Petani Kentang Batur Lirik Budidaya Bunga Kalalili

Salah seorang petani bunga Kalalili di Desa Batur sedang merawat bunga di pekarangan samping rumah. (foto : BNC/ Ruhito)
Salah seorang petani bunga Kalalili
di Desa Batur sedang merawat bunga di pekarangan samping rumah. (foto : BNC/
Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com) – Meskipun prospek budidaya bunga Kalalili cukup menjanjikan namun belum bisa dikembangkan secara optimal oleh petani di wilayah Kecamatan Batur, Banjarnegara. Selain karena terkendala pengadaan bibit, mereka juga belum menguasai pemasaran bunga yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi.

Salah seorang petani Kalalili, Faizin mengakui, belum begitu
berani untuk membudidayakan jenis bunga ini layaknya tanaman kentang
walapun memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Mereka masih
mempelajari pangsa pasar. ”Kebanyakan warga masih sebatas
memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong. Kami belum tahu seluk-beluk  pemasarannya. Biasanya pembeli yang datang ke sini,” Faizin.

Petani Kalalili lain, Jasim mengatakan, harga bibit bunga cukup
mahal. Untuk satu umbi yang didatangkan dari Bogor berkisar antara Rp
20 ribu sampai Rp 15. ribu. ”Tergantung dari besar kecil umbinya,”
ujar dia.

Namun demikian, prospek dan keuntungan menanam bunga sangat
menguntungkan mengingat harga jualnya yang tinggi. Satu batang bunga
Kalalili ukuran 70 – 90 centimeter senilai Rp 9.000 hingga Rp 11.000,
berbeda jauh dengan harga kentang saat ini cenderung  menurun
seiring masuknya kentang dari luar. ”Dan yang penting lagi perawatan
mudah, tidak perlu obat-obatan segala macam, paling pupuk kandang.
Hama yang saat ini hanya bila dicuri orang,” ujarnya.

Para petani berharap pemerintah dapat membantu terhadap peluang
pasar Kalalili. Apalagi, selain harga menjanjikan, tanaman Kalalili
memiliki keunggulan dibandingkan kentang yakni bisa menahan erosi
tanah. (Ruhito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.