Mitos babi ngepet atawa bagong liyer

celengSuatu hari saya menulis sebuah status di Facebook, dengan topik “Pemadaman listrik, hati-hati nyalakan lilin”. Sahabat saya semasa sekolah Eko Hape, yang sekarang berdomisili di Kupang (NTT) dengan menangguk segala kesuksesan, memberi komentar begini :

“Tiap lampu PLN mati, mesti pakai lilin dan selalu harus dijagain persis kayak wong lagi golet (mencari) kesugihan BABI NGEPET”.

Kata-kata “Babi Ngepet” tadi menginspirasi saya menulis ini. Cerita babi ngepet sudah saya dengar dari orang-orang yang dituakan saat saya masih di Sekolah Dasar, juga dari bacaan-bacaan saat itu. Ada yang beranggapan cerita ini hanya mitos belaka, tapi ada pula yang meyakini kebenarannya. Sampai sekarang pun saya tidak tahu, masih adakah kepercayaan saperti itu. Semoga saja ini hanya mitos yang kebenarannya diragukan. Tapi, bagaimanapun inilah cerita-cerita yang berkembang di tengah masyarakat Banyumas atau di budaya Banyumasan. Bahkan mugkin di daerah lain.

Di masyarakat yang namanya babi ngepet atau bagong liyer adalah “ilmu” mencari pesugihan. Kodhok ijo, kandhang bubrah, nyai blorong sama seperti babi ngepet adalah jenis pesugihan. Orang bisa kaya raya, jika memiliki pesugihan.

Orang dapat memiliki pesugihan babi ngepet, menurut cerita para tetua itu, jika orang itu mau bersekutu dengan setan dengan syarat maha berat: ia harus merelakan hidupnya sendiri kepada kekuatan jahat. Sebagai imbalannya, kekuatan jahat akan membantunya untuk memperoleh kekayaan dunia tanpa batas. Wow!

Dengan pesugihan babi ngepet, orang dapat mengubah dirinya menjadi celeng, kemudian berkeliaran, mencuri dan mengeruk barang, harta kekayaan tanpa diketahui oleh siapa pun. Babi ngepet atau ada yang menyebut juga celeng gontheng suka mendatangi orang yang sedang punya hajatan. Karena di sana ada banyak uang atau barang hasil sumbangan. Dengan mudah babi ngepet itu menyerot semuanya tadi.

Karena itu dulu di desa-desa, jika orang sedang punya hajatan (mbarang gawe/duwe gawe) –apakah hajatan memantu ataupun khitanan anak, ia akan menutup got atau paceran saluran air dan kotoran. Sebab dipercaya di sanalah biasanya babi ngepet menunggu, lalu menyerot semuanya lewat saluran itu. Jika saluran tertutup, babi ngepet akan kesulitan melaksanakan kemauannya.

Menurut cerita lagi, saat babi ngepet menjalankan tugas, isteri si pemilik pesugihan babi ngepet senantiasa berjaga. Si isteri menjaga senthir (lampu minyak), jangan sampai senthir di hadapannya mati. Kalau senthir itu mati berarti suaminya mati, atau kalau “kebat-kebit” cahayanya, berarti suaminya berada dalam bahaya.

Kendati demikian, babi ngepet tetap bisa ditangkap oleh masyarakat asalkan orang-orang desa mau prihatin dan berpuasa, memohon kepada “roh baik” untuk menyelamatkan mereka dari celeng jadi-jadian itu. Jika tertangkap, orang desa akan segera mencacah dagingnya sebelum dikubur, jika tidak tidak dicacah, menurut kepercayaan babi ngepet akan hidup lagi. Hiii… ngeri ya?!

Pembaca budiman, cerita ini hanyalah cerita tempo doeloe, yang saya anggaap hanyalah mitos belaka.

*) diceritakan oleh Iman Nurtjahjo, tinggal di Purwokerto, aktif sebagai pelukis pinsil (Sanggar Loekis) dan penulis masalah sosial-budaya

Iman Nurtjahjo
Iman Nurtjahjo

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.