Mengadu Keberuntungan di Sumur Jalatunda, Dieng

SUMUR : Air Sumur Jalatunda, Dieng terlihat berwarna hijau (foto BNC/ruhito)
SUMUR : Air Sumur Jalatunda, Dieng terlihat
berwarna hijau (foto BNC/ruhito)

NAMA sumur memang sudah tidak asing lagi bagi kita karena banyak dijumpai di sekitar tempat tinggal. Namun lain hal dengan Sumur Jalatunda yang ada di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Sumur yang berada di ujung barat kawasan wisata Dataran Tinggi Dieng menarik untuk diketahui baik mitosnya maupun secara ilmiah.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) ‘Pandawa’ Kecamatan Dieng,
Banjarnegara, Alif Fauzi, belum lama ini mengatakan, berdasar dugaan
ilmiah, sumur berwarna hijau pekat berdiameter sekira 90 meter ini
adalah sebuah kepundan yang terbentuk akibat letusan gunung api jutaan
tahun lalu. Kawah atau kepundan tersebut kemudian terisi air dan
terbentuklah menyerupai sebuah sumur raksasa berkedalaman ratusan
meter.

Nama Jalatunda sendiri adalah berarti sumur yang besar atau luas dalam
bahasa Jawa. Konon, fenomena terisinya kawah yang sejenis dengan
proses terbentuknya Jalatunda hanya hanya ada dua saja di dunia. Kawah
sejenis Jalatunda yang lain dapat ditemukan di Meksiko.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun BanyumasNews bahwa banyak mitos seputar sumur raksasa berwarna hijau ini. Konon pada
jaman dulu kala ada seorang putri cantik jelita yang gemar mengenakan
pakaian serba putih, namun berperangai jahat. Putri cantik ini sering
meminta tumbal kepada masyarakat sekitar untuk dikorbankan dan
ditenggelamkan di sumur ini. Kisah lain yang juga mewarnai misteri
sumur raksasa ini adalah bahwa konon di dalam sumur ini,
terdapatsebuah pintu gerbang atau jalur penghubung ke kediaman ular
setengah dewa.

Benar tidaknya kisah tersebut  tidak ada yang tahu secara pasti. Hal
pasti adalah bahwa untuk menikmati pesona Sumur Jalatunda, kita harus
terlebih dulu meniti sekira 257 anak tangga. Setibanya di tangga
terakhir, tampak beberapa tumpuk batu kerikil yang terhampar
beralaskan karung beras.

Selain mitos yang sudah diceritakan sebelumnya, batu kerikil ini
menambah keunikan dan daya tarik lain bagi para wisatawan. Dipercaya
bahwa mereka yang mampu melempar batu kerikil ke sumur sejauh jarak
tertentu akan mendapatkan keberuntungan dan terkabul niat serta
keinginannya.

Adapun target lemparan antara perempuan dan laki-laki berbeda jauhnya.
Bagi perempuan, cukup dengan melempar batu kerikil ke tengah sumur,
maka ia dapat dikatakan berhasil. Sementara bagi lelaki, target
lemparannya lebih jauh lagi, yaitu hingga ke seberang sumur yang
ditandai dengan rimbun pohon bunga berwarna ungu, yang tumbuh di
sela-sela batuan di sisi seberang sumur.

Perihal perlu diperhatikan juga adalah bahwa batu yang digunakan untuk
melempar keberuntungan haruslah batu yang dibeli dari anak-anak Dieng
di lokasi sumur ini, yaitu batu kerikil beralas karung ala kadarnya di
ujung anak tangga yang tadi diceritakan. Batu tersebut dapat kita beli
seharga Rp 500. Jadi, jangan berpikir untuk membawa batu sendiri dari
tempat lain. Meski hal seperti ini dapat saja merupakan strategi
wisata, tetap saja banyak orang yang tidak ingin menyia-nyiakan
kesempatan selagi berkunjung ke sumur tersebut dan menguji
keberuntungan mereka.

Melihat ke arah sumur dari atas, seolah mudah saja untuk melempar batu
ke tengah sumur atau bahkan ke sisi seberang tetapi begitu batu
dilempar, batu seolah lenyap di antara rimbun pepohonan sisi terdekat
sumur dan bukannya ke tengah apalagi ke sisi seberang.
Menurut warga sekitar yang biasa menjadi pemandu, beberapa orang telah
membuktikan kebenaran mitos tersebut. Salah seorang yang berhasil
melempar ke titik yang ditargetkan mengaku keinginannya terwujud dan
dengan sengaja datang kembali ke Dieng untuk menceritakan dan berbagi
kebahagiaan (ruhito).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.