Batu Klawing Diangkut Hingga ke Mancanegara

Pameran Cikini2PURBALINGGA – Para pecinta batu Klawing di Jakarta yang tergabung dalam Indonesian Jasper & Klawing Lovers mendesak campur tangan Pemkab Purbalingga untuk menyelamatkan potensi batuan Klawing yang kini telah mendunia. Seiring booming batu Klawing, mereka menyayangkan banyaknya bebatuan Klawing yang diangkut dan diolah ke luar daerah bahkan hingga manca negara.

“Kita punya fakta banyak batu Klawing yang dijual ke buyer di Thailand dan dijual lagi ke Eropa , Perancis, dan lainnya. Tapi batu kita diakui bukan sebagai batu Indonesia. Padahal dari ciri-cirinya itu batu Klawing,” kata Norman Indrajaya, ketua Indonesian Jasper & Klawing Lovers saat berpameran di Cikini Gold Centre, Jakarta, 4 – 7 Desember lalu.

Menurut Norman, kondisi tersebut mengharuskan campurtangan pemkab, agar potensi batu Klawing Purbalingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat di Purbalingga. Selain pengakuan oleh kolektor batu luar negeri, kondisi sumber bebatuan di sungai Klawing juga harus diselamatkan.

“Kami kemarin (4/12), sudah berbincang dengan Pak Bupati (Sukento Rido Marhaendrianto-red) agar pemkab segera menerbitkan perda yang mengatur pemanfaatan batu mulia di Sungai Klawing dan beliau sangat mendukung,” jelasnya.
Keberadaan komunitas Indonesian Jasper & Klawing Lovers yang dibentuk sejak 25 November lalu, akan terus mengenalkan batu Klawing baik di kancah internasional maupun nasional. Selain di CGC Nuansa Nusantara Gems Exhibition, komunitas ini juga diundang oleh Jasper International di Bali Desember 2015. Kesempatan ini, lanjutnya, juga akan digunakan untuk memperkenalkan jasper dan batu Klawing khususnya Nogosui.

Pameran Cikini4“Pastinya kita akan memperkenalkan bahwa inilah batu blood stone dari Indonesia. Selama ini mereka juga nggak tahu. Tahunyablood stone nggak ada di Indonesia. Sementara di Perancis, batu ini sudah menjadi batu bangsawan (Le Sang Du Crist-red),” katanya.
Pihaknya juga diundang Bupati pada event Pameran Pesona Batu Akik Klawing dan Barang Antik yang akan dilangsungkan selama empat hari (11-14/12) di Gedung Kong Kwan, Jalan MT Haryono 1A Purbalingga. Kesempatan ini, menurut Norman, akan dimanfaatkan untuk berkordinasi dengan para petani dan perajin batu di Purbalingga untuk bersama-sama menamakan motif batu Klawing yang banyak sekali jenisnya.

“Misalnya batu Klawing motif Telor Kodok, kalau di internasional namanya Ocean Jasper. Motif Sisik Naga di Spanyol namanya imperial jasper. Tapi kita nggak boleh pakai nama itu, padahal motifnya sama. Jadi kita harus punya penamaan sendiri dan akan kita perkenalkan kepada dunia internasional,” tambahnya.

Pameran Cikini3Dalam kegiatan yang diselenggarakan di pusat jual beli emas terbesar di Jakarta, juga diikuti 7 komunitas perajin batu Klawing dari Purbalingga. Seperti Ngayawara Gemstone dari Bobotsari, Pesona Klawing (Bobotsari), Rajendra Gemstone (Bobotsari), Imam Gemstone (Bungkanel), Kawajra Gemstone (Bojong), Anton Gemstone (Tunjungmuli, Karangmoncol) dan satu peserta dari luar Purbalingga, Pesona Batu Klawing Purwokerto.

“Omset kita sampai Rp 50 juta. Dengan jenis batu yan dipamerkan meliputi Nogosui, Pancawarna, Jasper Klawing, batu gambar dan batu bahan,” jelas owner Ngayawara Gemstone Edy Pamandoblang.
Pada event itu, liontin Nogosui (Simpe Agaate) milik Imam Pratomo, menjadi juara 1 kontes batu Klawing kelas Nogosui.
Pameran di Purbalingga.

Diperoleh informasi dari panitia Pameran Pesona Batu Klawing dan Barang Antik, Adi Purwanto, sedikitnya 30 peserta siap meramaikan pameran batu Klawing terbesar pertama yang ada di Purbalingga. Selain batu Klawing, pameran akan diramaikan oleh stand dari paguyuban UMKM Purbalingga.

“Yang dipamerkan bukan hanya batu-batu kecil yang biasa untuk mata cincin. Ada juga rough atau bongkahan batu besar yang bias untuk hiasan,” katanya.

Rencananya, kegiatan yang akan berlangsung di Gedung Kong Kwan, 11 – 14 Desember, akan dibuka oleh Sekretaris Daerah Imam Subijakto. Setelah pameran ini, kerajinan batu Klawing juga akan kembali dipamerkan dalam Purbalingga Expo 2014, di lapangan Purbalingga Kidul, dekat Stadion Goentor Darjono, 18-24 Desember. (tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.