Jembatan Sakalibel Bumiayu Pernah Putus, Beruntung Kereta Berpenumpang Tentara Bisa Diselamatkan

Salah satu saka jembatan Sakalibel ambruk, diganti dengan tiang rangka baja (kompasboemi.blogspot.com)

Jembatan Sakalibel atau Jembatan Sakalimalas Bumiayu pernah putus karena salah satu saka (tiang) terterjang banjir pada 8 Maret 1972. Insiden itu menjadi kisah heroik warga Desa Adisana, desa paling dekat dengan jembatan bertiang lima belas atau memiliki saka limalas (disingkat Sakalibel atau sakalimalas).

 

Jembatan yang dibangun oleh Staatspoorwegen (SS) mulai kira-kira tahun 1915 era kolonial Belanda itu, merupakan bagian jalur Prupuk – Kroya yang dioperasikan oleh SS mulai tahun 1916. Konon menjadi jembatan kereta api terpanjang kedua setelah jembatan Cisomang di Jawa Barat.

Jembatan Sakalibel bernomor bangunan hikmat 1153 terletak sekitar satu kilometer di timur Stasiun Bumiayu. Panjang sekitar 298 m membentang di atas Kali Keruh, salah satu sungai tebesar di wilayah Bumiayu.
Kali Keruh di musim hujan menjadi sungai besar dan berarus deras, yang dapat menjadi ancaman bagi jembatan Sakalimalas. Seperti peristiwa robohnya salah satu tiang yang terjadi pada tanggal 8 Maret 1972. Tanggal kejadian tersebut dapat ditelusuri pada prasasti di tembok SD Adisana I (SD Jaya).
Hari itu terjadi hujan yang sangat lebat dengan intensitas cukup lama, sehingga mengakibatkan Kali Keruh banjir. Kali Keruh pun banjir besar. Akibat arus yang deras dan banjir yang cukup lama itu, salah satu saka jembatan Sakalimalas roboh, yang terjadi sekitar pukul tiga sore.
Warga desa Adisana ketika Kali Keruh banjir besar selalu menengok atau menyaksikan banjir tersebut. Robohnya salah satu tiang jembatan Sakalimalas pun tak lama kemudian diketahui oleh warga Adisana. Beberapa perwakilan warga Adisana segera melaporkan ke pihak terkait, yakni ke pihak kepolisian dan Stasiun Bumiayu.
Robohnya tiang jembatan segera diketahui banyak warga. Mereka pun berbondong-bondong warga menuju ke TKP, ingin melihat langsung bagaimana kondisi jembatan Sakalimalas. Tiang itu ambruk dan terpotong menjadi tiga bagian.
Jiwa heroik warga Adisana muncul dan bersiap siaga menghentikan kereta jika ada yang akan melintas. Warga Adisana memenuhi sepanjang rel kereta yang melewati pinggir desa tersebut. Rel kereta dipenuh warga dari mulai sebalah jembatan sampai ujung timur.
Tak berapa lama, dari arah timur muncul kereta api penumpang. Warga pun mulai beraksi mencoba memberikan kode peringatan dan teriakan-teriakan supaya kereta tersebut berhenti, sambil mengacungkan tangan, kain atau benda apa saja yang bisa dikibar-kibarkan.
Syahdan, pada mulanya kereta masih terus berjalan, namun sudah melambat. Masinis rupanya masih belum percaya dengan adanya kejadian tersebut. Masinis baru percaya ketika ada warga yang secara sigap naik ke kereta yang sedang berjalan lambat itu. Ia memberi informasi langsung kepada masinis bahwa tiang jembatan ambruk.
Setelah itu, baru kereta berhenti di desa Adisana sebalah timur, tepatnya di sekitar Dukuh Mingklik Adisana. Masinis kemudian turun dan meninjau langsung jembatan Sakalimalas yang roboh.
Dan… Ternyata gerbong kereta tersebut mengangkut para anggota ABRI (TNI). Jadi kereta yang hendak melintas tersebut membawa tentara, bukan penumpang biasa! Sungguh heroik warga Adisana menyelamatkan para parajurit pembela negara.
Kereta yang membawa rombongan TNI tersebut akhirnya mundur ke stasiun Kretek. Karena jembatan tidak mungkin dilalui kereta api, rombongan tentara dilimpahkan menggunakan bis.
Ilustrasi heroisme warga Adisana menyetop kereta api yang akan melewati jembatan Sakalibel yang putus (kompasboemi.blogspot.com)
Dapat dibayangkan jika kereta tersebut lewat maka akan terjun bebas ke Kali Keruh, berapa banyak nyawa yang akan melayang.
