‘Aktifitas Publik’ warga kota Purwokerto bergeser ke GOR Satria

Mengamati transformasi alun-alun

Bagaimana suasana hari Minggu pagi kota Purwokerto? Dimana pusat keramaian warga di hari libur rutin seminggu sekali ini? Apa aktifitas yang menonjol di pagi hari? Jalan sehat? Senam pagi? Mari kita coba jalan-jalan…

Berbekal kamera HP menjepret keramaian yang ada di pagi yang agak mendung (Ahad, 27/07). Ternyata keramaian Minggu pagi tidaklah di alun-alun kota tapi di komplek GOR Satria di Jl. Prof. Dr. Soeharso. Di komplek yang menyatu dengan stadion sepakbola Satria ini, setiap minggu pagi dipastikan ramai oleh sebagain warga kota dengan ragam aktifitas. Ini agak kontras dengan suasana alun-alun di Minggu pagi. Adanya papan pengumuman ‘dilarang bermain bola di atas rumput alun-alun’ rupanya membuat anak-anak dan remaja enggan bermain di situ.

dari balon sampai gorengan... ada di GOR di minggu pagi balon dan pecel, ada di GOR

Kalau Sabtu malam, alun-alun Purwokerto memang ramai. Banyak bapak ibu menghabiskan malam minggu beberapa jam di situ, sekedar duduk-duduk di atas rumput sambil ‘momong’ anak mereka berlarian dan bermain. Ada videotron di ujung tenggara alun-alun, walau kelihatan jarang diperhatikan / ditonton dengan seksama.

'pasar tumpah' kompleks GOR Satria Purwokerto ‘pasar tumpah’ di GOR

Di Minggu pagi, GOR lebih ramai. Ada yang memang berniat jogging, mengelilingi stadion. Ada yang sekedar jalan-jalan, dan yang tak kalah banyak adalah mereka yang menikmati kuliner. Memang di GOR Satria banyak pedagang makanan, mainan anak, pernik-pernik asesoris, sampai pakaian. Bahkan di Ahad kemarin ada penjual kerajinan kulit berupa wayang kulit dan kaligrafi Arab di atas kulit. Pedagang ini tidak hanya ada di dalam komplek, tapi meluber ke jalan raya… jadilah berdesak-desakan antara mereka yang mau jogging dengan yang sekedar mau jalan-jalan ‘cuci mata’ di pagi hari..

aneka sack dan gorengan... laris manispenjual gorengan dan panganan/jajanan, laris manis

kompleks GOR minggu pagi... jadi 'pasar senggol' GOR pagi… berkumpulnya warga kota

ada juga yang jual kerajinan kulit... wayang kulit dan kaligrafi wayang pun dipajang…

Makanan yang khas tentunya pecel. Sayuran hijau diguyur bumbu kacang, boleh pakai nasi atau kupat, terus jangan lupa mendoan-nya juga diguyur sambal kacang… mmm maknyus… Ada pula penjual bubur ayam, lontong opor, dan ‘kraca’ – keong sawah yang digulai, dan banyak lagi.

pedagang pecel yang sibuk... dan 'augh' masih ngantuk ning melu mlaku-2 penjual pecel, sibuk melayani pembeli

Jl. Prof. Dr. Soeharso minggu pagi... ramai

Jl. Prof Dr Soeharso depan GOR minggu pagi….

Tempat aktifitas bergeser

Yang menarik diamati, kegiatan public sudah beberapa tahun ini beralih dari alun-alun kota ke GOR Satria. Bahkan kegiatan jalan sehat yang diadakan perusahaan, perbankan, atau ormas pun start dan finish bertempat di GOR ini. Juga kegiatan contest music seperti bank-band dari ibu kota. Acara pergantian tahun pun paling ramai di GOR Satria ini. Ada pula bursa mobil bekas setiap Sabtu pagi.

dulu aktifitas ini serin di alun-2 dulu aktifitas seperti ini sering di alun-alun…

GOR SKJ kini aktifitas publik pindah ke GOR, salah satunya SKJ di GOR..

Tentu banyak alasan dan pertimbangan Pemkab mengalihkan kegiatan masyarakat ke GOR. Dari alasan menjaga rumput alun-2 supaya tetap baik, sampai alasan memecah konsentrasi keramaian menghindari kemacetan. Namun ternyata pemanfaatan alun-alun di masing-masing kabupaten di Barlingmascakeb ini agak berbeda-beda. Di Purwokerto pedagang kaki lima sama sekali tidak boleh berjualan di alun-alun, demikian pula di Cilacap. Namun di Purbalingga dan Banjarnegara masih diperbolehkan pada jam tertentu (sore sampai malam). Demikian pula di Kebumen. Tentu Pemkab masing-masing memiliki pertimbangan sendiri.

Aun-alun dalam istilah Bahasa Inggris disebut town square atau city square, urban square, dan beberapa istilah yang mirip seperti town hall, civic center, public square, plaza (dari bahasa Spanyol). Hampir semua kota di dunia memiliki town square. Juga di Indonesia, terutama kota-kota kabupaten di Jawa memiliki alun-alun.

alun-alun di Iran Town square Isfahan, Iran

Pada umumnya Town Square adalah area yang terbuka untuk umum yang berada di jantung tradisional sebuah kota yang digunakan untuk berkumpulnya masyarakat. Kebanyakan difungsikan sebagai ‘pasar terbuka’, arena konser music, kegiatan rapat-rapat umum politik, dan event lain masyarakat yang memerlukan area yang luas. Town square kota-kota besar dunia biasanya dikelilingi oleh toko-toko kecil penjual makanan/roti/keju, penjual daging, dan toko pakaian. Di tengah square terdapat air mancur, monument dan patung tokoh pahlawan.

