Warga Bitingan Manfaatkan Energi Panas Bumi untuk Memasak

 

Wabub Banjarnegara, Hadi Supeno tengah berbincang dengan warga Bitingan mengenai potensi yang ada di desa tersebut. (foto : BNC/Ruhito)
Wabub Banjarnegara, Hadi Supeno tengah berbincang
dengan warga Bitingan mengenai potensi yang ada di desa tersebut.
(foto : BNC/Ruhito)

BANJARNEGARA (BanyumasNews.Com)  – Sejumlah warga di Dusun Bitingan, Desa Kepakisan,
Kecamatan Batur, Banjarnegara memanfaatkan energi panas bumi
(geothermal) untuk keperluan rumah tangga. Sehingga mereka bisa mandi
air hangat setiap waktu tanpa memasak dengan kompor ataupun kayu
bakar.
Dusun Bitingan sendiri berada sekitar tujuh kilometer dari
jalan raya yang membelah Dusun Pawuhan, tidak jauh dari kantor pusat
PT Geo Dipa Energy (GDE) unit Dieng yang mengelola panas bumi menjadi
energi listrik. Bila GDE merubah panas bumi menjadi listrik, maka
masyarakat dusun Bitingan mempunyai cara berbeda dalam memanfaatkan
panas bumi.
Kepala Dusun (Kadus) Bitingan, Suryanto mengatakan,
pemanfaatan panas bumi untuk memanaskan air kali pertama digagas oleh
H Warto. Kreativitasnya muncul setelah sering mendengar keluhan warga
yang tidak bisa memanfaatkan sebuah sumber mata air yang suhunya
sangat panas. Suhu mata air yang berada tidak jauh dari pemukiman
mencapai 690 derajat celcius sehingga tak bisa digunakan untuk mandi.
Padahal, setiap kali mandi masyarakat selalu dengan air hangat
mengingat udaranya sangat dingin. Dengan suhu air mencapai 69O derajat
tubuh manusia tidak kuat dengan suhu setinggi itu. Karena itu, air
yang sangat panas ini hanya digunakan untuk memaskan air saja. Karena
kalau menggunakan air ini warga juga kuatir mengandung zat
berbahaya,” ungkap dia.
Caranya sederhana yaitu merendam sejumlah pipa spiral yang
terbuat dari besi pada sumber mata air panas. Pipa ini kemudian
dialiri air dingin yang akan digunakan untuk mandi. Air ini diambil
dari mata air di Gunung Si Pandu, yang lokasi lebih tinggi.
”Air untuk keperluan rumah tangga diambil dari mata air dari
Gunung Si Pandu sebelum masuk rumah melalui pipa-pipa pemanas yang
ditaruh di aliran sumber air panas, baru kemudian air masuk ke rumah.
Ukuran panjang pipa tidak ditentukan, namun pada umumnya mengikuti
panjang pipa sesuai yang ada di pasaran, misalnya 6 m. Makin panjang
pipa maka makin panas suhu air,” jelas dia.
Saat ini, dari 97 kepala keluarga (KK) penduduk Dusun
Bitingan, sekitar 50 persenya sudah memanfaatkan pemanasan air yang
bersumber panas bumi. Kadus Suryanto sendiri kini tengah mengupayakan
pengembangan teknologi ini agar seluruh rumah dapat diairi. ”Pada
tahap awal akan dibangun terlebih dahulu bak penampung air yang berada
di ketinggian tertentu sehingga memungkinkan semua rumah dapat
terairi,” ungkap dia.
Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno saat berkunjung ke
dusun tersebut mengaku sangat mendukung upaya pengembangan pemanfaatan
panas bumi untuk memanaskan air. Jika seluruh dusun dapat diairi oleh
air panas buatan dengan menggunakan teknologi sederhana ini tentu
dapat menjadi daya tarik wisatawan. Apalagi, Dusun Bitingan masih
berada di kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng.
”Wisatawan akan menjalani pengalaman tak terlupakan, bermalam
di rumah penduduk di dusun Bitingan dengan eksotisme suhu dinginya,
mengenal budaya setempat, dan mandi dengan air panas alami,” katanya.
Untuk mewujudkan ini, lanjut Hadi Supeno, pihaknya akan
mengupayakan perbaikan infrastruktur jalan menuju Bitingan. Karena
kondisi jalan sepanjang tujuh kilometer dari Pawuhan ke Bitingan rusak
parah. Selain itu, lanjut dia, juga harus dicari alternatif membuka
wilayah kawasan wisata Dieng dengan Kabupaten Batang. Hal ini
mengingat Batang merupakan pintu masuk dari wilayah pantura sehingga
akan membantu membuka kawasan wisata Dieng. (ito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.