Boediono disuguhi wayang Samiaji

boediono Komunitas Lima Gunung yang terdiri atas kalangan seniman petani Magelang memberikan suguhan kepada Calon Wakil Presiden, Boediono, berupa pementasan wayang orang berdurasi relatif pendek dengan lakon “Samiaji”, saat singgah di Studio Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (14/6)

“Lakon itu mengisahkan tokoh Yudistira yang berkarakter `legowo`, tetapi kalau memang dibutuhkan bisa `Triwikarma`, menunjukan kekuatan fisiknya yang tanpa tandingan,” kata Sitras Anjilin, pimpinan Padepokan Seni Budaya “Tjipto Boedojo” lereng Gunung Merapi, Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, di Magelang, Minggu.

Komunitas Lima Gunung terdiri atas kalangan seniman petani dari lima gunung yang mengelilingi Magelang yakni Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Boediono dalam rangkaian kampanyenya, Minggu (14/6) singgah di Studio Mendut yang dikelola seniman Sutanto Mendut, sekitar tiga kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Boediono datang untukĀ  menyaksikan pentas berbagai kesenian rakyat.

Lakon “Samiaji” bertutur tentang provokasi para raksasa terhadap Yudistira (Surawan) yang sedang bertapa. Yudistira kemudian berubah wajah menjadi raksasa berbaju putih, melakukan perlawanan dan memenangi peperangan melawan para raksasa itu.

“Yudistira yang kemudian berubah ke wujud aslinya kemudian memimpin para raksasa itu ke jalan kebaikan,” kata Sitras.

Boediono bersama rombongan antara lain budayawan Gunawan Muhammad, penyair Ayu Utami, pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) “Rakyat Miskin Kota”, Wardah Hafidz, kerabat Keraton Yogyakarta, Prabukusumo, politisi, Eros Jarot, Roy BB Janis dan Amelia Yani, dan pimpinan Tim Kampanye SBY-Boediono, Rizal Malarangeng, terlihat secara seksama menyaksikan pementasan itu.

Tampak hadir dalam pergelaran seni budaya itu antara lain Budayawan Borobudur, Ariswara Sutomo, Ketua “Akademi Magelang”, Soetrisman, Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur, Pujo Suwarno, kalangan seniman, penikmat seni, dan budayawan setempat lainnya.

Pada kesempatan itu Sutanto memberikan kenangan berupa lukisan kaca tentang tokoh Yudistira atau juga disebut sebagai Samiaji dan buku berjudul “Budaya Lima Gunung Belum Terpengaruh Trias Politika” kepada Boediono.

Boediono menyerahkan kenangan kepada Sutanto buku berjudul “Ekonomi Indonesia Mau Ke Mana? Kumpulan Esai Ekonomi” yang ditulis oleh pasangan Calon Presiden Susilo Bambang Yudoyono itu.

Pementasan oleh sekitar lima ratus seniman petani lima gunung selama sekitar dua jam itu berlangsung di panggung alam Studio Mendut yang dihias dengan berbagai properti antara lain gantungan puluhan boneka dari jerami, enam rangkaian bambu berbentuk segitiga, puluhan karya patung batu dari berbagai ukuran, taburan bunga mawar, dan properti “ondho kencono” yang berupa tangga dari tebu dengan tatanan sejumlah pisang sebagai anak tangga.

Berbagai pementasan yang ditonton warga dari berbagai tempat itu antara lain kolaborasi antara seni musik kontemporer bertajuk “Truntung Semesta”, performa seni oleh para murid Sekolah Gunung, sekolah alternatif yang dikelola Komunitas Lima Gunung, dan tarian “bedoyo”.

Selain itu, tarian “Geculan Bocah” berkolaborasi dengan “Rodat Putri”, “Grasak”, “Soreng”, “Kuda Lumping”, dan “Topeng Ireng”.

“Pertemuan ini bukan yang direncanakan dan bukan hal rumit diadakan, tidak ada latihan,” kata Sutanto.

Suasana terkesan meriah dengan berbagai tabuhan alat musik tradisional pengiring pementasan itu yang berpadu dengan tabuhan kentongan serta tiupan terompet dari para penonton.

Sutanto yang juga pimpinan utama Komunitas Lima Gunung Magelang itu menyebut bahwa tempat yang berupa panggung alami Studio Mendut dan berbagai pementasan kesenian rakyat itu sebagai ruang pendidikan kultural.

“Ini bukan ruang politik, ekonomi, religius, tetapi ruang pendidikan teman-teman gunung, ruang pendidikan kesenian gunung. Sebagai ruang pendidikan, tiga-tiganya (Tiga pasangan kandidat pilpres,red) perlu dididik. Politik itu di bawah kebudayaan, ekonomi di bawah kebudayaan, tahajud itu ada kulturalnya,” katanya.

Boediono menyatakan gembira menikmati suguhan kesenian rakyat dari kawasan lima gunung Magelang yang selama ini dilestarikan dan dikembangkan oleh petani setempat.

Pergelaran itu, katanya, semakin membuka secara luas sisi budayanya.

“Saya biasanya mengurus uang, mengurus anggaran, tetapi ini benar-benar membuka sisi budaya saya yang lebih luas lagi,” katanya.

Boediono kemudian melanjutkan perjalanan kampanye ke Kabupaten Temanggung untuk bertemu dengan petani di Desa Sri Wungu, Kecamatan Tlogomulyo dan berziarah ke Makam Pahlawan Nasional Tjipto Mangunkusumo, di Ambarawa, Kabupaten Semarang. (antara)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.