Tidak diketahui mengapa kereta tersebut tetap lewat, padahal warga sudah melaporkan ke pihak stasiun Bumiayu. Mungkin karena jeda peristiwa ambruknya tiang dan lewatnya kereta tersebut cukup singkat. Sehingga tidak ada persiapan dari pihak stasiun, atau karena mungkin peralatan komunikasi perkeretapian terganggu akibat Sakalimalas ambruk. Dan saat itu belum ada HP seperti saat ini.
Akibat jembatan Sakalimalas yang terbelah, maka aktivitas perjalanan kereta api di jalur tengah lumpuh total selama kurang lebih 3 bulan, selama masa pembangunan kembali tiang yang roboh,
Setelah tersiar kabar jembatan Sakalimalas ambruk, tentu dari mulut ke mulut atau siaran radio (RRI) maka masyarakat Bumiayu dan sekitarnya antusias menyaksikan jembatan roboh itu. Pada tahun tersebut hanya beberapa yang mempunyai kamera foto, maka dari itu untuk arsip visual dari kejadian tersebut sangat sulit dicari.
Peristiwa ambruknya jembatan tersebut segera ditindaklanjuti oleh pemerintah, dalam hal ini Kementrian Perhubungan dan PT. Kereta Api Indonesia (PJKA saat itu). Perbaikan salah satu tiang tersebut, memakan waktu cukup lama sekitar tiga bulanan.
Perbaikan salah satu tiang yang ambruk tidak seperti bentuk yang semula tetapi diganti dengan bahan baku rangka baja. Ini dapat dilihat pada struktur jembatan Sakalimalas sekarang.
Namun pemandangan jembatan legendaris tersebut sejak tahun 2012 sudah berbeda. Karena sudah terdapat satu jembatan di sebelahnya, yakni penambahan satu jalur menjadi dua jalur rel (double track).
Selesainya perbaikan jembatan tersebut diresmikan oleh Menteri Perhubungan Frans Seda, bersamaan dengan diresmikannya SD Adisana I (SD Jaya) pada tanggal 16 Juni 1972.
Upacara peresmian berlangsung di halaman SD Adisana I. Peresmian berlangsung meriah dan ramai, terdapat layos dan panggung untuk acara seremonial.
Acara yang meriah itu sebagai wujud terimakasih pemerintah kepada warga Adisana juga rakyat Bumiayu, yang telah “menyelamatkan” perjalanan kereta api. Pembangunan Sekolah Dasar (SD) Adisana yang merupakan sekolah pertama di kelurahan Adisana, memang dianugerahkan kepada warga Adisana.
Dan untuk ukuran tahun itu, sekolah tersebut merupakan sekolah yang secara infrastruktur sudah sangat bagus di wilayah kecamatan Bumiayu.
Dalam pesta peresmian itu, warga Adisana dijamu dengan makan-makanan yang serba enak dan mewah (untuk ukuran pada tahun itu). Untuk acara peresmian itu PJKA sengaja membawa makanan dengan kereta khusus untuk masyarakat Adisana. Dan kereta yang membawa makanan tersebut, berhenti tepat di samping SD Adisana I, bukan di Stasiun Bumiayu. Warga Adisana menikmati jamuan makan yang untuk ukuran tahun itu tergolong mewah dan istimewa.
Warga dapat menikmati makanan dan minuman yang belum pernah dirasakan. Makanan dan minuman kaleng yang istimewa dapat dinikmati gratis oleh warga Adisana. Seperti misalnya minuman berkarbonasi merk Sprite, yang bikin sendawa atau antob, dan minuman tersebut baru dirasakan warga Adisana pada waktu peresmian tersebut.
Prasasti peresmian SD Negeri Adisana I (kompasboemi.blogspot.com)
Itulah peristiwa heroik dari masyarakat Adisana, tentang ambruknya salah satu tiang jembatan Sakalimalas. Dengan kesadaran tinggi dan semangat kebersamaan, warga Adisana berusaha mengentikan laju kereta api yang membawa rombongan tentara. Dan sebagai bentuk apresiasi, pemerintah menganugerahkan Sekolah Dasar (SD).
Selain itu juga dibuat patung sebagai peringatan akan penyelamatan kereta api tersebut. Patung tersebut sebagai bentuk simbolis penyelamatan yang dilakukan warga. Sosok patung tersebut merupakan Pak Tani telanjang dada dengan membawa cangkul di pundaknya. Tangan kanan Pak Tani diangkat ke atas sembari memegang baju dan melambai-lambaikannya, sebagai isyarat untuk menghentikan laju kereta api.
Patung tersebut dulu berada di samping SD Adisana I dan menghadap ke timur. Tetapi patung Pak Tani tersebut sekarang sudah tidak ada, roboh termakan usia.
Cerita tentang robohnya salah satu tiang Sakalimalas, masih dapat didengar dari para orang tua yang tinggal di lingkungan desa Adisana.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.