Gama Stent, Ring Jantung Buatan UGM

Prototipe ring jantungYOGYAKARTA – Penyakit jantung koroner adalah pembunuh nomor satu di di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia WHO melaporkan penyakit stroke dan jantung koroner menjadi penyebab 80 persen kematian penduduk dunia. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memperkirakan hingga tahun 2030, ada 25 juta penduduk Indonesia diperkirakan meninggal akibat penyakit jantung koroner dan stroke. 

Untuk mengurangi penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup pasien stroke dan penyakit jantung koroner, Tim Peneliti Fakultas Kedokteran mulai mengembangkan ring jantung atau lebih dikenal dengan nama stent. Fungsi ring jantung adalah untuk memperlancar pembuluh darah, menghilangkan penyempitan, menghilangkan sumbatan, dan mengurangi kemungkinan nyeri serta serangan jantung.

Penelitian ini digagas karena begitu mahalnya harga ring jantung yang rata-rata produk impor dari luar negeri. Dengan harga ring jantung yang begitu mahal di pasaran, masyarakat miskin tak akan mampu untuk mengakses. Stent atau ring jantung sangat berguna untuk mengurangi nyeri jantung dan meningkatkan uai harapan hidup.

Di pasaran ada beberapa jenis stent, diantaranya Bare Metal Stent (BMS), Drug Eluting Stent (DES) dan Bioabsorbable stent. Sampai saat ini tim FK UGM baru mengembangkan jenis BMS, padahal perkembangannya sudah sampai pada tahap bioabsorbable stent. Bare Metal Stent (BMS) adalah stent yang terbuat dari metal ini dengan dilapisi obat. Dari berbagai ukuran stent yanga ada di pasaran, stent paling panjang berukuran 36 mm, paling kecil 2,25 mm, paling besar 4 mm. Sementara  Gama stent, ring jantung buatan Hariadi ini berdiameter 2 mm dengan panjang 20 mm. “Pengembangan stent memerlukan waktu yang cukup lama. Pembuatan stent dimulai dari penelitian biomolekuler, namun kita memulainya dengan membuat prototipe stent.,” tutur dr. Hariadi Hariawan, Sp.PD, SpJP(K) selaku anggota tim peneliti kepada wartawan, Kamis (11/12).

Harga prototite stent buatan tim riset rekayasa biomedik UGM ini rencananya akan dijual dengan harga dibawah  Rp 9 juta. Harga tersebut masih dibawah harga stent impor yang mencapai di atas Rp 20 juta

Dikatakan oleh Hariadi, pemasangan Stent dilakukan melalui urat nadi tangan, dengan posisi pasien telentang. Stent kemudian dimasukkan melalui cateter  menuju ke arah jantung. Dari jantung, cateter akan masuk di pembuluh darah besar bagian bilik kiri. Setelah stent terpasang di dinding pembuluh darah maka pembuluh darah akan mengembang. “Stent nantinya akan menekan dinding pembuluh darah dan akhirnya melebar,” papar dokter spesialis jantung ini.

Tindakan pemasangan stent merupakan tindakan non bedah dengan tindakan menusuk bukan menyobek tubuh. Stent akan terpasang selama hidup di tubuh manusia. “Jika stent rusak maka pembuluh darah akan menyempit kembali yang nantinya akan menimbulkan rasa nyeri sehingga dibutuhkan pemasangan ulang,” tuturnya.

Meski pembuatan stent masih membutuhkan proses cukup panjang, Hariadi optimis produk ring jantung buatannya ini nantinya bisa diterima dan diproduksi massal. Mengingat kebutuhan pasien akan ring jantung ini dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Di beberapa rumah sakit misalnya kebutuhannya makin meningkat. Di RS Harapan Kita Jakarta kebutuhan akan ring jantung mencapai 2.966 di tahun 2013. Bahkan RSUP Sardjito Yogyakarta membutuhkan sebanyak 927 stent di tahun 2012 yang kemudian meningkat menjadi 1.147 stent pada tahun 2013. Sedangkan di RSUD Sutomo, Surabaya, kebutuhannya naik hampir dua kali lipat, sebanyak 456 stent di tahun 2012 dan 929 stent pada tahun 2013. (hms)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.