Perajin Tenong, Bertahan di Tengah Himpitan Produk Pabrikan

WAJAH Samudi (50), perajin anyaman bambu di Dukuh Petenongan, Dusun Rawawaungu, Desa Merden, Kecamatan Purwonegoro, Banjarnegara  terlihat serius kerja. Tangannya terus sibuk menganyam bambu untuk dibentuk menjadi tenong. Meski hasil kerajinannya kian terdesak oleh produk pabrikan, ia bersama sekitar 10 kepela keluarga (KK) di dukuh tersebut tetap optimis.

TENONG  : Salah seorang perajin anyaman bambu tenong dengan melakukan finishing. (foto Ruhito)
TENONG : Salah seorang perajin anyaman
bambu tenong dengan melakukan finishing. (foto Ruhito)
Tenong merupakan salah satu kerajinan anyaman bambu berbentuk bulat yang biasa digunakan untuk membawa makanan selamatan/hajatan hingga penjualan makanan keliling. Namun seiring perubahan jaman yang menuntut kepraktisan, tenong tergantikan dengan barang yang terbuat dari plastik.
 ”Meski yang butuh tenong kami tetap akan mempertahan pekerjaan ini.Setidaknya, kami bisa menjual sekitar 50 buah dalam sebulan. Tiap unit dijual Rp 20 hingga Rp 25 ribu,” ungkap Samudi.
Para perajin anyaman bambu tenong di dukuh Petenongan hanya
mengandalkan modal sendiri yang tidak begitu besar. Selain dari modal sendiri, mereka sering diberi uang muka (DP) oleh pembeli untuk membeli bahan baku bambu. Tidak berkembang, karena para perajin membutuhkan bantuan suntikan modal dan pemasaran.
”Biasanya kami diberi modal oleh pengepul untuk beli bahan baku dan biaya lainnya.Hasilnya (tenong-red) nanti saya jual ke mereka,” ungkap Samudi.
Untuk menghasilkan karya-karya yang sebenarnya memiliki keunikan dan daya tarik tersebut, ungkap dia, butuh ketekunan dan ketelitian. Bahan-bahannya pun harus dipilih.
Kepala Dusun (Kadus) Rawawungu, Desa Merden, Purwonegoro Sajangah,dukuh Petenongan sendiri selama ini dikenal sebagai sentra home industry usaha kerajinan anyaman bambu berupa tenong. Hingga kini mereka tetap bertahan membuat tenong meski warga yang lain membuat keranjang pindang. Untuk bisa bertahan, mereka sebenarnya butuh inovasi produk untuk memperluas pangsa pasar, teruama pasar kalanganmenangah keatas. Hanya saja karena terkendala pengetahuan hal itu
belum bisa dilakukan. (Ruhito)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.