Dalang Sumiyati Langganan Tampil di TMII

 

DALANG : Dalang wanita Sumyati Sabdo Sih (foto : BNC/ruhito)
DALANG : Dalang wanita Sumyati Sabdo Sih (foto
: BNC/ruhito)

BISA tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) selama tiga tahun berturut-turut merupakan kebanggan tersendiri bagi Sumyati Sabdo Sih, dalang wanita asal Desa Lawen, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. Pasalnya, perempuan berusia 53 tahun yang merasa berasal dari wilayah terpencil bisa tampil dipanggung level nasional.

“Sudah tiga tahun berturut-turut, setiap 1 Suro selalu ditanggap
tampil ‘ndalang’ di TMII. Ini luar biasa bagi saya,” ungkap dia belum
lama ini.

Sumyati merupakan satu-satunya dalang wanita di Banjarnegara.
Kemampuan ‘ndalang’ merupakan buah dari rasa cintanya terhadap wayang kulit dan bukan diraih dari jalur sekolahan atau pendidikan. “Baik Atawecana, Udanegara Sabet maupun Pakeliran saya kuasai dari hasil melihat dari sang kakek yang juga dalang, yaitu eyang Tisnareja,”
katanya.

Berkat kecintaanya pada dunia wayang kulit, pada tahun 1975 Sumyati
diberi satu set wayang kulit berikut dengan seperangkat gamelan oleh
seorang pegawai penilik Dinas Pendidikan Kecamatan Kalibening, yaitu
Risnadi. Pemberian tersebut menjadikan dirinya giat berlatif ndalang.
Sebagai bentuk terima kasih kepada yang pemberi hingga sekarang
peralatan tersebut masih utuh dan biasa digunakan sesama seniman.

Sekitar tahun 1979, Sumyati kali pertama naik panggung saat pelantikan Kades Pringamba, Kecamatan Pandanarum dengan membawakan lakon ‘Wahyu Tunggul Jati’. ”Ketika sedang asyik-asyiknya memainkan wayang tiba-tiba dihentikan oleh Bupati Winarno Hadi Subrata. Beliau naik panggung, saya diminta untuk berdiri sambil bahu saya dipuk-puk tiga kali sembari beliau berkata ‘ngemben dadi dalang kondang nduk’. Kalimat itu masih terngiang jelas dan seakan menjadi awal karier ndalang,” tutur dia.

Selama 33 tahun jadi dalang, sudah dua ratusan kali tampil mulai
tanggapan masyarakat sampai pejabat. Beberapa tempat yang pernah
mementaskannya adalah di RRI Purwokerto (4 kali), di Gedung Pancasila Semarang atas panggilan Gubernur Ismail, Taman Budaya Solo dalam Festival Dalang Wanita se-Jawa dan Bali 2008 silam Ia menjadi juara untuk kategori Garap Iringan Terbaik.

“Pada malam 1 Suro tahun 1988 di Alun-alun Kabupaten Purbalingga
diwisuda oleh Harni Sabdo Wati dalang wanita yang cukup kondang dari Kedungbanteng, Sragen. Saya diberi gelar ‘Sabdo Sih’ sehingga nama saya menjadi Sumyati Sabdo Sih,” ujarnya.

Saat ini Sumyati mempunyai sanggar yang bernama Sanggar Seni Sabdo Laras, beranggotakan 46 orang dengan ketua Jemono Saputro (suami Sumyati) dan beralamat di Desa Lawen kecamatan Pandanarum kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah. Sumyati sendiri sangat berharap agar generasi muda saat ini harus dapat mencintai wayang yang penuh dengan muatan falsafah kehidupan. ” Sangat jarang sekali ada dalang wanita. Dan Saya menjadi satu-satunya dalang wanita yang sudah seharusnya ada yang meneruskannya,” katanya (ruhito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.