Brunei Darussalam Berlakukan Hukum Syariah Islam untuk Pelaku Kriminal

Sultan Hassanal Bolkiah
Sultan Hassanal Bolkiah, memberlakukan hukum syariat Islam di Brunei Darussalam.

BanyumasNews.com – Prihatin terhadap semakin meningkatnya kasus kriminalitas di negaranya, Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah memberlakukan hukum syariat Islam bagi pelaku kejahatan di Brunei Darussalam. Hal ini menjadikan Kesultanan Brunei sebagai negara Asia Timur pertama yang memberlakukan hukum agama dalam hukum negara.

Angka kejahatan di Brunei meningkat tajam sepanjang periode 2000-2008. Peningkatan tersebut hingga sepertiga. Sementara peningkatan kejahatan yang berkaitan narkotika naik drastis 50% sejak 2012 lalu. Inilah yang membuat Sultan prihatin sehingga merasa perlu memberlakukan hukum berdasarkan syariat Islam demi memberikan efek jera yang lebih tinggi.

Hukum syariat Islam diberlakukan sejak awal Mei ini tanpa pandang bulu. Semua orang yang melakukan kejahatan di wilayah Kesultanan ini harus bersedia menghadapi peradilan Islam dengan hukuman didenda, penjara hingga rajam. Hukum ini juga berlaku bagi warga non-Muslim yang jumlahnya mencapai lebih dari 50.000.

Penerapan hukuman ini dibagi dalam tiga fase. Fase pertama terhitung sejak 30 April 2014 hingga setahun ke depan, di mana perbuatan melawan syariah seperti warga perempuan yang ketahuan hamil di luar nikah–termasuk perzinahan, menyebarkan agama selain Islam, bahkan tidak menunaikan salat Jumat pun bakal terjerat hukuman.

Fase kedua diterapkan sejak Mei 2015, dengan memberlakukan hukuman cambuk bagi pemabuk dan potong tangan bagi pencuri. Lalu sejak pertengahan 2016 berlaku hukum paling keras, fase ketiga, yakni hukuman mati–di antaranya dengan cara dirajam–bagi pelaku zina, sodomi dan menghina Alquran serta Nabi Muhammad.

Kaum cerdik pandai Muslim Brunei menjamin hukuman ini tidak diberlakukan serampangan. Mereka juga menjamin Brune tak akan menjadi sarang ekstrimisme hanya karena memberlakukan syariat Islam.

“Tak akan sembarang memotong, merajam atau mencambuk. Ada syarat-syaratnya dan metode-metode yang adil,” kata pakar syariah lokal, Awang Abdul Aziz, kepada kantor berita Reuters.

Meski demikian, tetap saja kalangan Barat dan non-Muslim merasa kuatir atas rencana ini. Pasalnya, ada banyak pekerja Barat di sektor perminyakan, puluhan ribu etnis Tionghoa, serta 30.000 pekerja migran Filipina beragama Katolik yang mencari nafkah di negara tersebut. Perbedaan kultur dan agama membuat warga non-Muslim, terutama dari Barat, bisa terkena hukuman atas sesuatu yang bagi mereka hal lumrah.

Sejumlah tokoh Barat menyerukan keprihatinannya atas rencana Brunei ini. Beberapa di antaranya presenter kondang Ellen DeGeneres dan aktor Inggris Stephen Fry, keduanya mengajak warga Barat untuk melakukan boikot terhadap sebuah hotel milik Sultan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.