Warga Perum Babakan Gelar Tabir Keliling

Tabir keliling di Desa Babakan Kecamatan Kalimanah Purbalingga-JatengPURBALINGGA – Momentum perayaan hari kemenangan bagi umat Islam usai melaksanakan ibadah puasa ramadhan 1435 Hijriah, dimanfaatkan untuk memberikan kenangan rohani kepada anak-anak. Bagi warga Perumahan Puri Babakan, Kecamatan Kalimanah, Purbalingga (Jateng), momentum itu dilalui dengan melaksanakan Pawai Obor dan Takbir Keliling.
Ketua Takmir Masjid As Salam Puri Babakan, H Diyanto menuturkan, kegiatan yang diikuti anak-anak di lingkungan perumahan telah rutin diselenggarakan setiap malam lebaran. “Harapanya untuk memberikan kenangan rohani kepada anak-anak kita dengan kegiatan yang positif. Mudah-mudahan membawa manfaat kelak mereka tumbuh menjadi pemimpin,” katanya di sela-sela persiapan takbir keliling di halaman masjid setempat, Minggu (27/7/2014) malam.

Menggunakan becak dan pengera suara, takmir masjid lainnya memandu takbir di sepanjang perjalanan. Semantara sejumlah remaja masjid beriringan di beberapa kelompok anak, memandu barisan agar tetap tertib.
Sambil mangacungkan obor dan kumandang takbir, mereka terlihat ceria sepanjang perjalanan mengelilingi komplek perumahan Puri Babakan, Babakan Asri, kemudian Babakan Estate, Puri Babakan Baru dan kembali berakhir di halaman Masjid As Salam.

Kepungan
Semantara di tempat lain, upaya melestarikan tradisi juga terus dilakukan. Tepatnya di Dusun Bukung, Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari. Di tempat ini tradisi kepungan sebagai penanda datangnya malam takbiran.
Sesepuh dusun setempat, Tojibi mengatakan, tradisi kepungan tersebut sudah ada sejak dirinya masih anak-anak. Dan tradisi itu kini terus dilestarikan.

“Kepungan menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena kita berhasil melalui bulan ramadhan dengan baik. Selama sebulan kita ditempa untuk menjadi manusia seutuhnya. Dan mala mini menjadi kemenangan seluruh umat islam,” kata pensiunan kepala SD Bumisari 2 ini.

Selain itu, kepungan menjadi symbol kebersamaan dan kerukunan antar warga. Itu ditandai dengan adanya nasi bungkus yang merupakan swadaya seluruh warga. Berkat yang dibawanya dari rumah oleh ibu mereka, kemudian disantapnya bersama-sama.

Usai kepungan, mereka bertahan di masjid untuk mengumandangkan takbir, tahlil dan tahmid bersama ditimpali suara bedug yang ditabuh anak-anak secara bergantian. (BNC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.