Batik Limbasari Jadi Komoditas Unggulan

Perajin menujukkan berbagai motif batik asal Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga. Kerajinan ini akan dijadikan komoditas unggulan. (BNC/tgr)
Perajin menujukkan berbagai motif batik asal Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga. Kerajinan ini akan dijadikan komoditas unggulan. (BNC/tgr)

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Pemkab Purbalingga melakukan berbagai terobosan untuk menjadikan Batik tulis khas Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari menjadi komoditas unggulan.  Sekretaris Desa (Sekdes) Limbasari, Edi Prasodjo mengatakan pihaknya mulai  mengembangkan potensi yang dimiliki. Kesungguhan desa dalam mengembangkan potensi yang ada telah ditunjukan dengan terbentuknya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Patrawisa yang diketuai Edi Prasodjo.

“Bersama pemuda dan elemen masyarakat Limbasari, kami bertekad untuk memajukan Limbasari melalui pengembangan sektor ekonomi. Salah satunya melalui batik khas Limbasari,” katanya, kemarin.

Menurutnya di desanya terdapat sekitar 400 warga yang menekuni pembuatan batik. Saat ini pemasaran batik Limbasari sudah cukup bagus.  Bahkan telah dipasarkan  hingga ke luar Pulau Jawa, seperti Kalimantan. Termasuk ke Malaysia.

Dia menjelaskan, meski belum secara resmi diekspor ke Malaysia, batik Limbasari sudah mulai dipasarkan di negeri jiran lewat bantuan seorang pengusaha asal Jakarta, yang secara rutin membeli batik Limbasari untuk dipasaran ke luar negeri, termasuk Malaysia. “Setiap bulan pasti ada pesanan untuk dijual ke Malaysia,” tandasnya.

Hal tersebut menurutnya cukup membanggakan, karena batik Limbasari sebelumnya kalah populer dengan batik-batik lainnya, seperti batik Solo dan Pekalongan, yang terlebih dahulu eksis di pasar nasional maupun internasional. Jumlah pengrajin batik ini juga masih sedikit. “Pengrajinnya bisa dihitung dengan jari,” ungkapnya.

Batik Limbasari  banyak dicari oleh pembeli, karena dinilai memiliki keunikan dibandingkanbatik lainnya, yang ada. “Batik Limbasari sendiri merupakan warusan nenek moyang yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu,” tambahnya.

Ditambahkan olehnya, untuk pasar lokal di Purbalingga, batik Limbasari menurutnya cukup disukai oleh pembeli. Hal tersebut, dengan banyaknya pesanan batik Limbasari yang masuk kepada pengrajin, termasuk dari instansi pemerintah. “Batik Limbasari juga sudah digunakan menjadi seragam resmi di lingkungan Pemkab Purbalingga,” imbuhnya.

Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendriyanto mengatakan pemkab akan memfasilitasi agar pengrajin batik Limbasari bisa terus eksis. Caranya dengan mengikutsertakan dalam berbagai event termasuk pameran. “Saya mendapatkan informasi batik Limbasari di Jakarta sudah laku keras. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah,’ ujarnya bangga. (BNC/tgr)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.