Lubang di Jalan Protokol Ganggu Pengguna Jalan

lobang di jalan jenderal SoedirmanPURBALINGGA (BanyumasNews.Com)  – Bocah laki-laki itu sigap bermanuver dengan sepeda motornya. Sebuah lubang berukuran ubin keramik di Jalan Ahmad Yani berhasil dihindari. Tak urung wajahnya sempat pucat.

“Tadi saya jalan di belakang angkot (angkutan kota). Saya tidak melihat kondisi jalan di depan saya. Tahu-tahu ada lobang yang dalam. Untung saya sempat menghindar,” tutur Farid, bocah laki-laki itu dengan nafas tersengal.

Terdapat belasan lobang menganga di sepanjang jalan Ahmad Yani. Lobang jalan tentu juga berserakan di jalan-jalan protokol lainya di Purbalingga. Kebanyakan berukuran kecil, seukuran ubin keramik. Beberapa diantaranya relatif dalam. Lobang-lobang menganga itu sudah lama menjadi semacam ‘ranjau’ bagi pengguna jalan, terutama sepeda motor. Apalagi yang baru pernah melintas di jalan itu.

Kendaraan oleng dan nyaris terguling sering terjadi. Terutama pada pagi hari ketika ribuan siswa dan pekerja melintasi jalan-jalan protokol di Purbalingga. Padatnya kendaraan roda dua dan roda empat yang berjubel membuat pengendara sulit menghindari ‘ranjau-ranjau’ tersebut. Pada malam hari, lobang-lobang jalan itu juga kerap memakan korban. tidak sedikit pengendara sepeda motor yang oleng setelah rodanya menerjang lobang jalan itu hingga nyaris terguling.

Farid, bocah laki-laki itu, beruntung masih sempat menghindar. Tapi Esti tidak. Jumat malam (21/2), ia sempat terkapar di jalan aspal setelah roda depan sepeda motornya terperosok ke sebuah lobang di Jalan Ahmad Yani, tidak jauh dari Taman Makam Pahlawan Purbosaroyo.

“Perempuan itu tidak melihat ada lobang di jalan karena gelap,” tutur Hidayat, warga Kalilabong yang menolong Esti saat terjungkal di ruas jalan itu.

Pada pagi hari ketika ruas jalan itu sangat padat oleh kendaraan, bermanuver jelas sangat berbahaya. Tapi, menerjang lobang jalan juga beresiko oleng atau bahkan terguling. Apalagi, sikap disiplin penggguna jalan yang rendah, misalnya dengan memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi kendati jalan sangat ramai.

“Benturan antar kendaran di jalan itu juga kerap terjadi karena pengendara berusaha menghindari lobang jalan. Seperti yang dialami Haryono, warga Pemalang. Ia membanting setang motornya ke kiri dan menyerempet kendaraan lainnya,” ujar Hidayat.

Sejauh ini, lanjut Hidayat, baru sekadar benturan antar kendaraan karena berusaha menghindari lobang jalan. Belum ada korban jiwa di ruas jalan itu.

“Tapi, apa harus nunggu ada orang mati dulu baru menambal lobang jalan itu? Saya heran, pemerintah seperti tidak ada perhatian sama sekali,” ujarnya.

Warga Jalan Ahmad Yani lainnya, Tri Heri mengungkapkan, menurut perhitungannya, hanya dibutuhkan tiga empat ember adonan batu pasir dan semen untuk menambal lobang-lobang itu. Artinya, untuk menambal belasan lobang-lobang itu, tidak membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Saya tahu ada mekanisme penggunaan anggaran untuk proyek apapun. Tapi apa pemerintah tidak punya dana pemeliharaan sama sekali?. Apa untuk menambal lobang itu harus nunggu lelang?. Bagaimana kalo nanti apa besok ada orang tewas karena terguling di jalan ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purbalingga, Ir Sigit Subroto MT yang dihubungi mengaku, pihaknya sudah melakukan pemeliharaan di ruas jalan kabupaten. Untuk pemeliharaan jalan Ahmad Yani, Sigit melemparnya ke Dinas Bina Marga Propinsi Jateng.

“Jalan Ahmad Yani itu jalan propinsi. Memang jalan itu banyak berlobang. Saya juga sudah mengusulkan perbaikan jalan raya Purbalingga-Pemalang,” tutur Sigit.

Kepala Dinas Bina Marga Propinsi Jateng di Purbalingga, Pangudi yang dihubungi melalui ponselnya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut Pangudi, pihaknya hanya menangani jalan nasional yang berada di wilayah Banyumas. Untuk peningkatan dan pemeliharaan jalan propinsi, sepenuhnya menjadi kewenangan Balai Pelaksana Tekniks Bina Marga Wilayah Cilacap.

Sejauh ini saya hanya bisa melaporkan ke BPT Bina Marga Cilacap. Karena kewenangannya di Cilacap,” ujarnya.

Walhasil, prosedur birokrasi itu membuat penanganan jalan berlobang menjadi terhambat. Bahkan untuk sekadar tindakan darurat, seperti menambal dengan adonan pasir batu dan semen pun, tidak bisa dilakukan. (BNC)

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.