Manfaatkan Barang Bekas, Warga Gumelem Ciptakan Pembangkit Listrik

Kusmadi, warga Gumelem tengah sedang memperbaiki kincir pembangkit listrik. Saat musim hujan seperti sekerang ini seringkali mengalami gangguan. (foto : BNC/Ruhito)
Kusmadi, warga Gumelem tengah sedang memperbaiki kincir
pembangkit listrik. Saat musim hujan seperti sekerang ini seringkali
mengalami gangguan. (foto : BNC/Ruhito)

BANJARNEGARA  (BanyumasNews.Com)- Ratusan Kepala Keluarga di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara memanfaat kondisi geografis yang perbukitan dengan membuat kincir pembangkit listrik.
Atas kreatifitasnya tersebut, mereka semua tak tergantung pada PLN,
tetapi kepada listrik dari kincir air buatan mereka sendiri. Air yang
dimanfaatkan untuk pembangkit listrik adalah sungai alam. Dan
menariknya lagi, rangkaian alat pemabangkit tersebut dibuat dengan
memanfaat barantg bekas.

Pengguna kincir, Sono (69) mengaku sudah memakai kincir sejak delapan
tahun lalu. Biaya pembuatan kincir yang menghasilkan listrik sebesar
500 watt menghabiskan uang sekitar Rp 1,9 juta. Biaya itu untuk
membuat saluran air di sungai, rangkaian dinamo dan peralatan
kabel/lampu.

Sebagian rangkaian menggunakan barang bekas berupa pelek
mobil yang dijadikan baling-baling. ”Jumlah biaya itu dibagi lima
orang karena dimanfaatkan lima KK. Selama pakai kincir tidak menemukan kendala berarti. Repotnya biasanya pada musim penghujan karena bendungan rusak atau saluran air ke baling-baling tertutup kotoran,” jelas dia.

Kepala Dusun Dares, Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Sirun
mengatakan, jumlah KK yang menggunakan kincir di daerah mencapai 100. Mereka mulai membuat kincir tahun 1992 hingga sekarang, meski jaringan PLN sudah masuk. ”Selain tak terbebani tagihan bulanan, juga tak
kecewa karena listrik sering padam,” ujar dia.

Menurut dia, kelemahan listrik kincir ini lebih cepat memutuskan
lampu ataupun merusak alat elektronik. Karena, tegangan listrik sangat
labil. ”Kami belum mampu menstabilkan listrik. Listrik dari kincir
langsung disalurkan ke rumah tanpa alat penstabil. Harapan kami ada
bantuan dari pemerintah untuk mengatasi hal ini,” ungkap dia.

Selain di Gumelem, berdasarkan data di Dinas SDA dan ESDM
Banjarnegara, beberapa warga di Kecamatan Pagedongan, Punggelan,
Kalibening dan Wanayasa juga membuat kincir untuk penerangan rumahnya mengingat kondisi alam sangat mendukung dan tidak terjangkau jaringan PLN. ”Dari pendataan kami ada sekitar 200 kincir. Tiap kincir
kebanyakan dimanfaatkan oleh dua hingga lima KK, tergantung dari
kemampuan peralatan,” kata Kepala Seksi Ketenagalistrikan dan Energi
pada Dinas PSDA dan ESDM Banjarnegara Kun Darmawan. (Ruhito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.