Rakyat Harus Memilih Pemimpin

Subeno, budayawan Purbalingga yang dijuluki ‘Waru Doyong”   pada acara gelaran pentas kesenian Uyon uyon di Pendapa Dipokusumo Purbalingga Selasa malam (19/5).
Subeno, budayawan Purbalingga yang dijuluki ‘Waru Doyong” pada acara gelaran pentas kesenian Uyon uyon di Pendapa Dipokusumo Purbalingga Selasa malam (19/5).

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Menurut Undang Undang Dasar 1945, bentuk Negara Indonesia adalah Negara kesatuan yang berbentuk republik, dengan kepala negara disebut presiden. Suatu Negara dapat dikatakan Negara memenuhi syarat apabila terdapat wilayah, kepala Negara/pemimpin dan masyarakat.

“Suatu Negara harus ada kepala Negara, kalau tidak ada berarti bukan suatu Negara, begitu juga dengan Indonesia, harus ada presidennya, dan rakyat harus memilih kepala Negara/pemimipin. Kalau semua tidak memilih pemimpinnya, maka tidak aka nada Negara, sehingga NKRI bisa dikuasai oleh Negara lain,”tutur Subeno, budayawan Purbalingga saat gelaran pentas kesenian Uyon uyon di Pendapa Dipokusumo Purbalingga Selasa malam (19/5).
Apabila suatu Negara sampai vakum kepemimpinan, kata Subeno, maka akan terjadi chaos, dan menjadi pertanyaan, wilayah NKRI, rakyatnya tidak ada yang memiliki kepemimipinan, pengaturan hukum menjadi tidak ada serta berlaku hukum rimba seperti layaknya hidup di hutan.

“Untuk itu, seluruh rakyat harus memilih pemimpin/presiden dengan segala kekurangan serta kelebihannya, karena setiap calon pemimpin pasti banyak kurang dan lebihnya. Keduanya harus dilihat, mana yang lebih menonjol, kalau kelebihan harus bisa ditingkatkan, sedangkan kekurangan, sebisa mungkin untuk diminimalisisr, sehingga pengaturan hukum menjadi lebih kuat dan tidak terjadi chaos”pintanya.

Subeno juga menuturkan, warna dunia politik baik dari jaman dahulu hingga sekarang, serta sejarah Negara di dunia polanya sama, baik yang dicontohkan di dunia wayang maupun kethoprak, serta seni tradisional lainya, bahwa kepala Negara/raja pada adalah merupakan symbol/status yang menguasaijuga pengendali lembaga eksekutif, legislative dan yudikatif.

“Pada jaman dahulu menjadi raja/pemimpin suatu negara pada kala itu, hingga sekarang merupakan symbol atau status, karena mempunyai kewenangan/kekuasaan atau penguasa dunia, dan pada jaman dahulu mempunyai kuasa pada eksekutif, legislative serta yudikatif,”jelasnya.

Selain itu, kekuasaan juga merupakan alat untuk melanggengkan trah, kelompok, kelompok, untuk bisa mencapai tujuan tertentu, dan hal itu menarik serta diminati oleh oleh trah, juga bangsa lain di dunai.

Terkait dengan suksesi kepemimpinan, budayawan yang juga mantan Sekda Purbalingga tersebut mengatakan, dalam sejarah pewayangan banyak terjadi suksesi tidak damai hingga terjadi peperangan, hal itu juga terjadi di beberapa negara, contohnya perang bhratayudha merupakan sejarah perebutan kekuasaan antar saudara antara Ken Arok dan Ken Dedes.
“Dalam sejarah, misalnya, Ken Arok membunuh Tunggul Ametung, disebabkan Ken Arok mempunyai keyakinan kalau Ken Dedes bias menurunkan/mengalahkan raja-raja besar,”katanya.

Sedikit kultur politik di Indonesia, terang Subeno, bahwa dalam mitos-mitos jawa, berupa ramalan Raja Jayabaya dan pujangga Ronggowarsito, akan datang pada masanya seorang pemimpin dengan julukan seperti Ratu Adil, Satrio Piningit, Notonegoro, kalau jaman sekarang itu tidak ada lagi dan itu hanya motivasi saja, hanya ketentuan yang diatas yang bisa menentukan para calon pemimpin.
“Semua Satrio Piningit, Ratu Adil, Notonegoro, sebagai motivasi saja, bahwa para calon pemimpin tersebut merupakan harapan pada suatu ketika akan muncul pemimpin-pemimpin yang bagus di Indonesia,”pungkasnya. (BNC)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.