Tambah Penghasilan Keluarga, PNS ini Nyambi Budidaya Jamur

Sutejo di lahan budidaya jamur tiram yang disewanya. Dengan budidaya jamur, PNS ini mengaku bisa menyalurkan hobi bertani dan menambah penghasilan keluarga.
Sutejo di lahan budidaya jamur tiram yang disewanya. Dengan budidaya jamur, PNS ini mengaku bisa menyalurkan hobi bertani dan menambah penghasilan keluarga.

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Kreatifitas Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang satu ini boleh ditiru. Ia tak segan-segan melakukan berbagai hal yang halal demi menambah penghasilan dan menutup kekurangan biaya hidup. Ia kini menekuni budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) disekitar tempat tinggalnya di Perum Abdi Negara, Bojanegara, Kecamatan Padamara, Purbalingga.
Adalah Sutejo (37), sudah beberapa bulan ini menemuki budidaya jamur tiram di lahan yang disewanya berukuran 7 x 10 meter. Dengan modal awal sekitar Rp 28 juta termasuk sewa lahan, Sutejo kini memiliki 10.000 bibit. “Saya memilih menekuni budidaya jamur setelah belajar dari seorang teman di Bobotsari Purbalingga. Ibaratnya, saya tidak memiliki pengetahuan soal jamur saat memutuskan untuk mencoba membudidayakan jamur,” ujar alumni Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Banyumas ini.

Bapak dua orang anak ini mengaku, semula di kampung asalnya di Desa Karangsalam, Banyumas, mencoba membuat bibit durian yang dijual kepada pedagang. Namun, sejak menetap di Purbalingga, kesibukan itu ditinggalkannya. Sutejo mengaku, disela-sela waktu menjadi PNS di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparora) Purbalingga, memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mencari kesibukan sendiri.

“Setelah pulang kantor, saya ingin punya kesibukan yang positif dan menghasilkan, Bukan kesibukan yang menghasilkan tapi tidak positif. Akhirnya saya mulai tertarik membudidayakan jamur tiram,” ujar PNS yang suka mendalang ini.

Dengan tekad kemauan yang kuat selain hobi bertani, Sutejo terus getol mencermati budidaya jamur tiram. Dari 10 ribu bibit yang ditanam awal, kini yang produksi sudah sekitar 4 ribu bibit. Rata-rata per hari kini mampu menghasilkan 12 kilogram jamur. “Untuk pemasarannya, selain kepada tetangga sekitar, kepada teman-teman di kantor, juga kepada pedagang pasar. “Tidak perlu malu untuk menjual jamur kepada teman-teman kantor,” ujar Sutejo.

Harga jamur per kilogram yang dijual ke tetangga atau rekan kerja tentu berbeda yang dijual ke pedagang. Hanya selisih Rp 1.000,-. Harga yang dilepas ke pedagang Rp 9.000,- sedang harga jamur yang dijual ke tetangga dan rekan kantor Rp 10 ribu. “Kalau ke pedagang kan nantinya akan dijual lagi, jadi mereka mencari untung sedikit,” ujarnya.

Sutejo yakin, jika seluruh bibit sudah menghasilkan jamur, maka kapasitas produksi per hari bisa mencapai 36 kilogram. Jamur yang dipanen hari ini, langsung akan tumbuh lagi pada tiga hari berikutnya. Dan biasanya dalam satu bibit hanya bisa dipanen 3 – 4 kali saja.

Untuk menjaga rutinitas produksi, Sutejo juga melakukan pergiliran pembibitan. Kini sedikit demi sedikit, Populasi bibit yang ditanam sudah hempir mencapai 15 ribu. Soal pasar, Sutejo mengaku tidak terlalu sulit. Pedagang yang datang ke rumahnya mengaku masih kekurangan jamur yang dijualnya.

Soal penghasilan bersih yang diperoleh, Sutejo mengatakan yang penting bisa menutup biaya produksi dan ada kelebihan sedikit untuk menutup kekurangan biaya hidup keluarga. “Yahh itung-itung hobi bertani tersalurkan, dan bisa menambah penghasilan untuk menutup kekurangan kebutuhan keluarga,” ujar Sutejo. (BNC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.