Sekeluarga Putus Sekolah, di Kampung Bupati Banyumas

??????BANYUMAS (BanyumasNews.Com) – Potret kemiskinan di negeri ini masih saja ditemukan dimana-mana. Ditengah gencarnya kampanye wajib belajar sembilan tahun, di Banyumas Jawa Tengah, lima orang anak dalam satu keluarga miskin, terpaksa putus sekolah karena tak memiliki biaya. Sementara sang ibu yang pamit kerja di jakarta hingga kini tak diketahui kabarnya.

Mereka adalah keluarga pasangan suami istri Darsikin (50)  dan Wasitah (44) warga Dusun Lamban Desa Karang Klesem Kecamatan Pekuncen, Banyumas. Jawa Tengah. Disaat anak-anak lain sedang bersekolah, mereka setiap hari berada di rumah dan membantu mengurus rumah tangga. Sementara si sulung melakukan pekerjaan mulai dari mencuci, mengumpulkan kayu bakar hingga memasak.

Mereka kampungnya tak jauh dari rumah asal bupati Banyumas ini bukannya tidak pernah sekolah. Lena misalnya, sudah pernah mengenyam bangku kelas empat sd. adik-adiknya juga pernah sekolah hingga kelas tiga dan dua di SD Negeri Karang Klesem Pekuncen.Namun mereka semua putus ditengah jalan.

REOT:
REOT: Puluhan keluarga miskin , bahkan anak anak putus sekolah karena kemiskinan berada di kanmpung  tempat asal bupati Banyumas (foto:nan)

Alasan utamanya, karena sejak ibunya pergi dan tak pernah kembali, anak anak mulai males sekolah. Saat si sulung keluar sekolah, adik-adiknya pun akhirnua ikut keluar sekolah. Meskipun sekolah gratis, namun keluarga takmampu jika harus memberikan mereka uang jajan setiap hari. Jangankan untuk biaya sekolah, untuk makan setiap hari saja tidak mencukupi. karena itulah orang tuanya memilih untuk tidak melanjutkan sekolah anak-anaknya.

Sang ayah, Darsikin hanya seorang buruh serabutan, sementara ibu mereka yang pamit hendak kerja di Jakarta, hingga kini hilang dan diketahui keberadaanya. Sebagai ganti ibu, Lena , anak sulung yang bercita cita jadi guru itu harus rela mengurus dan menjaga adik-adiknya.

Sementara itu menurut guru di SDN Karangklesem, pihak sekolah sudah berupaya agar anak-anak tersebut bisa kembali sekolah. “Mereka kurang mendapat perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Padahal kami sudah berupaya semaksimal mungkin agar mereka mau kembali sekolah. Namun selalu gagal”, ujar Siti Asiyah, salah seorang guru di sekolah tersebut.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.