Ditemukan King Kong Jawa

 fragmen rahang bawah Gigantopithecus blacki, Situs Semedo
fragmen rahang bawah Gigantopithecus blacki, Situs Semedo

BANYUMAS –   Melalui proses berbagai penelitian di situs-situs purba di Jawa Balai Arkeologi Yogyakarta pada akhir-akhir ini telah menemukan beberapa fosil hewan langka atau belum pernah dikenal sebelumnya.  Penelitian arkeologi dan paleontologi di Situs Semedo yang berada di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbangteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah telah ditemukan fosil-fosil penting.  Di antaranya adalah gajah (Stegodon) kerdil purba, dan si kera raksasa purba (Gigantopithecus).  Gajah Kerdil Purba ditemukan pada tahun 2013 dan Kera Raksasa Purba (King Kong Jawa Purba) pada tahun 2014.

Kedua temuan ini dinilai penting, karena si Gajah Kerdil Purba akhirnya setelah diindentifikasi merupakan fauna endemik Situs Semedo, sehingga penamaan ilmiahnya yaitu Stegodon (pygmy) semedoensis.  Penamaan ini tidak berlebihan tetapi terdapat alasan ilmiah antara lain: berdasarkan analisis morfometri mandibula termasuk famili Stegodontidae, ukuran mandibula dibawah normal, tingkat pertumbuhan gigi geligi telah dewasa, temuan ini representatif pada situs di Jawa (Situs Semedo) yang belum dijumpai di tempat lain, dan belum ada penamaan ilmiah sebelumnya.  Sedangkan ada kata pigmy dimaksud adalah kerdil.  Adapun fosil yang diteliti dan menguatkan data sebagai bagian tubuh dari hewan Stegodon (pygmy) semedoensis adalah gigi dan rahang bawah yang berukuran kecil (foto bawah).

Sedangkan temuan Kera Raksasa Purba (King Kong Jawa Purba), kami menganalisis dua buah gigi (M2 dan M3) dan masih menempel di rahang bawahnya.  Penamaan Kera Raksasa Purba (King Kong Jawa Purba) ini adalah sebuah penemuan yang fenomenal dan sensasional karena apa, selama ini jenis hewan tersebut hanya dikenal atau ditemukan fosilnya di daratan China, India, dan Vietnam perbatasan dengan China.  Sehingga sampai saat sebelum ditemukan fosil ini di Jawa mereka masih berkesimpulan bahwa habitat Gigantopithecus ini hanya di China dan Asia Selatan saja.  Dengan penemuan Gigantopithecus di Semedo ini telah membuka cakrawala bahwa persebaran Kera Raksasa Purba (King Kong Jawa Purba) yang tingginya mencapai 3 meter (9-10 feet) ini ada di Jawa.

Gigantopithecus Jawa ditemukan berada pada lapisan tanah berumur geologi antara satu juta tahun yang lalu, sehingga bersamaan dengan teman-temannya yang ada di China dan Vietnam. Dalam kurun waktu tersebut antara daratan Asia (China-Vietnam) dengan daratan Jawa-Sumatera-Kalimantan masih menyatu, sehingga kemungkinan besar persebaran atau migrasi mereka dari Asia Tenggara sampai ke Jawa.

Publik mengenal adanya Bigfoot dan Yeti yang konon makhluk rakasasa seperti kera yang kadang menampakkan di Pegunungan Himalaya.  Apakah Gigantopithecus seperti itu?, atau mereka itu keturunan Gigantopithecus yang masih tersisa saat dan bersembunyi di hutan?. Belum ada jawaban, para ahli terlebih dahulu memastikan apakah Bigfoot atau Yeti  itu benar-benar ada?. sedangkan Gigantopithecus jelas-jelas  ada.

Kera Raksasa Purba (King Kong Jawa Purba) ini termasuk yang beraktivitas terestrial (binatang darat), dan diasumsikan para ahli bentuknya seperti antara bentuk gorila dan orang utan.  Sebagai binatang herbivora makanannya berupa campuran antara biji-ijian, buah-buahan, sejenis rumput dan juga memakan bambu.

Ada beberapa jenis Gigantopithecus antara lai G. giganteus, G. bilaspurensis, dan yang di Semedo Gigantopithecus blacki.

Penemuan dua makhluk yang berbeda dari biasanya, gajah yang dikenal bertubuh besar (mamalia raksasa) tetapi ditemukan dengan bentuk kecil (mini), sedangkan kera sekarang dikenal paling besar adalah gorilla justru ditemukan kera yang besar.  Fenomenal temuan di Jawa (Situs Semedo) ini paling ramai diperbincangkan biasanya hanya di dunia ahli paleontologis dunia saja. (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.