Home industry rebana Kaliwadas Bumiayu kini di tangan generasi ketiga

rebana kaliwadas amfUsaha produksi rebana sebagai home industry di Desa Kaliwadas, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, kini sudah berada di tangan generasi ketiga. Hal ini terungkap ketika BanyumasNews.Com berkesempatan jalan-jalan ke desa Kaliwadas, Bumiayu, yang berjarak sekitar 50 km dari Purwokerto.

Rebana adalah perkusi yang telah melekat begitu lama dan terkait sangat erat dengan seni tradisi Islam, karena dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian dengan konten syair yang penuh dakwah, puji-pujian kepada nabi, sholawat, dan nyanyian Islami lainnya.

Rebana sebagai alat musik yang ditepuk, yang mengeluarkan bunyi-bunyian dengan tepukan (pukulan degan telapak tangan terbuka), terbuat dari bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa berbentuk melingkar, kemudian di satu sisi ‘ditutup’ dengan kulit kambing. Rebana diproduksi dalam berbagai ukuran, dan dalam 1 set rebana (6-8 rebana) terdiri dari 6-8 rebana. Ukurannya berbeda-beda dilihat dari medium atau diameter lingkarannya.

Kayu yang bagus untuk membuat rebana adalah sawo, sono keling, mangga.

Toko rebana Kaliwadas Bumiayu (@puadhasan)
Toko rebana Kaliwadas Bumiayu (@puadhasan)

Kaliwadas Bumiayu adalah satu dari hanya sedikit sentra produksi rebana di Indonesia. Daerah lain yang dikenal sebagai daerah home industry rebana adalah Gresik dan Jepara. Namun dari segi kwantitas (jumlah) produksi, Bumiayu masih menguasai dibandingkan daerah lain.

Sejarah rebana Kaliwadas Bumiayu

Banyak versi kapan dan siapa yang pertama kali merintis produksi rebana di Kaliwadas, Bumiayu. Ada yang mengatakan dimulai tahun 1950-an, ketika ada seorang dari Jatilawang, Banyumas, yang menenalkan pembuatan rebana.

Namun versi yang lebih awal disampaikan oleh H Abdullah Mufid (48), yang mengatakan ia adalah generasi ketiga dari usaha yang dirintis oleh kakeknya yang bernama Kartangi atau kemudian dikenal dengan nama H Abdul Azis setelah naik haji. Menurut Abdullah, pada sekitar tahun 1930-an, kakeknya Kartangi belajar membuat rebana di Tegal. Hasil belajarnya itu dicoba dipraktekan di desanya, di sela-sela kesibukan sebagai petani.

Berikutnya diteruskan anak-anak H Abdul Azis sebagai generasi kedua dan saat ini sudah generasi ketiga. Boleh dikatakan, pengusaha-pengusaha rebana Kaliwadas saat ini yang skalanya besar adalah dari keturunan keluarga atau Bani Abdul Aziz ini. Meskipun tentu saja ada muncul pengusaha di luar Bani Abdul Aziz, seperti misalnya dari para perajin yang semula bekerja untuk para pengusaha itu kemudian keluar membuat produksi dan pemasaran secara mandiri.

Rebana adalah perkusi yang telah melekat begitu lama dan terakait sangat erat dengan seni tradisi Islam, karena dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian dengan konten syair yang penuh dakwah, puji-pujian kepada nabi, sholawat, dan nyanyian Islami lainnya.

Pasang surut penjualan rebana ini terkait dengan tumbuh berkembangnya seni qasidah, hadrah, gambus. Maraknya festival qasidah yang diadakan LASQI (Lembaga Seni Qasidah Indonesia) dan lomba Mata Pelajaran dan Seni Indonesia (MAPSI) ikut mendorong penjualan rebana. Gerakan sholawat dengan iringan tabuhan, Maulid Simtudduror oleh Al-Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf juga termasuk yang mendorong larisnya rebana.

Inovasi

Dari kerajinan membuat rebana ini, desa Kaliwadas pada level berikutnya juga mempu membuat marawis, kendang, bedug hingga berkembang ke alat musik modern seperti drum band dan marching band.

Bedug Kaliwadas Bumiayu (@puadhasan)
Bedug Kaliwadas Bumiayu (@puadhasan)

Di sepanjang jalan di desa Kaliwadas, sekitar 2 kilometer dari kota Bumiayu, terdapat toko-toko yang memajang rebana, marawis, kendang, bedug dan drum band/marching band. Di sepanjang jalan di desa Kaliwadas, sekitar 2 kilometer dari kota Bumiayu, terdapat toko-toko yang memajang rebana, marawis, kendang, bedug dan drum band/marching band. Banyak pembeli luar kota yang sengaja datang ke Kaliwadas untuk membeli langsung atau melakukan pemesanan.

Ada yang disebut perajin, yang membuat barang-barang itu dari bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Kemudian ada pengepul (lebih tepat disebut pengusaha) yang membeli hasil kerajinan ini untuk dipasarkan. Ada yang menjual ke pengepul dalam bentuk sudah jadi, ada pula yang setengah jadi untuk kemudian dilakukan finishing oleh tukang-tukang yang bekerja pada para pengusaha ini.

H Abdullah Mufid kini generasi ketiga (@puadhasan)
H Abdullah Mufid kini generasi ketiga (@puadhasan)

Para pengusaha yang sudah turun-temurun menggeluti industri ini yang menguasai jaringan pasar. H Nurohman diketahui sebagai pengusaha terbesar rebana di Kaliwadas, yang usahanya saat ini tidak hanya rebana dan alat musik perkusi, tapi merambah ke SPBU. Wilayah pemasaran selain Pulau Jawa, juga merambah ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Juga sekitar 5 persen pasar adalah ke negara serumpun seperti Malaysia dan Brunei.

Pemasaran bisanya akan meningkat ketika bulan Ramadhan, juga saat berlangsungnya Pilkada atau Pileg. Banyak kandidat dalam pilkada dtau pileg yang memberikan rebana, marawis, bedug atau alat merching band untuk diberikan kepada konstituen.

Beberapa pengusaha memasarkan produk rebana secara online. Kalau Anda googling, maka akan menemui beberapa situs dari Kaliwadas Bumiayu yang menjual rebana dan alat musik perkusi lain secara online. Namanya berpromosi, tentu saja produk mereka masing-masing mengaku sebagai ‘paling bermutu’, kalau tidak mengatakan sebagai ‘yang pertama’ dan ‘pewaris’ dari kerajinan rebana Kaliwadas yang legendaris.

Menurut Abdullah, sekarang ini banyak perajin-perajin yang kreatif dengan membuat model-model rebana, marawis dan produk lain dengan inovasi yang menawan. Ada sentuhan seni, variasi warna, ornamen yang memikat, mesik fungsi dasarnya sama yaitu sebagai alat yang menghasilkan bunyi-bunyian untuk membentuk irama dalam bermusik.

Rebana Kaliwadas Bumiayu sudah mendunia, bagaimana perhatian Pemkab Brebes? Beberapa tahun lalu pernah diadakan studi bandig ke Bandung dengan biaya Pemkab untuk para perajin. Yang belum terealisir adalah ide pembentukan koperasi sebagai wadah para perajin yang sempat dicita-citakan. (BNC/phd)

Kaliwadas tidak hanya memproduksi rebana, tapi juga peralatan drumband (@puadhasan)
Kaliwadas tidak hanya memproduksi rebana, tapi juga peralatan drumband (@puadhasan)

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.