Sungai Sapi, Sumber Nafkah Penambang Pasir

Dengan menggunakan alat sederhana berupa 'kundung' dan sekop, penambang pasir perempuan di Sungai Sapi, di Desa Merden telaten mengumpulkan pasir. (foto : BNC/Ruhito)
Dengan menggunakan alat sederhana berupa ‘kundung’ dan
sekop, penambang pasir perempuan di Sungai Sapi, di Desa Merden
telaten mengumpulkan pasir. (foto : BNC/Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Sungai Sapi yang melintasi sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Banjarnegara bagian Selatan menjadi saksi bisu sebentuk perjuangan manusia mempertahankan hidup. Di sepanjang sungai terbesar kedua di Banjarnegara itu, puluhan wanita
menambang pasir yang tak muda usia lagi memanfaatkan pasir dan batu
koral yang melimpah sebagai sumber nafkah mereka.
Salah satunya adalah Tiyem, warga Dukuh Kunden, Desa Merden,
Kecamatan Purwonegoro. Di usianya yang hampir mendekati 70 tahun tiap
pagi masih bergelut dengan derasnya arus Sungai Sapi untuk menambang
pasir serta batu. Berendam di dalam air untuk mengambil pasir dan
kemudian membawa ke pinggir sungai adalah pekerjaan yang dilakoni
sejak puluhan tahun silam.

Salah satu penambang pasir menenteng satu 'kundung' berisi pasir basah. (foto : BNC/Ruhito)
Salah satu penambang pasir menenteng satu ‘kundung’ berisi
pasir basah. (foto : BNC/Ruhito)

Teriknya sinar matahari seringkali tak mampu membuat badan
panas. Bahkan, ia dan penambang pasir lainnya terlihat menggigil
kedinginan. Kulit tangan dan kaki terlihat berkerut setelah berendam
di dalam air selama beberapa jam lamanya. Namun tidak lama kemudian,
setelah meletakan pasir di tepi sungai mereka kembali ke mengambil
pasir lagi. ”Ini pekerjaan saya setelah ditinggal suaminya,” ujar
dia.
Sejak suaminya meninggal ia tak ingin menambah repot anak
ragilnya yang kini tinggal serumah. Karena itu, ia yang tak lulus SD
rela melakukan penambang pasir bersama perempuan lain agar dapat memenuhi kebutuhan sendiri. ”Lumayan tiap pagi bisa mengumpulkan setengah meter kubik. Tiap satu kubiknya laku Rp 20 ribu,” ungkap dia.
Dalam menekuni sebagai penambang pasir mereka tidak pernah
mengalami ‘masa panen’. Pasalnya, baik di musim banjir yang biasanya
banyak pasir atau tidak hasil mereka tetap sama. ”Jika banjir datang,
yang nambang pasir juga tambah. Malah kami harus bersaing dengan
laki-laki,” kata Rembruk, penambang pasir lain.
Dari pekerjaan itu, para penambang pasir mengaku sering
mengalami sakit tulang, terutama pegal-pegal. Karena selain berendam
di dalam air cukup lama mereka juga harus menenteng ‘kondong’ yang
berisi pasir. ”Satu kondong lebih dari 20 kg. Dan untuk menghilangkan
sakit cukup dengan ‘awu anget’,” ujar dia.
Tudji Hadi Suwito, tokoh masyarakat Dukuh Kunden, Desa Merden
yang juga mantan anggota DPRD Banjarnegara mengatakan, sebagian
masyarakat Kunden menjadi penambang pasir di Sungai Sapi. Saat kemarau seperti sekarang ini kebanyak penambang adalah kaum perempuan. Pada hari-hari biasa hanya kaum perempuan yang berjumlah sekitar 15 sampai 20 orang. Namun paska banjir mencapai 40 orang. ”Kaum laki-laki yang biasanya menjadi buruh bangunan atau buruh tani ikut turun ke sungai. Nanti kalau sudah langka mereka kembali ke pererjaan semula,” ujarnya.

Tiyem, salah seorang penambang pasir perempuan di Sungai Sapi sedang istirahat dengan rekannya. (foto : BNC/Ruhito)
Tiyem, salah seorang penambang pasir perempuan di Sungai
Sapi sedang istirahat dengan rekannya. (foto : BNC/Ruhito)

Dikatakan olehnya, kualitas pasir DAS Sapi lebih bagus
dibandingkan sungai-sungai lain. Saat membangun rumah, warga lebih
memilih memakai pasir Sapi dibandingkan Sungai Serayu meskipun harga
lebih mahal. Pasir Sapi lebih bagus karena bercampur dengan pasir
putih, sedangkan pasir Serayu banyak mengandung lumpur.
”Pasir sini larinya ke bangunan perumahan warga bukan proyek.
Kalau proyek-proyek biasanya ambil Serayu, mungkin harganya lebih
murah dan lebih halus,” katanya. (Ruhito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.