town square Budapest Hungaria Budapest

Alun-alun Di Indonesia

Town Square di sini tergolong khas, dikenal sebagai alun-alun. Merupakan suatu “Lapangan” lterbuka yang luas dan berumput yang dikelilingi oleh jalan dan dapat digunakan kegiatan masyarakat yang beragam. Menurut Van Romondt (Haryoto, 1986:386), pada dasarnya alun-alun itu merupakan halaman depan rumah, namun dalam ukuran yang lebih besar. Penguasa bisa berarti “Raja”, “Bupati” , wedana dan camat bahkan kepala desa yang memiliki halaman paling luas di depan Istana atau pendopo tempat kediamannya, yang dijadikan sebagai pusat kegiatan masyarakat sehari-hari dalam ikwal pemerintahan militer, perdagangan, kerajinan dan pendidikan. Lebih jauh Thomas Nix (1949:105-114) menjelaskan bahwa alun-alun merupakan lahan terbuka dan terbentuk dengan membuat jarak antara bangunan-bangunan gedung. Jadi dalam hal ini, bangunan gedung merupakan titik awal dan merupakan hal yang utama bagi terbentuknya alun-alun. Tetapi kalau adanya lahan terbuka yang dibiarkan tersisa dan berupa alun-alun, hal demikian bukan merupakan alun-alun yang sebenarnya. Jadi alun-alun bisa di desa, kecamatan, kota maupun pusat kabupaten.

Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat, juga hiburan seperti “rampogan” acara yang menarik dan paling mendebarkan yaitu dilepaskannya seekor harimau yang dikelilingi oleh prajurit bersenjata.

Sejarah Perkembangan Alun-alun

Perkembangan alun-alun sangat tergantung dari evolusi pada budaya masyarakatnya yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain.

Alun-Alun kuno pwt alun-alun Purwokerto tempo doeloe…

Zaman Hindu-Budha, alun-alun telah ada (Buku Negara Kertagama, menyatakan di Trowulan terdapat alun-alun) asal-usulnya ialah dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta ijin kepada “dewi tanah”. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.

Masa kerajaan Mataram, di Alun-alun depan istana secara rutin rakyat Mataram “seba” menghadap Penguasa (lihat Keraton Yogyakarta). Alun-alun pada masa ini sudah berfungsi sebagai pusat administrative dan sosio cultural bagi penduduk pribumi. Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Segi Sosio Kultural dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.

Masa masuknya Islam, bangunan Masjid dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Sholat Idul Fitri. Pada saat ini banyak alun-alun yang digunakan sebagai perluasan dari masjid seperti Alun-alun Kota Bandung.

Pada periode berikutnya kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (penguasa pribumi).

Periode zaman Kemerdekaan, banyak alun-alun yang bertransformasi/berubah bentuk. Faktor pendorong perubahan/pertumbuhan ini macam-macam diantaranya Kebijakan Pemerintah, Aktivitas Masyarakat, Perdagangan dan Pencapaian (Dadang Ahdiat, 1993).

Jadi kalau akifitas public bergeser ke tempat lain mungkin sebagai bagian dari perubahan dan transformasi alun-alun itu sendiri dimana dari jaman ke jaman selalu berubah bentuk dan fungsi. (banyumasnews.com/PHD/ dari berbagai sumber incl. wikipedia)

alun-alun Pwt kini alun-alun Purwokerto kini…

sosialisasi tertib lalin via videotron videotron alun-alun

konser di komplek GOR konser musik di GOR Satria

latihan RR gor latihan RR di GOR… brmmm

GOR SKJ

7 Comments

  1. Kota purwokerto sperti kota metropolitan,karena anak muda-muda’a mulai mngembangkan budaya yg sdah spantasnya dLakukan/dTiru oleh kota-kota lain.aku bangga tnggal diPurwokerto krna diKota Purwokerto selalu memberi warna yg tersendiri.

    Kota Purwokerto semoga menjadi kota yang maju untuk kemajuan masyarakatnya.

  2. Bangga menjadi bagian dari anak Banyumas asli yang merantau di Ibukota, kangen dengan hangatnya mendoan dan dinginnya baturaden..love my PQerto City…Pengennn pulanggg…hahahaha

  3. Sekedar info : sekarang disekitar alun-alun dari Perempatan Palma sampai Pertigaan Sawangan kalau minggu pagi sampai jam 08.00 WIB sudah ada CAR FREE DAY. Biarpun ga seramai di GOR tapi buat yang suka sepedaan lebih enak di sekitar alun-alun (Jl. Jensud), kalau di GOR terlalu sempit buat sepedaan.

  4. Duh jan…ndeleng ramene GOR Satria, dadi pengin alun-alun mbanyumas bisa tiron kaya kuwe….itung2 mbantu ekonomi warga, iya ora pak?

    (Wong Kedunguter-mBanyumas)

  5. Waduuuuhhh… yang ngrancang landscape alun-alun saat ini siapa sih ? Jan ora memperhatikan kenyamanan buat kaum manula dan cacat fisik. Tanggulnya tinggi, tidak ada tangga / akses buat kaum manula / penderita cacat (berkursi roda). Mereka juga berhak menikmati alun-alun lo. Mestinya hal-hal seperti ini sudah terpikirkan oleh para pembuat kebijakan, apa harus merasakan susah payah / cacat dulu ya ? Bangunlah kota yang bersahabat buat siapa saja.

    – Ayo mbangun Banyumas –

  6. semoga akan menjadikan Purwokerto semakin maju dan gairah usaha semakin tinggi, sehingga pengangguran kian berkurang dan tak perlu lagi merantau

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.