Rica-Rica Biawak, Lezat dan Berkhasiat

Rica-rica Biawak racikan Waluyo, warga Purwonegoro, Banjarnegara (foto : BNC/ruhito).
Rica-rica Biawak racikan Waluyo,
warga Purwonegoro, Banjarnegara (foto : BNC/ruhito).

BAGI para pencinta kuliner ekstrim mungkin perlu mencoba masakan Waluyo Hardono warga Dusun Banyumudal, Desa Purwanegara, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Masakan yang diracik oleh lelaki berusia 46 tahun adalah rica-rica biawak.

Jika melihat bentuk reptil penunggu sungai bernama Biawak yang
memiliki nama latin ‘Varanus Albigularis’ memang menyeramkan.
Sepintas, agak mirip buaya, hanya saja warnanya hitam kelam dengan
bintik putih. Namun, ketika kemudian dicincang dan dimasak, bisa bikin
orang ketagihan. Tak heran jika rica-rica biawak Waluyo Hardono
lestari.

Rica-rica biawak buatan Waluyo, laris manis. Pembelinya, selain warga
Banjarnegara, juga berasal dari luar daerah seperti Wonosobo,
Purbalingga dan Purwokerto. Pembeli dari luar daerah bisanya sebelum
datang mengontak dulu via telepon. Harga rica-rica biawak dipatok Rp
10 ribu per porsi.

WARUNG RICA: warung rica biawak milik Waluyo (Foto: Ruhito)_
WARUNG RICA: warung rica biawak milik Waluyo (Foto: Ruhito)_

Waluyo menekuni usahanya sejak seekitar 5 tahun lalu setelah
sebelumnya sempat gonta-ganti pekerjaan dari kenek, kondektur bus
hingga tukang ojek. ”Saya hobi berburu dan masak daging berbagai
jenis hewan hasil buruan. Suatu ketika, ada orang menyerahkan seekor
biawak untuk dimasak,” ungkap Waluyo belum lama ini.

Biawak tadi, dibuat rica-rica dan ternyata menurut sang pemilik biawak
yang kemudian mengajak teman-temannya untuk mencicipi, luar biasa
nikmat. Sejak itulah, Waluyo tertarik untuk menggeluti pembuatan
rica-rica biawak.

Ia memperoleh biawak hidup dari tangan pemburu di habitat biawak di
sungai Serayu dan sungai lain di daerah Banjarnegara dan Wonosobo
serta Cilacap. Bobotnya bervariasi. Pernah pula ia memotong biawak
raksasa seberat 45 kilogram.

Harga beli biawak dari pemasok, Rp 12 ribu per kilogram. Khusus biawak
Cilacap, sedikit dimahalkan menjadi Rp 12,5 ribu per kilogram.
Menunggu hewan bergigi kuat itu dibantai, Waluyo  menampungnya di
sebuah bak khusus. Setiap bulan, ia rata-rata memasak 3,5 kuintal
daging biawak atau 10 kilogram lebih per hari.

Empedu dan lemak diambil sebagai obat yang cukup manjur untuk penyakit
asma dan gatal-gatal. Ketika memotong biawak 45 kilogram, Waluyo
memperoleh hasil sampingan lemak 10 liter. Tentang bumbu yang
digunakan, menurut Waluyo, ada 16 macam. Diantaranya mrica, jahe,
ketumbar, kemiri, wijen, bawang merah, bawang putih, kayu manis,
cengkeh, cabai rawit dan kecap. Lama memasak sekitar 1 jam,
menggunakan kayu bakar.

Seorang sopir truk tronton lintas Jakarta – Surabaya warga Susukan, M
Abdilah (39), mengaku sudah lama kecanduan rica-rica biawak buatan
Waluyo. Rica-rica biawak diyakininya mampu menjaga vitalitas tubuh.
“Saya tahan lelah, tak gampang masuk angin. Selain itu, daging biawak
menghilangkan penyakit gatal-gatal (ruhito).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.