Ketika era ‘buka mulut’ dilarang — Dopokan ala Iman Nurtjahjo

Iman Nurtjahjo
Iman Nurtjahjo

Dulu pada masa Orde Baru (Orba), yang namanya ‘buka mulut’, istilah lain untuk mengkritik –terutama buka mulut mengkritik penguasa — dianggap tabu alias diharamkan. DPR saja yang memiliki fungsi kontrol terhadap pemerintah tidak berani mengkritik pemerintah, mereka lebih memilih bersikap “yes man” dan menjadi “tukang stempel” terhadap kebijakan penguasa, demi amannya diri sendiri, keluarga dan kelompok. Sampai-sampai saat itu ada lelucon begini:

Seorang pasien sakit gigi datang ke dokter gigi di Singapura. Tentu saja sang dokter sebelum mengobati gigi pasien bertanya lebih dulu:

Dokter: “Mengapa Anda hanya akan memeriksakan gigi saja harus datang kemari? Apakah di Indonesia tidak ada dokter gigi?”
Pasien: “Oh… ada, malah banyak sekali dokter gigi di Indonesia”
Dokter: “Banyak,  tapi tak berkualitas?”
Pasien: “Yang berkualitas juga banyak, dok”
Dokter: “Tapi mengapa Anda hanya akan memeriksa gigi kok harus datang jauh ke Singapura?”
Pasien: “Ini masalahnya, di Indonesia dilarang buka mulut”

Dokter : “….%#????”

Lelucon itu sebenarnya ingin bercerita kalau di Indonesia, kritik itu tabu saat itu. Lebih-lebih kritik kepada kepemimpinan nasional.

Bagaimana kritik, buka mulut, di era sekarang yang disebut sebagai era reformasi? Buka mulut sekarang ini boleh selebar-lebarnya, sangat bebas,  bahkan bisa diartikan bebas sebebas-bebasnya.

Saking bebasnya, hampir semua kebijakan eksekutif dikritik, tak ada satu pun kebijakan yang luput dari kritik, semua dicari titik lemahnya, terlebih yang tidak berkenan di hati. Bahkan dalam “buka mulut” di era ini, penyampaian kritik terkesan sudah mengabaikan norma etika dan memakai kata-kata yang menjurus kasar.  Misalnya dengan enteng orang mengatakan atau menulis: “menteri goblok, amatiran”,  bahkan ada yang bilang: “Mau muntah rasanya melihat tingkah menteri itu”.

Demikian pula kalau kita baca di media sosial (medsos) facebook dan tweeter, banyak tanggapan dari masyarakat terhadap tokoh, menteri, anggota DPR, keluarga pemuka agama yang bicaranya terkesan “asbun”, nyleneh, akan ditanggapi dengan kata-kata tak senonoh jauh dari sopan santun.

Kritik memang perlu dan diperlukan. Namun apakah harus dengan kata-kata kasar tak senonoh? Ini tantangan bagi kebudayaan kita…

 *) Iman Nurtjahjo tinggal di Purwokerto, aktif sebagai pelukis pencil (Sanggar Loekis) dan aktif menulis tentang sosial-budaya, khususnya dopokan Banyumasan di medsos.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.