Modal dan Kredit Macet Jadi Kendala Berkembangnya Koperasi

rakor dekopindaPURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Keterbatasan modal masih menjadi kendala bagi didirikannya koperasi. Hal ini karena pada umumnya koperasi didirikan oleh masyarakat yang ekonominya belum mapan, sehingga dana yang terkumpul jumlahnya menjadi terbatas.

Kelemahan tersebut diperparah dengan adanya kredit macet, lemahnya manajemen, konflik kepentingan, serta kecendurangan koperasi dimanfaatkan oleh sekelompok orang, atau pihak tertentu untuk memenuhi kebutuhan dengan memanfaatkan kelonggaran aturan pendirian, serta pengelolaan koperasi.

“Untuk itu, Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) baik yang ada di wilayah provinsi maupun yang ada di daerah, serta insan koperasi yang ada di Kabupaten Purbalingga, untuk kembali mensosialisasikan aspek-aspek positif ke seluruh lapisan masyarakat,” kata Wakil Bupati Purbalingga Tasdi, pada acara Rapat Kerja Dekopinda Kabupaten Purbalingga, di Gedung Dekopinda Purbalingga, Selasa (20/5)

Selain aspek positif tersebut, tambah bupati, agar masyarkat tahu, cita-cita mulia dan dasar Koperasi yang sangat tepat bagi karakter, serta jatidiri bangsa, jika masyarakat sudah memahami hal tersebut, maka ajaklah sebanyak mungkin untuk bergabung dengan koperasi yang sesuai dengan karakter, juga latar belakang mereka.

“Semakin banyak anggota, maka dana yang terkumpul semakin banyak, yang berarti makin banyak anggota yang terbantu. Bagi yang sudah bergabung sebagai anggota, untuk berdisplin, serta mempunyai komitmen tinggi memenuhi kewajiban sebagai anggota koperasi,”tuturnya.

Ketua Dekopin Wilayah Jawa Tengah dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sudewi mengatakan, agar kegiatan raker yang strategis tersebut dijadikan forum untuk mencermati pelaksanaan program, merencanakan, sekaligus menganggarkan Dekopin yang ada di daerah.

“Harapan saya, forum tersebut dijadikan wahana berdiskusi serta berdialog secara terbuka, bebas tapi cerdas untuk mencermati kinerja Dekopinda Purbalingga di masa sebelumnya, juga sebagai kegiatan menyusun rencana anggaran tahun berjalan,”harapnya.

Sudewi juga meminta, agar pelaksanaan raker tersebut mengangkat Undang Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian yang telah diundangkan, tapi implementasinya belum optimal.

“Dekopin, baik yang ada di wilayah, maupun di daerah/kabupaten harus lebih cerdas serta cermat dalam menyikapi makna UU tersebut, yang implementasinya dinilai masih belum optimal,”katanya.

Dalam rangka pemberdayaan koperasi, Dekopinda yang merupakan bagian integral dari Dekopin yang mempunyai tugas diminta untuk menyelenggarakan sosialisasi, konsultasi kepada koperasi, serta mendorong juga mengembangkan kerjasama antar koperasi, dan koperasi dengan para pelaku usaha/badan usaha selain koperasi.

Selain itu juga, koperasi bertindak sebagai juru bicara koperasi, mengkomunikasikan forum jaringan kerjasama, serta memajukan anggotanya.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Koperasi Kabupaten Purbalingga Endang Suciati mengatakan, keberadaan koperasi yang ada di Kabupaten Purbalingga masih memerlukan sentuhan berupa pemberdayaan permodalan yang di fasilitasi Dekopinda, hal tersebut merupakan harapan agar eksitensi Dekopinda dapat dirasakan manfaatkan oleh para anggotanya.

Menurutnya, pada pelaksanaan raker tersebut, selain penyampaian program kerja, serta merancang RAB, juga menyampaikan beberapa agenda penting berupa usulan para pengurus koperasi kepada Dekopinda tentang dana tata niaga cengkeh yang tersimpan di Inkud mencapai milyaran agar bisa diakses untuk menambah permodalan bagi koperasi yang masih membutuhkan pemodalan.

Berdasarkan data dari Dinperindagkop, jumlah koperasi yang ada di Kabupaten Purbalingga mencapai 241, yang terdiri dari KUD, Koperasi Tani, KPRI, Koperasi Karyawan, Koperasi Angkatan, Koperasi Pasar, Koperasi Serba Usaha, serta koperasi lainya.

Sedangkan sebanyak 29 koperasi, keberdaanya masih memerlukan pembinaan , serta suntikan modal, agar operasionalnya bisa kembali seperti sediakala, guna memenuhi kebutuhan masyarakat bidang permodalan untuk keperluan rumah tangga, maupun usaha kecil serta mengindari jerat rentenir. (BNC)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.