Makin Langka,Perajin Alumunium Perkakas Rumah Tangga

ALUMUNIUM  : Seorang pekerja tengah menghaluskan wajan atau tempat penggorengan di sebuah rumah produksi kerajinan alumunium dan tembaga di Desa Banjar Kulon, Kecamatan Banjarmangu (foto ruhito).
ALUMUNIUM : Seorang pekerja tengah menghaluskan wajan atau tempat
penggorengan di sebuah rumah produksi kerajinan alumunium dan tembaga
di Desa Banjar Kulon, Kecamatan Banjarmangu (foto ruhito).

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Bergelut dengan bara api dan suara bising sudah tidak asing lagi bagi Samsudin, warga Desa Banjarkulon, Kecamatan Banjarmangu, Kabupten Banjarnegara. Maklum, ia merupakan salah satu perajin perkakas rumah tangga yang terbuat dari alumunium dan tembaga seperti wajan,dandang, ceret, kekeb dan panci.

Dalam menjalankan aktifitasnya membuat barang-barang tersebut dibutuhkan bara api untuk memanaskan dan palu untuk membentuk barang-barang perkakas dapur yang diinginkan. Bahan bakunya berasal dari rongsokan. Dalam seharinya Samsudin yang dibantu tiga orang pekerja bisa menghasilkan puluhan perkakas dapur dari bahan aluminium.

Adapun jika membuat perkakas dari bahan baku tembaga akan memakan waktu lebih lama. Setidaknya diperlukan waktu sampai dua hari untuk menghasilkan perkakas dandang yang terbuat dari tembaga karena proses produksi dan penanganan yang jauh lebih sulit ketimbang berbahan baku alumunium. Untuk membuat barang-barang sebanyak itu setidaknya dibutuhkan sekitar 8,5 kilogram rongsok alumunium atau tembaga. ”Untuk bahan baku didapat dari tukang rongsokan,” ungkap dia, Minggu (6/4).

ANEKA ALUMUNIUM:  Berbagai hasil kerajinan perkakas dapur dari bahan alumunium dan tembaga Banjar Kulon seperti dandang, panci, ceret siap untuk dipasarkan. Hasil kerajinan tradisional Desa Banjar Kulon, masih mendapat tempat masyarakat, terutama di wilayah pedesaan (foto ruhito).
ANEKA ALUMUNIUM: Berbagai hasil kerajinan perkakas dapur dari bahan
alumunium dan tembaga Banjar Kulon seperti dandang, panci, ceret siap
untuk dipasarkan. Hasil kerajinan tradisional Desa Banjar Kulon, masih
mendapat tempat masyarakat, terutama di wilayah pedesaan (foto
ruhito).

Untuk memasarkan hasil kerajinannya itu, Syamsudin mengaku tidak mengalami kendala berarti. Setiap harinya selalu datang pedagang atau pengepul yang siap menampungnya. Membajirnya perkakas dapur dari bahan alumunium ataupun tembaga pabrikan tidak menjadi suatu kendala untuk kelangsungan usaha yang telah digeluti sepuluh tahun lebih. Perkakas dapur hasil kerajinannya memiliki pangsa pasar sendiri.

Pangsa pasar kerajinan perkakas Banjarkulon ini adalah kalangan ekonomi menengah ke bawah, terutama di wilayah pedesaan. Adapun hasil produksi pabrikan bisanya kalangan menengah ke atas, atau di perkotaan.

Apalagi, dari sisi harga jual berani bersaing karena tidak terlalu mahal sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat. Untuk harga kerajinan dari alumunium dijualnya antara Rp 25 ribu hingga Rp 200 ribu, sedangkan untuk tembaga dengan menggunakan sistem kiloan. Perkilogramnya dia mematok harga Rp 80 ribu. ”Pembelinya kebanyakan berasal dari kalangan petani dan masyarakat yang berada di pedesaan. Selain dipasarkan di Banjarnegara sendiri juga sudah sampai ke Purbalingga dan Wonosobo,” katanya.

Karena itu, tidak mengherankan kalau usaha ini masih tetap eksis sampai sekarang meskipun di Desa Banjar Kulan ada puluhan perajin. Tokoh masyarakat Banjar Kulon, Sunaryo mengatakan, usaha kerajinan alumunium dan tembaga ini memang sudah turun temurun sejak dahulu. Di desanya, sedikitnya ada 15 kelompok perajin yang menggeluti usaha ini,dan kini tetap berkembang (ruhito).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.