9 Tahun Dibangun, Pasar Gula Merah Masih Mangkrak

PASAR PIASA : Los pasar gula merah di Piasa Wetan yang sejak dibangun belum difungsikan kini mulai rusak. (foto: BNC/ruhito)
PASAR PIASA : Los pasar gula merah di Piasa Wetan yang sejak dibangun belum difungsikan kini mulai rusak. (foto: BNC/ruhito)


BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Pasar gula merah yang dibangun
pemerintah kabupaten Banjarnegara di Desa Piasa Wetan, Kecamatan
Susukan, di awal tahun 2005 hingga kini belum digunakan sama sekali.
Kini, bangunan berukuran sekitar 40m x 9m dengan dana APBD sebesar Rp
200 juta yang berada di dekat perbatasan Banjarnegara dengan Banyumas
tidak ada yang mengurusi.

Sekretaris Desa (Sekdes) Piasa Wetan, Sapto Pujiono Jum’at (6/6)
mengatakan, saat ini bangunan tersebut lebih sering dimenfaatkan oleh
para petani untuk berteduh. Beberapa upaya yang dilakukan pemkab untuk
menghidupkan pasar tersebut belum membuah hasil. Dengan adanya
bangunan tersebut pihak desa juga dirugikan karena lokasi bangunan
itu. Pasalnya, pasar tersebut dibangun di atas tanah bengkok kepala
desa yang diserahkan kepada pihak desa sebagai kas. Lahan yang
digunakan untuk pembangunan pasar seluas 250 ubin.

Terpisah, tokoh masyarakat Desa Piasa Wetan yang juga Ketua BPD,
Samsudin mengatakan, pihak desa pernah mengusulkan agar dibangun
kios-kios di tepi jalan sebagai perangsang menghidupkan pasar. Namun
hal itu tidak ditanggapi meski warga setempat dan pelaku usaha siap
menempatinya.

”Kami sudah menyampaikan hal ini kepada pemkab namun belum ada
tanggapan. Bahkan usulan kios ini disampaikan sebelum pasar itu
dibangun, mengingat tak jauh dari lokasi itu sudah ada pasar Piasa
Kulon dan Pakikiran. Mangkraknya pasar karena pembangunan tidak sesuai usulan warga,” kata Samsudin.

Dengan mangkraknya pasar tersebut  sebenarnya pihak desa ikut
dirugikan mengingat tanah yang ditempatinya adalah milik desa. Sebelum
bangunan pasar berdiri tanah tersebut dilelang dan hasilnya masuk kas
desa. Luasan tanah yang diperuntukan untuk pasar seluas 250 ubin.
Dalam setahun nilai jual lelang tanah tersebut sekitar Rp 5 juta.
”Jika dikalkulasikan selama lima tahun maka kerugian desa Rp 25
juta,” ujar dia (ruhito).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.