GKJ Purbalingga Terus Tumbuh dan Mengakar

Ketua Majelis GKJ Purbalingga Tri Trisnadi memotong tumpeng pada peringatan HUT ke-148 Gereja Kristen Jawa Purbalingga.
Ketua Majelis GKJ Purbalingga Tri Trisnadi memotong tumpeng pada peringatan HUT ke-148 Gereja Kristen Jawa Purbalingga.

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Ibarat sebuah pohon beringin, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbalingga telah tumbuh dan mengakar dengan kuatnya. Gereja mengeluarkan mata air kehidupan seperti akar pohon beringin yang menyimpan air. Sementara, buahnya terbawa burung dan menebar kemana-mana, tumbuh menjadi beringin-beringin baru.
“GKJ Purbalingga yang sudah berusia 148 tahun juga mampu menumbuhkan jemaat dan melayani di gereja masing-masing. Mereka tumbuh dimana-mana dan memberikan arti kehidupan beriman,” ungkap Pendeta Anung Trirumantyo, SSi, Senin (5/5) petang. Pendeta dari GKJ Tlogosari Semarang ini menjadi pendeta tamu dan memberikan kotbah dalam perayaan HUT ke 148 GKJ Purbalingga yang bertema ‘Berakar, Dibangun dan Teguh dalam Iman’.

Pendeta Anung Trirumantyo,S.Si.
Pendeta Anung Trirumantyo,S.Si.

Disebutkan Anung Trirumantyo, GKJ juga dituntut menjadi gereja Tuhan yang selalu memperbaharui diri. Gereja yg tetap harus berakar didalam Kristus, dan tekun dalam iman dalam keadaan apapun. “Usia 148 tahun, GKJ tidak boleh merasa menjadi tua. Tetapi menjadi gereja yang selalu hidup dan penuh gairah. Janganlah di usia itu dilewati begitu saja, tetapi harus selalu teguh dalam iman,” tegas Anung.

Anung menambahkan, GKJ juga harus menjadi gereja yang melimpah dalam syukur. Jemaatnya juga harus selalu bersyukur karena sebagai milik Tuhan, tidak pernah dibiarkan hidup sengsara. “Tuhan memberkati orang yang teguh imannya, berkelimpahan dalam semangat syukur. Kita juga harus menyerahkan hati dan pikiran kia dengan penuh sukacita untuk Tuhan. Kalau hati kita untuk Tuhan, maka kemuliaan kita juga untuk Tuhan,” tambah Anung.

Sementara itu Ketua Panitia Hari Besar Kristen (PHBK) GKJ Purbalingga, Buntaran Supriatin mengatakan, acara ulang tahun yang dihadiri sekitar 1.500 jemaat ditayangkan sejarah perjalanan kehidupan gereja dari masa Belanda hingga saat ini. Panitia melalui komisi multi media menayangkan perjalanan dan sejarah GKJ Purbalingga dengan pasang surutnya dan lengkap dengan permasalahan yang dihadapi.

“Kaleidoskop ini penting, karena warga akan lebih memahami tentang sejarah berdirinya, penyebar injil di Purbalingga, serta para penginjil dan pendeta. Mulai dari pendeta masa Belanda hingga GKJ memiliki 2 orang pendeta,” kata Buntaran Supriatin.

Ditambahkan Buntaran, sebagai orang Jawa pihaknya tidak akan meninggalkan budaya, yakni dengan dilakukannya pemotongan tumpeng, sebagai ungkapan syukur. Potong tumpeng dilakukan oleh ketua majelis gereja Trisnadi dan diserahkan kepada warga termuda, keluarga Suharjono. (BNC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.