Serangan Wereng dan Tikus Ancam Ketersediaan Pangan

Petani lakukan penyemprotan massal hama werengPURBALINGGA (BanyumasNews.Com)  – Semakin berkembangnya berbagai hama yang menyerang produk pertanian seperti wereng, tikus, serta faktor bencana alam sehingga akan berdampak mengancam ketersediaan pangan , baik local maupun nasional.

Untuk itu masyarakat dituntut untuk ikut menjaga ketersedian pangan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menganekaragamkan konsumsi pangan yang berasal dari dari sumber daya lokal, agar ketergantungan terhadap konsumsi beras dapat ditekan serta mengurangi impor produk pangan dari luar negeri.

“Sumber daya local yang terdapat di daerah banyak sekali mulai dari singkong, sukun, jagung, ubi sagu, dan sebagainya. Bahan pangan local tersebut bisa dijadikan pangan alternative serta sebagai penganekaragaman konsumsi pangan, selain mampu menekan jumlah impor pangan juga bisa menggerakkan ekonomi masyarakat, lapangan pekerjaan juga akan terbuka lebar,”tutur Sekda Purbalingga Imam Subijakto saat memberikan sambutan pada acara Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan Tingkat Kabupaten Purbalingga, Selasa (18/3).

Untuk mengurangi ketergantungan konsumsi beras kata bupati, pemakaian produk local yang berbahan baku selain beras dan terigu pemanfaatan lahan pekarangan juga semakin optimal dan diharapkan mampu meningkatkan cadangan pangan masyarakat melaui lumbung pangan di desa.

“Selain untuk mempercepat terwujudnya diversifikasi pangan yang ditunjukkan oleh perubahan budaya masyarakat, mulai dari tahap diversifikasi produksi, dversifikasi olahan kemudian menjadi diversifikasi konsumsi yang didukung oleh teknologi pengolahan,”tuturnya.

Berkaitan dengan upaya pemantapan ketahanan pangan Sekda minta agar SKPD terkait untuk bersama-sama masyarakat melakasnakan kegiatan yang sudah dituangkan dalam program Dewan Ketahanan Pangan dengan meningkatkan serta melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi program ketahanan pangan.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan ketahana Pangan 9BPPKP) Kabupaten Purbalingga Zaenal Abidin mengatakan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang terdiri dari wereng, tikus dan bencana alam menjadi ancaman ketersedian pangan dalam masyarakat.

“Untuk itu bidang ketahanan pangan sudah mempunyai instrumen yang jelas yaitu Dewan Ketahanan Pangan(DKP)  baik di tingkat kabupaten yang dipimpin oleh bupati hingga kecamatan dengan ketuanya camat yang mengkoordinasikan berbagai masalah terkait dengan pangan,”tutur Zainal.

Menurutnya DKP dalam tugasnya menyelenggarkan rapat minimal dua kali selama setahun untuk  mengkoordinasikan berbagai masalah terkait ketahanan pangan. “Diawal tahun kami rapat dengan melakukan langkah-langkah yang akan diambil serta apa yang harus dilakukan untuk tahun ini, sedangkan untuk akhir tahun semua kegiatan dievaluasi untuk menyempurnakan segala kegiatan selama setahun,”terangnya.

Terkait dengan upaya untuk menjaga ketersedian pangan serta untuk mendukung Program Purbalingga Emas Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Dintanbunhut) Kabupaten Purbalingga Sukram mengatakan bahwa dalam upaya untuk menjaga ketersediaan pangan pihaknya sudah melaksanakan berbagai antisipasi seperti pengendalian OPT, baik melalui penyemprotan massal maupun pemberian obat pembasmi serangga kepada para petani yang lahannya terserang hama.

“Berbagai antisipasi untuk menjaga ketersediaaan pangan sudah kami lakukan, karena kalau sampai dibiarkan dan tidak ada antisipasi akan mengancam program swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat dengan surplus beras nasional sebesar 10 Juta ton untuk tahun 2014,”tuturnya.

Sukram menambahkan yang menjadi kendala/tantangan untuk meningkatkan ketahanan pangan diantaranya adalah dari sektor pertanian, karena kenaikan harga pangan juga mempengaruhi laju inflasi.Selain itu juga berbagai kendala seperti serangan OPT, fenomena dampak iklim, ketersedian lahan dan air.

“Kendala yang menjadi terhambat produktifitasnya hasil pertanian adalah infrastruktur yang ada masih perlu dibenahi, masih banyak saluran irigasi yang mengalami kerusakan, akses petani terhadap modal masih lemah, koordinasi petani di berbagai tingkatan juga masih lemah. Selain itu kelembagaan yang ada di tingkat petani harus diperkuat untuk menghadapi ketersediaan pangan,”pintanya. (BNC)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.