Kemerosotan Moral Generasi Muda Bertahap dan Pasti

Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jateng Prof DR Ir Slamet Budi Prayitno melantik Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto sebagai Kamabicab periode antar waktu 2010 – 2015. Pelantikan di pendopo Dipokusumo Pemkab Purbalingga.
Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jateng Prof DR Ir Slamet Budi Prayitno melantik Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto sebagai Kamabicab periode antar waktu 2010 – 2015. Pelantikan di pendopo Dipokusumo Pemkab Purbalingga.

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jateng Prof DR Ir Slamet Budi Prayitno mengkhawatirkan dekadensi (kemerosotan) generasi muda berjalan bertahap dan pasti. Kekhawatiran kemerosotan moral itu dirasakan juga oleh para orang tua di rumah, sementara guru di sekolah cenderung mendidik anak lebih pada sisi penguasaan ilmu pengetahuan.

“Generasi muda semestinya tidak hanya dijejali dengan hard skill saja, tetapi juga soft skill. Generasi muda harus diajari kedisiplinan, kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik dengan sesama. Pengalaman telah membuktikan, ketika seseorang bekerja di kantoran atau di pabrik, pendidikan yang diperoleh terkadang tidak ada gunanya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan ketrampilan, kerjasama dan disiplin. Untuk membangun sikap ini, gerakan pramuka sangat dibutuhkan untuk mendidik generasi muda,” kata Budi Prayitno, Selasa (18/2).

Budi Prayitno mengungkapkan hal tersebut saat melantik Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto sebagai ketua majelis pembimbing cabang (Mabicab) periode antar waktu 2010 – 2015 di Pendopo Dipokusumo kompleks Pemkab Purbalingga. Selain Sukento juga dilantik Majelis Pembimbing Harian masing-masing Tasdi SH, MM (ketua DPRD), Sumartini SH (Kajari Purbalingga), Hartoyo (Angoota DPRD), dan Imam Subijakto (Sekda Purbalingga).

Dikatakan Budi Prayitno, sesuai dengan Undang-undang 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka, peran dan tugas gerakan pramuka tugasnya cukup berat  dalam upaya membangun karakter bangsa. Tugas ini perlu mendapat dukungan semua pihak terutama majelis pembimbing cabang. “Tugas Mabicab harus mampu memberikan bimbingan moral, keorganisasian dan memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan kepramukaan,” pinta Budi Prayitno.

Sejalan dengan revitalisasi gerakan pramuka, lanjut Budi Prayitno, peningkatan kualitas anggota deasa yang mencakup instruktur, Pembina dan pelatih pramuka sangat dibutuhkan. Peningkatan kualitas ini untuk mengembalikan kejayaan gugus depan (gudep) di garis terdepan sebagai basis pendidikan kepramukaan. “Gugus depan jangan hanya sebagai papan nama di pangkalan atau sekolah. Gugus depan berbasis sekolah tetap dipertahankan dan ditingkatkan mutunya. Sedang gugus depan berbasis komunitas harus dikembangkan karena masih banyak kaum muda yang dapat dibina melalui jalur non sekolah,” kata Budi Prayitno.

Budi Prayitno menambahkan, standarisasi gugus depan akan menjadi prioritas di waktu kedepan. Gugus depan harus terakreditasi, maka menjadi penting untuk memenuhi sarana gugus depan yang optimal. Begitu pula proses latihan yang dilakukan oleh Pembina pramuka juga harus terstandar, dan output yang dihasilkan berupa peserta didik pramuka yang dapat diukur secara kuantitatif. “Gerakan pramuka tanpa gugus depan yang bermutu dan terstandar tidak akan menunjukkan eksistensinya,” tambah Budi Prayitno.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Mabicab Sukento Rido Marhaendrianto mengungkapkan, gerakan pramuka selain mengajarlan generasi muda untuk berempati dengan sesamanya, juga melatih jiwa entrepreneurship, jiwa yang saling menghargai, yang selalu bekerjasama, jujur, tulus, ikhlas, bertangungjawab. “Gerakan pramuka juga dapat melatih disiplin, konsisten dan menciptakan pikiran, perkataan dan perbuatan yang mulia” kata Sukento. (BNC/tgr)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.