tidak perlu banyak-banyak, cukup 5 orang. Ditemani dengan beberapa orang dai.

Latar belakang sebagai aktifis

Debut dakwah Ustadz Hasan A Makarim di Nusakambangan tidak lepas dari kepindahannya ke Kabupaten Cilacap. Setelah menikahi wanita kelahiran Cilacap, Anisah Muhammad Bawazier, ia pun langsung mengabdikan dirinya untuk berdakwah di kabupaten terluas di Jawa Tengah ini. Menurut Hasan, tantangan dakwah di Kabupaten Cilacap cukup hebat. “Selain tantangan dari umat lain, juga kondisi masyarakat yang masih banyak percaya pada keyakinan kejawen,” ujar Hasan.

Sementara, kenang Hasan, lembaga dakwah yang ada di Cilacap belum tersinergi secara baik. Belakangan, dengan kegigihan Ustadz Hasan dan beberapa dai, lembaga-lembaga dakwah yang ada, seperti Badan Dakwah Islam Pertamina, Al-Irsyad, NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah, dan beberapa organisasi lain bisa tergabung dalam Forum Kerjasama Dakwah.

Masa awal dakwah di Cilacap tidak mudah. Sebagai pendatang baru, ia harus bersilaturahim ke berbagai lembaga dakwah yang ada. “Termasuk juga dengan pejabat daerah, departemen agama, dan lembaga dakwah,” katanya.

Tentang pilihannya berdakwah di Nusakambangan sempat ditentang kawan seprofesinya. “Buat apa ke sana? Di sini juga sangat membutuhkan,” protes kawannya. Hasan kemudian menjawabnya dengan tenang, “Kalau Allah izinkan dengan dakwah di sana akan menyadarkan seorang preman menjadi orang baik, itu kan investasi mahal. Ketika dia pulang nanti akan menentramkan jutaan orang di lingkungannya,” katanya menjelaskan. Kawan Hasan itu terdiam.

Dalam menjalankan tugas dakwah ini menurut Ustadz Hasan kadang mendapat apresiasi dalam bentuk tunjangan transport dari BAZMA (Badan Amil Zakat Pertamina), sedangkan dari Lapas ada juga, tapi tidak rutin.

“Makanya ke sana itu jangan berharap apa-apa, tapi justru membawa apa-apa. Prinsip saya, kalau ke sana jangan sampai merepotkan. Di sana daerahnya sudah cukup terisolir, karyawan-karyawan di sana juga titik jenuhnya cukup tinggi. Makanya saya pernah usul ke Dirjen Pemasyarakatan, rotasi mutasinya lebih dipercepat dibandingkan lapas-lapas lain. Kalau nggak, dikasih tunjangan khusus. Di sana mereka cepat jenuh”, kata ustadz yang ketika muda aktif di Youth Islamic Study Club (YISC) Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta itu.

Soal dakwah dan pemahaman keislaman, Hasan A. Makarim banyak menimba ilmu dari tokoh-tokoh Islam. Menurut pengakuannya, saat masih aktif di Youth Islamic Study Club (YISC) Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta, ia banyak berguru kepada Buya Hamka, M. Natsir, dan Zakiah Darajat. Ketika itu, sekitar tahun 1979, ia bersama Jimly Ash Shiddiqi dan Yusril Ihza Mahendra kerap mengadakan kajian keislaman setiap Sabtu-Ahad.

Ia juga mendapat bimbingan dari sang ayah, A. Makarim. Ayahnya yang menguasai ilmu tafsir, aku Hasan, sangat tegas dalam soal agama, terutama masalah shalat. “Waktu kelas tiga SD, saya pernah dipukul karena telat shalat Ashar, gara-gara asyik main bola,” kenangnya.

Selain itu, pendidikan orangtua yang mempengaruhinya hingga kini adalah masalah kemandirian.

Demikian juga dalam mendidik tiga buah hati; Rusydi Makarim, Nabiel Makarim, dan Ahmad Zacky Makarim. Hasan berusaha istiqamah dalam menerapkan agama di keluarga. Meski tiga anaknya telah dimasukkan dalam sekolah Islam, ia tetap menanamkan nilai-nilai agama di rumah. “Biasanya ada kesempatan pada malam hari, sebab anak-anak sudah sekolah full-day,” katanya, yang bersama keluarga tinggal di rumah sederhana di Jl Perintis Kemerdekaan, Cilacap.

Selain sebagai dai di Nusakambangan, Hasan punya sederet kesibukan lainnya. Ia dipercaya sebagai Ketua MUI Kabupaten Cilacap, pengurus ICMI Kabupaten Cilacap, Wakil Ketua Badan Amil Zakat (Bazda) Kabupaten Cilacap, dan pengurus di Yayasan Anak Spesial. Amanah-amanah itulah yang membuat Hasan tetap bertahan di Cilacap. Padahal, tawaran untuk berdakwah dan menetap di Jakarta beberapa kali mendatanginya. Termasuk dari Adi Sasono, yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Koperasi dan UKM.

Hari-hari ini tugas ustadz Hasan A Makarim kembali berat, mendampingi narapidana muslim yang akan menjalani eksekusi mati … (BNC/Phd)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.