Mengais berkah booming batu Kali Klawing

belah batuPURBALINGGA – Demam batu akik dari kali (sungai) Klawing Purbalingga membawa berkah tersendiri bagi sebagian penduduk yang pandai melihat peluang usaha batu akik ini. Dari para pencari batu langsung di kali (sungai) Klawing, perajin perhiasan, tukang potong atau belah batu, dan toko-toko penjual emban (cincin, liontin, bross, dll). Perajin emas pun ketiban rejeki karena meningkatnya permintaan pembuatan aneka perhiasan untuk dijadikan emban batu terutama untuk penyepuhan emban dengan lapisan emas.

Salah satunya yang mendapat berkah dari moncernya batu akik Klawing adalah Seno (37). Ia dengan cerdik membuka lapak yang melayani pembelahan atau pemotongan material (bahan) berupa batu yang masing blonos menjadi beberapa bagian untuk memudahkan perajin perhiasan membentuk jenis hiasan yang diinginkan. Selain itu pembelahan batu juga untuk mencari dan menemukan kualitas batu yang ada di dalamnya.

Lokasi lapak Seno sangat strategis, berada di sebelah timur bendung sungai Klawing yang melintas di Desa Slinga, Kecamatan Kaligondang. Di atas bendungan itu ada jembatan penghubung antara  Desa Slinga, Kecamatan Kaligodang dengan Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari yang memudahkan akses menuju lokasi bendung. Dari lokasi bendug Slinga sekitar 500 meter ke utara terdapat jembatan gantung kali Klawing dimana di kali di sekitarnya banyak orang terjun ke sungai untuk  berburu batu yang bisa dijadikan perhiasan. Bendung Slinga ini bisa diakses dari perempatan pasar Bojongari ke timur. Kalau dari timur dari Purbalinga ambil jalan arah Kaligodang, tanya penduduk sekitar arah bendung Slinga pasti banyak yang tahu.

Nah dari para pemburu batu itu, Seno meraih rejeki. Hasil buruan langsung dibelah. Batu sebesar kepalan tangan dikenai ongkos 5000 rupiah, yang lebih besar 10.000 rupiah sekali potong atau sekali pembelahan. Untuk memotong ini Seno bermodalkan mesin pemotong, yang mirip mesin untuk pembelahan kayu, hanya saja mata pisau adalah dari pisau yang memang kuat untuk memotog batu dan diganti setiap 4 hari sekali. “Saya harus mengganti pisau yang harganya 400 ribu setiap 4  hari, karena kerasnya batu mempercepat tumpul mata pisau”, kata Seno.

Mesin potong atau pembelah batu itu menurut Seno hanya untuk meramaikan lapaknya. “Jualan utama saya material atau bahan. Untuk menarik penunjung saya sediakan mesin. Mereka yang mencari langsung dari sungai pengin tahu kualitas buruannya dengan dibelah. Nah dari keramaian itu lalu tanya-tanya bahan yang bagus”, lanjut Seno sambil menambahkan bahan yang kualitas bagus sebenarnya berada di hulu, bukan di daerah sekitar jembatan gantung Klawing di Sindang Mrebet itu. Di depan lapaknya pun ada onggokan batu kali Klawing.

 

Batu Sungai Klawing di depan lapak Seno (@puadhasan)
Batu Sungai Klawing di depan lapak Seno (@puadhasan)

Lapak Seno selalu ramai, terlebih di hari Sabtu-Minggu atau hari libur. “Kadang sampai jam sebelas malam banyak orang kumpul di sini mas”, kata Seno.

Memang akhir-akhir ini banyak orang dari luar Purbalingga datang ke kali Klawing untuk berburu langsung batu, sambil jalan-jalan melihat pemandangan sekitar kali Klawing yang memang indah. Batu Klawing telah menjadi ikon pariwisata Purbalingga tersendiri, terlihat dari banyaknya kios/toko yang menjual aneka perhiasan dari batu Klawing sepanjang jalan Bobotsari-Purbalingga. Apabila Anda berminat ke sana, langsung terjun ke kali Klawing, sebaiknya menggunakan sepeda motor, agar lebih leluasa memasuki jalan-jalan pedesaan Purbalingga.

Batu Klawing memberi  berkah banyak orang termasuk Seno, sampai kapan? (BNC/phd/foto: @puadhasan)

Suasana di lapak Seno, memilih dan memilah batu (@puadhasan)
Suasana di lapak Seno, memilih dan memilah batu (@puadhasan)
Jembatan gantung kali Klawing di Sindang (@puadhasan)
Jembatan gantung kali Klawing di Sindang (@puadhasan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.